Kebangkitan (3)

TIDAK, tetapi [kebanyakan di antara] kalian mencintai kehidupan yang berlalu demikian cepat ini, dan tidak memikirkan kehidupan yang akan datang [dan Hari Pengadilan]! (Al-Qiyamah [75]: 20-21)

Pada Hari itu, sebagian wajah akan berseri-seri memancarkan kebahagiaan seraya memandang Pemelihara mereka; dan sebagian wajah pada Hari itu akan muram karena putus asa, (karena) mengetahui bahwa malapetaka yang dahsyat akan segera menimpa mereka. (Al-Qiyamah [75]: 22-25)

Tidak, tetapi ketika [napas terakhir] sudah sampai ke kerongkongan [orang yang sekarat], dan orang-orang bertanya, “Adakah tukang sihir [yang dapat menyelamatkannya]?”—padahal dia [sendiri] mengetahui bahwa ini adalah perpisahan itu, dan terbungkus dalam rasa sakit kematian:—pada saat itu, kepada Pemeliharamulah dia benar-benar merasa terpaksa untuk kembali! (Al-Qiyamah [75]: 26-30)

Pada ayat 27, lit., “Siapakah tukang sihir [atau ‘pemikat hati’]?” Struktur kalimat yang mirip dapat ditemukan dalam surah Al-Qashash [28]: 71 dan 72.

Berikutnya, pada ayat 29, lit., “ketika betis dibungkus betis”—suatu ungkapan idiomatik yang berarti “penderitaan pada tahap eksistensi kini … ditambah dengan penderitaan pada tahap eksistensi terakhir”.  Seperti ditunjukkan oleh Al-Zamakhsyari, nomina saq lit., “tulang kering” sering digunakan secara metafora dalam pengertian “kesulitan”, “penderitaan”, atau “kedahsyatan” (syiddah); inilah asal-usul ungkapan terkenal, qamat al-harb ‘ala saq, “perang itu meletus dengan dahsyat”.    

Pada ayat 30, lit., “kepada Pemeliharamulah pengakuan akan terjadi”, yakni, dengan penyesalan yang terlambat (lihat tiga ayat berikut). Ungkapan pada ayat di atas yang diterjemahkan menjadi “pada saat itu” secara harfiah berbunyi “pada hari itu”; tetapi, istilah yaum sering digunakan secara idiomatik dalam pengertian “saat” terlepas dari berapa lama jangka waktunya.  

[Bagaimanapun jua, tidak bergunalah tobatnya]: karena [sepanjang hidupnya], dia tidak menerima kebenaran, dan tidak pula dia berdoa [memohon pencerahan], tetapi, sebaliknya, dia mendustakan kebenaran dan berpaling [darinya], kemudian dengan angkuh kembali ke tempat asalnya. (Al-Qiyamah [75]: 31-33)

Sisipan pada ayat 31 ini (bagaimanapun jua, tidak bergunalah tobatnya)—yang penting bagi suatu pemahaman yang utuh terhadap rangkaian ayat tersebut—didasarkan pada surah Al-Nisa’ [4]: 17-18, yang memiliki hubungan yang pasti dengan pasase di atas.

Kemudian, pada ayat 33, lit., “kepada kaumnya”: yakni, kepada kepercayaan arogan—yang berurat akar pada materialisme lingkungan sosialnya—yang beranggapan bahwa manusia “serbacukup” dan, karena itu, sama sekali tidak membutuhkan petunjuk Ilahi.

[Namun, wahai manusia, (perjalanan) akhirmu setiap saat] semakin dekat kepadamu, dan semakin dekatdan senantiasa mendekat kepadamu, dan mendekat! (Al-Qiyamah [75]: 34-35)

Demikian terjemahan dan tafsir Muhammad Asad atas surah Al-Qiyamah [75]: 20-35. []

Baca juga: Kebangkitan (2)

Posting Komentar

0 Komentar