TIDAK, tetapi [kebanyakan di antara] kalian mencintai kehidupan yang berlalu demikian cepat ini, dan tidak memikirkan kehidupan yang akan datang [dan Hari Pengadilan]! (Al-Qiyamah [75]: 20-21)
Pada Hari itu, sebagian wajah akan berseri-seri
memancarkan kebahagiaan seraya memandang Pemelihara mereka; dan sebagian wajah
pada Hari itu akan muram karena putus asa, (karena) mengetahui
bahwa malapetaka yang dahsyat akan segera menimpa mereka. (Al-Qiyamah [75]:
22-25)
Tidak, tetapi ketika [napas terakhir] sudah
sampai ke kerongkongan [orang yang sekarat], dan orang-orang
bertanya, “Adakah tukang sihir [yang dapat menyelamatkannya]?”—padahal
dia [sendiri] mengetahui bahwa ini adalah perpisahan itu, dan terbungkus
dalam rasa sakit kematian:—pada saat itu, kepada Pemeliharamulah dia
benar-benar merasa terpaksa untuk kembali! (Al-Qiyamah [75]: 26-30)
Pada ayat 27, lit., “Siapakah tukang sihir [atau ‘pemikat
hati’]?” Struktur kalimat yang mirip dapat ditemukan dalam surah Al-Qashash
[28]: 71 dan 72.
Berikutnya, pada ayat 29, lit., “ketika betis dibungkus
betis”—suatu ungkapan idiomatik yang berarti “penderitaan pada tahap eksistensi
kini … ditambah dengan penderitaan pada tahap eksistensi terakhir”. Seperti ditunjukkan oleh Al-Zamakhsyari,
nomina saq lit., “tulang kering” sering digunakan secara metafora dalam
pengertian “kesulitan”, “penderitaan”, atau “kedahsyatan” (syiddah);
inilah asal-usul ungkapan terkenal, qamat al-harb ‘ala saq, “perang itu meletus
dengan dahsyat”.
Pada ayat 30, lit., “kepada Pemeliharamulah pengakuan akan
terjadi”, yakni, dengan penyesalan yang terlambat (lihat tiga ayat berikut). Ungkapan
pada ayat di atas yang diterjemahkan menjadi “pada saat itu” secara harfiah
berbunyi “pada hari itu”; tetapi, istilah yaum sering digunakan secara idiomatik
dalam pengertian “saat” terlepas dari berapa lama jangka waktunya.
[Bagaimanapun jua, tidak bergunalah tobatnya]: karena
[sepanjang hidupnya], dia tidak menerima kebenaran, dan tidak pula
dia berdoa [memohon pencerahan], tetapi, sebaliknya, dia
mendustakan kebenaran dan berpaling [darinya], kemudian dengan
angkuh kembali ke tempat asalnya. (Al-Qiyamah [75]: 31-33)
Sisipan pada ayat 31 ini (bagaimanapun jua, tidak
bergunalah tobatnya)—yang penting bagi suatu pemahaman yang utuh terhadap
rangkaian ayat tersebut—didasarkan pada surah Al-Nisa’ [4]: 17-18, yang
memiliki hubungan yang pasti dengan pasase di atas.
Kemudian, pada ayat 33, lit., “kepada kaumnya”: yakni,
kepada kepercayaan arogan—yang berurat akar pada materialisme lingkungan
sosialnya—yang beranggapan bahwa manusia “serbacukup” dan, karena itu, sama
sekali tidak membutuhkan petunjuk Ilahi.
[Namun, wahai manusia, (perjalanan) akhirmu
setiap saat] semakin dekat kepadamu, dan semakin dekat—dan senantiasa
mendekat kepadamu, dan mendekat! (Al-Qiyamah [75]: 34-35)
Demikian terjemahan dan tafsir Muhammad Asad atas surah
Al-Qiyamah [75]: 20-35. []

0 Komentar