(29)
Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Saw, “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusir. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan, Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Al-Anfal [8]: 30)
Sesudah menyampaikan wahyu Allah Swt., Jibril berkata kepada
Baginda Saw., “Wahai Rasulullah! Janganlah engkau tidur malam ini di atas
tempat yang engkau biasa tidur di atasnya. Sesungguhnya, Allah menyuruh engkau
supaya berangkat hijrah ke Yatsrib.”
Dinyatakan pula oleh Jibril bahwa dalam perjalanan tersebut,
beliau ditemani oleh sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq.
Bergegaslah kemudian, siang hari dan cuaca panas terik, Nabi
Muhammad Saw. pergi ke rumah Abu Bakar dengan bertutup muka dan kepala.
Sesampai di rumah sang sahabat, yang kebetulan sedang di rumah, terkejutlah Abu
Bakar karena tak biasa melihat sang Baginda datang ke rumahnya atau rumah siapa
pun dengan terburu-buru di waktu siang hari dan terik lagi.
Nabi Muhammad Saw. pun masuk ke rumah Abu Bakar, segera
duduk dan berkata kepada sahabat, “Allah Ta’ala telah mengizinkan aku keluar
dan hijrah (dari Makkah ke Yatsrib).”
“Berkawan dengan saya, Ya Rasulullah?” tukas Abu Bakar.
“Ya, dengan izin Allah.” Jawab beliau.
Sontak Abu Bakar menangis bahagia. “Ya Rasulullah, ambillah
salah satu dari kedua ekor unta saya untuk kendaraan Tuan!” Dan, beliau memilih
unta, yang kelak di kemudian hari dikenal “Al-Qushwa”.
Berikutnya, sang Baginda Nabi kembali ke rumah. Sementara
Abu Bakar berkemas dan memerintahkan Asma dan Aisyah untuk menyediakan dan
mempersiapkan bekal perjalanan jauh.
Abu Bakar juga berpesan kepada Abdullah, putranya, agar
setiap hari mendengarkan komentar orang-orang Quraisy tentang kepergian
Rasulullah Saw, serta setiap petang pergi ke Gua Tsur bersama Asma.
Tidak hanya itu, Abu Bakar meminta pembantunya, Amir bin
Fuhairah, supaya selama di Gua Tsur, ia menggembalakan kambing-kambingnya di
dekat gua, agar air susunya dapat dijadikan minuman Baginda Nabi. Selain itu,
Abu Bakar juga meminta seorang penunjuk jalan, Abdullah bin Uriqith, agar kelak
menunjukkan jalan ke Yatsrib bersama-sama Amir bin Fuhairah.
Saat yang sama, di rumah sang Nabi, Baginda Muhammad Saw.
memanggil sahabat Ali bin Abu Thalib. Sesudah Sayyidina Ali berada di rumah
beliau, sang Baginda berpesan supaya malam hari nanti ia bermalam dan tidur di
tempat tidur beliau. Ia juga mesti berselimut dengan selimut yang biasa dipakai
beliau. Selain itu, sang Baginda juga berpesan supaya barang-barang yang
dititipkan kepada beliau dikembalikan kepada pemiliknya.
Nah, saat matahari terbenam dan kegelapan malam datang
sedikit demi sedikit, sahabat Ali telah ada di rumah Baginda Nabi. Dan
berdatangan pula, serombongan pemuda-pemuda Quraisy dengan bersenjata lengkap
mengepung rumah beliau. Mereka datang diiringi para kepala dan ketua
kabilah-kabilah Quraisy sebanyak seratus orang.
Abu Jahal berteriak menghina Baginda Muhammad, “Muhammad
menyangka, jika kita mengikutinya, kita akan menjadi penguasa-penguasa atas
bangsa Arab. Jika kita sudah mati, kita akan dihidupkan kembali lalu dimasukkan
ke dalam surga. Di sana, kita akan diberi makanan yang enak-enak, Perempuan
yang cantik-cantik, pakaian yang baik-baik, dan segala perhiasan yang
bagus-bagus. Dan, jika kita tidak mengikutinya, kita akan dibunuh, kita akan
dipotong-potong seperti kambing, dan kita akan diperlakukan sebagai budak belian.
Sesudah kita mati, kita akan dibakar dengan api yang panasnya luar biasa dalam
neraka.”
Mendengar itu semua, di dalam rumah Baginda Nabi menyahut,
“Ya, saya berkata demikian, dan kaulah salah seorang di antara mereka, ahli
neraka.”
Saat kemudian, seusai berpesan kepada Ali, sekira Abu Bakar
datang supaya segera menyusul beliau. Lantas, dengan berjalan sangat
perlahan-lahan Baginda Nabi keluar dari rumah. Ketika di luar rumah, Nabi Saw.
mengambil segenggam pasir seraya membaca surah Yasin ayat 1-9, kemudian beliau
taburkan ke atas kepala pemuda-pemuda yang mengepung rumah. Sehingga, berakibat
tak seorang pun dapat mengetahui keluarnya beliau.
Pun ketika Abu Bakar, dengan jalan sembunyi-sembunyi menuju
rumah Nabi, setelah diberitahu Ali, segera menyusul sang Baginda. Dan di Tengah
perjalanan, ia dapat bertemu dengan Nabi, serta berjalanlah mereka menuju Gua
Tsur.
Sedang di rumah Nabi, Ali tidur pulas. Sehingga, para
pengepung pun terkecoh. Beberapa kali mereka mengintai ke dalam rumah, tetapi mereka
mengira bahwa sang Baginda sedang tidur sedemikian nyenyaknya.
Apalagi memang, saat itu berkembang tradisi bahwa hinalah
seorang ksatria membunuh orang lain di dalam rumahnya atau sampai merusak
keamanan seorang Perempuan. Maka, ketika salah seorang di antara mereka mencoba
mengintai dari atas rumah Baginda Muhammad, tetapi saat memanjat, terdengar
suara tangis anak Perempuan. Ia pun buru-buru turun. Ia menyangka salah seorang
putri dari keluarga Nabi terjaga dan menangis.
Walhasil, sampai jauh malam, para pengepung rumah itu
menanti-nanti keluarnya Nabi Saw. sehingga mereka semuanya mengantuk dan
setengahnya ada yang sampai tertidur di atas pasir. Kemudian, kira-kira
perjalanan Baginda Nabi dan Abu Bakar sampai di Gunung Tsur, sekonyong datang
lelaki tua tak dikenal kepada para pengepung.
“Hai, kalian ini nunggu apa?” nyaring laki-laki tua itu.
“Kami sedang menunggu Muhammad.” Jawab mereka serempak.
“Kenapa kalian malah enak-enak tidur, bahkan ada yang pulas?
Kalau kalian menanti Muhammad di sini, ia tidak akan kalian dapati?”
“Bukankah Muhammad masih tidur?” jawab seorang dari mereka.
“Hmmm, kasihan! Muhammad sudah pergi jauh sedari tadi.”
Sontak, salah seorang di antara mereka menggedor-gedor pintu
rumah Nabi, sambil berteriak lantang, “Muhammad! Muhammad! Muhammad!”
Ali bin Abu Thalib pun terbangun, berjalan gontai menuju
pintu rumah dan membukakannya. Dengan lembut, ia bertanya, “Ada apa?”
“Mana Muhammad?” tanya mereka.
“Entah, saya tidak tahu.” Jawab Ali.
“Siapa yang tidur tadi?”
“Sayalah yang tidur,” jawab Ali.
Lalu, mereka mengerubuti Ali dan di antara mereka ada yang
masuk ke dalam rumah. Mereka bertanya, “Ali, mana Muhammad?”
“Saya tidak tahu, karena saya tidur sedari sore.” Kalem Ali.
“Ah, mustahil kalau kamu sampai tidak tahu.”
“Saya berkata terus terang, sungguh saya tidak tahu.” Kukuh
Ali.
“Kalau engkau tidak memberitahu kami, engkau sendiri yang
akan kami bunuh!” ancam mereka sembari menghunus pedang ke muka Ali.
“Sekalipun kalian bunuh, saya tetap berkata tidak tahu,
karena memang saya tidak tahu.”
Pendek kata, berulang-ulang mereka memaksa Ali supaya
mengatakan ke mana Nabi Saw. pergi, dengan teguh Sayyidina Ali tetap menjawab,
“Tidak tahu.”
Kemudian, Ali ditarik dan dibawa ke Ka’bah. Di situ, ia
dihujani tendangan, tempelengan, pukulan, dan tinjuan. Namun, Sayyidina Ali
tetap berkata, “Saya tidak tahu.” Dan, setelah lebih dari satu jam ia dianiaya,
mereka pun melepaskannya tanpa hasil.
Demikian! []

0 Komentar