Mafhumlah, Al-Quran adalah Firman Allah. Bahwa seluruh bagian yang menyusunnya—frasa, kalimat, ayat, dan surah—membentuk keseluruhannya yang integral dan serasi.
Oleh karenanya, jika seseorang benar-benar berniat untuk
memahami pesan Al-Quran, dia harus menghindari “pendekatan yang
terburu-buru”—yaitu, mengambil kesimpulan yang terburu-buru dari ayat-ayat atau kalimat-kalimat yang
tercerabut dari konteksnya—alih-alih, dia seharusnya membiarkan keseluruhan
Al-Quran tersingkapkan ke dalam pikirannya sebelum berusaha menafsirkan salah
satu aspek tertentu dari pesan-pesannya.
Nah, berikut ayat-ayat dalam surah Al-Qiyamah yang
mengetengahkan hal tersebut.
Janganlah engkau tergesa-gesa menggerakkan lidahmu [untuk
mengulangi kata-kata wahyu]: sebab, perhatikanlah, kewajiban Kami-lah
mengumpulkannya [dalam hatimu] dan menjadikannya dibaca [sebagaimana
mestinya ia dibaca]. (Al-Qiyamah [75]: 16-17)
Lit., “Jangan gerakkan lidahmu dengannya sehingga engkau
dapat mempercepatnya”—tidak diragukan lagi, kata ganti bihi (nya)
tersebut merujuk pada kandungan wahyu.
Untuk memahami pasase sisipan ini (ayat 16-19) secara lebih
utuh, kita harus membacanya bersamaan dengan pasase terkait yang terdapat dalam
surah Thaha [20]: 114. Kedua pasase ini pertama-tama ditujukan kepada Nabi yang
konon khawatir bahwa beliau mungkin lupa sebagian kata yang diwahyukan; akan
tetapi, kedua pasase ini juga memiliki makna yang lebih luas, karena keduanya
berlaku bagi setiap Mukmin yang membaca, mendengar, atau mengkaji Al-Quran.
Dalam surah Thaha [20]: 114, kita dilarang menarik
kesimpulan dengan tergesa-gesa—sehingga berpotensi salah—dari ayat-ayat atau
pernyataan-pernyataan Al-Quran yang terpisah-pisah, karena hanya kajian atas
seluruh pesannyalah yang dapat memberikan pemahaman yang benar kepada kita.
Di sisi lain, pasase ini menekankan perlunya mencerna kitab
Ilahi secara perlahan-lahan dan sabar guna mencurahkan seluruh pikiran kita
pada makna setiap kata dan frasanya, dan untuk menghindari bentuk
ketergesa-gesaan yang tidak dapat dibedakan dengan kefasihan-mekanis saja yang,
selanjutnya, menyebabkan orang yang membaca, mengumandangkan, atau
mendengarkannya cukup puas hanya dengan lantunan indah bahasa Al-Quran, tanpa
memahami—atau bahkan memberikan perhatian yang memadai terhadap—pesan-pesannya.
Kemudian, pada ayat 17, dimaksudkan “kewajiban Kami-lah
untuk membuatmu mengingatnya dan menjadikannya dibaca dengan segenap pikiran
dan hati”. Artinya, Al-Quran hanya dapat dipahami jika dibaca dengan penuh
perhatian sebagai suatu kesatuan yang utuh, dan bukan sekadar kumpulan pepatah
moral, kisah-kisah, atau hukum-hukum yang terpisah-pisah.
Karena itu, manakala Kami membacanya, ikutilah susunan
kata-katanya [dengan sepenuh jiwamu]: kemudian, perhatikanlah,
kewajiban Kami-lah menjelaskan maknanya. (Al-Qiyamah [75]: 18-19)
Lit., “ikutilah pembacaannya”, yakni, pesannya yang
diungkapkan dalam kata-kata. Karena Allah-lah yang mewahyukan Al-Quran dan
menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk memahaminya, Dia menisbahkan
“pembacaan”-nya kepada diri-Nya.
Akhirnya, pada ayat 19, jika Al-Quran dibaca “sebagaimana
mestinya ia dibaca”, ia akan menjadi—seperti ditekankan Muhammad Abduh—"tafsir
terbaik terhadap dirinya sendiri”.
Demikian, penjelasan dari Muhammad Asad, sebagaimana
termaktub dalam The Message of the Quran. []

0 Komentar