Kebangkitan (2)

Mafhumlah, Al-Quran adalah Firman Allah. Bahwa seluruh bagian yang menyusunnya—frasa, kalimat, ayat, dan surah—membentuk keseluruhannya yang integral dan serasi.

Oleh karenanya, jika seseorang benar-benar berniat untuk memahami pesan Al-Quran, dia harus menghindari “pendekatan yang terburu-buru”—yaitu, mengambil kesimpulan yang terburu-buru  dari ayat-ayat atau kalimat-kalimat yang tercerabut dari konteksnya—alih-alih, dia seharusnya membiarkan keseluruhan Al-Quran tersingkapkan ke dalam pikirannya sebelum berusaha menafsirkan salah satu aspek tertentu dari pesan-pesannya.

Nah, berikut ayat-ayat dalam surah Al-Qiyamah yang mengetengahkan hal tersebut.

Janganlah engkau tergesa-gesa menggerakkan lidahmu [untuk mengulangi kata-kata wahyu]: sebab, perhatikanlah, kewajiban Kami-lah mengumpulkannya [dalam hatimu] dan menjadikannya dibaca [sebagaimana mestinya ia dibaca]. (Al-Qiyamah [75]: 16-17)

Lit., “Jangan gerakkan lidahmu dengannya sehingga engkau dapat mempercepatnya”—tidak diragukan lagi, kata ganti bihi (nya) tersebut merujuk pada kandungan wahyu.

Untuk memahami pasase sisipan ini (ayat 16-19) secara lebih utuh, kita harus membacanya bersamaan dengan pasase terkait yang terdapat dalam surah Thaha [20]: 114. Kedua pasase ini pertama-tama ditujukan kepada Nabi yang konon khawatir bahwa beliau mungkin lupa sebagian kata yang diwahyukan; akan tetapi, kedua pasase ini juga memiliki makna yang lebih luas, karena keduanya berlaku bagi setiap Mukmin yang membaca, mendengar, atau mengkaji Al-Quran.

Dalam surah Thaha [20]: 114, kita dilarang menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa—sehingga berpotensi salah—dari ayat-ayat atau pernyataan-pernyataan Al-Quran yang terpisah-pisah, karena hanya kajian atas seluruh pesannyalah yang dapat memberikan pemahaman yang benar kepada kita.

Di sisi lain, pasase ini menekankan perlunya mencerna kitab Ilahi secara perlahan-lahan dan sabar guna mencurahkan seluruh pikiran kita pada makna setiap kata dan frasanya, dan untuk menghindari bentuk ketergesa-gesaan yang tidak dapat dibedakan dengan kefasihan-mekanis saja yang, selanjutnya, menyebabkan orang yang membaca, mengumandangkan, atau mendengarkannya cukup puas hanya dengan lantunan indah bahasa Al-Quran, tanpa memahami—atau bahkan memberikan perhatian yang memadai terhadap—pesan-pesannya.

Kemudian, pada ayat 17, dimaksudkan “kewajiban Kami-lah untuk membuatmu mengingatnya dan menjadikannya dibaca dengan segenap pikiran dan hati”. Artinya, Al-Quran hanya dapat dipahami jika dibaca dengan penuh perhatian sebagai suatu kesatuan yang utuh, dan bukan sekadar kumpulan pepatah moral, kisah-kisah, atau hukum-hukum yang terpisah-pisah.    

Karena itu, manakala Kami membacanya, ikutilah susunan kata-katanya [dengan sepenuh jiwamu]: kemudian, perhatikanlah, kewajiban Kami-lah menjelaskan maknanya. (Al-Qiyamah [75]: 18-19)

Lit., “ikutilah pembacaannya”, yakni, pesannya yang diungkapkan dalam kata-kata. Karena Allah-lah yang mewahyukan Al-Quran dan menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk memahaminya, Dia menisbahkan “pembacaan”-nya kepada diri-Nya.

Akhirnya, pada ayat 19, jika Al-Quran dibaca “sebagaimana mestinya ia dibaca”, ia akan menjadi—seperti ditekankan Muhammad Abduh—"tafsir terbaik terhadap dirinya sendiri”.

Demikian, penjelasan dari Muhammad Asad, sebagaimana termaktub dalam The Message of the Quran. []

Baca juga: Kebangkitan (1)

Posting Komentar

0 Komentar