(30)
Setelah Baginda Nabi bertemu dengan Abu Bakar di tengah jalan, lalu mereka berjalan bersama menuju Gunung Tsur. Dalam perjalanan tersebut, Abu Bakar sebentar berjalan di muka Nabi, sebentar di belakang beliau, sebentar lagi di kanan, sebentar pula di kiri sang Baginda. Dan, hal itu berulang-ulang, hingga sang Nabi bertanya, “Ada apa, wahai Abu Bakar? Aku tak mengerti akan perbuatanmu ini.”
“Ya Rasulullah,” jawab Abu Bakar, “saya teringat akan
pengintai yang terus mengincar engkau.”
Patut juga kita ketahui bahwa Gua Tsur itu adalah gua yang
di dalamnya terdapat banyak binatang liar dan buas. Sering pula, ular-ular
berbisa turut bersarang. Dan, ini umum diketahui banyak orang, sehingga tak
seorang pun berani memasukinya.
Dan pada larut malam yang gelap, mereka tiba di Gunung Tsur.
Abu Bakar masuk ke dalam gua terlebih dahulu, sedang Baginda Saw. yang penuh
luka di kaki akibat berjalan dengan kaki telanjang di jalan yang tak biasa,
menunggu di luar.
Abu Bakar memeriksa dan membersihkan bagian dalam gua. Ketika
menyepak batu, tiba-tiba kakinya tergigit seekor ular kecil, tetapi ia diam tak
berteriak supaya Nabi tidak kaget dan khawatir.
Setelah ia selesai bebersih, selesai memindahi batu-batu
yang berserak, ia keluar dan mempersilakan Baginda Nabi masuk. Detik
berikutnya, Rasulullah Saw. tertidur di atas pangkuan Abu Bakar.
Saat Baginda Nabi tertidur pulas, sedangkan gigitan ular
makin terasa sakit, Abu Bakar tak sengaja mencucurkan air mata dan menerpa muka
sang Nabi. Beliau terkejut. Beliau bangun dan bertanya, “Kenapa engkau
menangis, Abu Bakar?”
“Karena gigitan ular, ya Rasulullah.” Jujur Abu Bakar yang
tak kuasa menahan sakit.
“Oh, mengapa engkau tak mengatakannya kepadaku?”
“Saya takut membangunkan engkau.”
Setelah terbit fajar, Nabi memeriksa bengkak di kaki Abu
Bakar, lalu beliau mengusapnya. Seketika juga lenyaplah bengkak itu serta
sakitnya. Kemudian beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah Abu Bakar kelak di hari
kiamat pada derajat (pangkat)-ku!”
Di tempat yang berbeda, setelah para pengepung rumah Baginda
Nabi gagal menunaikan misi, pada hari itu juga kepala-kepala dan ketua-ketua mereka
mengadakan rapat darurat, merundingkan bagaimana cara menangkap Nabi Saw. Bersamaan
itu, pemuda-pemuda yang bersenjata lengkap hendak membunuh beliau tadi, dengan
berkuda mencari-cari di kampung-kampung di segenap penjuru kota Makkah,
berharap dapat menangkap sang Nabi.
Keputusan rapat darurat itu, secepat mungkin memanggil seorang
ahli pencari jejak. Lalu mengutusnya untuk mengikuti dan menjejaki bekas tapak
kaki manusia yang berjalan di atas pasir. Selain itu, tetua-tetua Makkah juga
memutuskan bahwa yang dapat memancung kepala Muhammad dan membawanya di muka
mereka, akan mendapat hadiah seratus ekor unta.
Ahli pencari jejak yang diiring pemuda-pemuda bersenjata
lengkap, serta ketua-ketua kaum Quraisy itu pun berhasil mengikuti bekas tapak
kaki Nabi Saw. Sebelumnya, karena mereka juga mengetahui bahwa kepergian Baginda
Nabi diiring oleh Abu Bakar, Abu Jahal berinisiatif ke rumahnya. Sesampai di
sana, yang menemui adalah Asma’. Dan Asma’ menjawab, dirinya tak tahu-menahu
soal kepergian sang ayahanda.
“Ke mana ayahmu pergi?” tegas Abu Jahal lagi seraya mengamati
ke dalam rumah.
“Saya tidak tahu, dan yang ada di rumah cuma ibu dan adik
saya.” Jawab Asma’.
“Ah, terlalu!” sungut Abu Jahal sambil menampar muka Asma’
sekeras mungkin, lalu ia pergi menyusul yang lain.
Di tempat lain, pemuda-pemuda dan para ketua kaum Quraisy
yang mengikuti langkah ahli jejak, terus menyusuri tapak kaki Nabi dan Abu
Bakar hingga tiba di mulut Gua Tsur. Namun, setiba di situ, mereka bingung. Bekas-bekas
tapak kaki itu hilang tak berjejak, dan keadaan gua sendiri tak memungkinkan
dimasuki orang.
Sejarah menunjukkan, sesudah Nabi dan Abu Bakar masuk ke
dalam gua, Allah menyuruh laba-laba yang beribu banyaknya supaya bersarang di
muka gua. Juga berpasang burung liar agar bersarang dan bertelur di tempat
tersebut. Karenanya, siapa pun yang melihat pintu gua tak akan menyangka bahwa
di dalamnya ada orang bersembunyi. Pintu gua yang penuh dengan jaring laba-laba
di atasnya dan sarang-sarang serta telur-telur burung di bawahnya.
Kebingungan kian menggelayut di benak mereka. Tak pelak,
silang sengkarut perselisihan tak terhindarkan. Salah seorang di antara pemuda-pemuda
itu ada yang memanjat naik, dan mengintip ke dalam, tetapi baru saja mengintip,
burung-burung pun terbang. Sontak ia turun dan berujar, “Jika dalam gua ini ada
orangnya, tentulah burung-burung itu sudah lama bubar, bukan? Sebab, baru
mengintai saja, sudah terbang menjauhi gua.”
“Kalau begitu, kita langsung masuk saja!” tandas yang lain.
“Untuk apa?” sahut Ummayah bin Khalaf. “Jika Muhammad ada di
dalam, sudah barang tentu jaring laba-laba itu rusak. Ya, kalau dalam gua itu
tidak ada ular atau binatang liar. Kalau ada, bisa mampus kamu.”
Akhirnya, mereka kembali dengan tangan hampa serta hati kesal.
Adapun Nabi Saw. dan Abu Bakar mendengar dengan jelas semua percakapan mereka, serta
melihat akan rupa orang-orang yang ada di luar.
Namun, sedikit pun sang Baginda tidak merasa cemas, atau
takut kepada mereka. Beliau yakin betul bahwa Allah akan menolong mereka
berdua. Sebaliknya, Abu Bakar ketika memandang ke luar, dan melihat orang-orang
saling ribut, berkata lirih, “Oh, jika mereka melihat kita di sini.”
Nabi bersabda, “Janganlah engkau menyangka bahwa aku ini
sendirian bersama engkau, tetapi sesungguhnya Allah selalu beserta kita,
selamanya Ia akan melindungi kita.”
Demikianlah, para pengepung dan penyerang itu bubar, kembali
ke Makkah. Sementara Baginda Nabi dan Abu Bakar selama berada di dalam Gua
Tsur, memperoleh bantuan dari Abdullah dan Asma’, serta Amir bin Fuhairah.
Setiap petang, Abdullah pergi ke gua itu seraya membawa
bermacam kabar yang tersiar di kota. Sementara Asma’ membawa bekal makanan. Sedang
Amir bin Fuhairah, setiap pagi, menggembalakan kambing di sekitar gua,
diperasnya susu untuk diminum Nabi dan Abu Bakar.
Alhasil, Baginda Nabi Saw. dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi dalam gua itu selama tiga hari tiga malam, dengan tidak kekurangan bahan makan dan minum.
Begitulah! []
Baca juga: Ali Menggantikan Tidur

0 Komentar