(31)
Sebelum Baginda Nabi dan Abu Bakar meninggalkan kota Makkah, Abu Bakar berpesan kepada Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk jalan, supaya tiga hari sesudah itu ia pergi menyusul ke Gua Tsur bersama Amir bin Fuhairah. Mereka diminta bawa dua ekor unta milik Abu Bakar yang sudah dipersiapkan Amir bin Fuhairah.
Waktu itu, Abdullah bin Uraiqith masih seorang pagan, atau
menganut keyakinan berhala Quraisy. Namun, ia mau membantu Abu Bakar guna menunjukkan
jalan ke Yatsrib. Padahal situasi Makkah sedang kacau mengingat kepergian
Baginda Muhammad yang berhasil lolos dari pengepungan.
Pada hari yang telah ditentukan, saat tengah malam,
datanglah Abdullah bin Uraiqith dan Amir bin Fuhairah ke Gua Tsur menuntun dua
ekor unta yang dipesan Abu Bakar. Esoknya, yaitu hari keempat sejak sang
Baginda meninggalkan Makkah, mereka berempat keluar dari gua.
Baginda Muhammad mengendarai Al-Qushwa bersama Abdullah bin
Uraiqith, sedangkan Abu Bakar bersama Amir bin Fuhairah. Mereka mengambil jalan
sepanjang tepi Laut Merah, jalan yang tidak biasa digunakan kebanyakan orang
yang ingin bepergian ke Yatsrib.
Karena Abu Bakar seorang bangsawan sekaligus hartawan, ia
sering bepergian jauh untuk berdagang, maka banyak orang di desa-desa yang
dilalui mengenalnya. Sebaliknya, sang Baginda yang hampir tidak pernah
bepergian jauh semenjak diutus sebagai nabi, apalagi beliau memang bukan
seorang hartawan, maka dalam perjalanan tersebut banyak yang tak mengenal.
Oleh sebab itu, Abu Bakar setiap kali berjumpa dengan para
kenalan lama, setiap ditanya siapa sahabat di sebelahnya, ia menjawab, “Ini
adalah sahabatku yang menunjukkan jalan untuk bepergian jauh. Dia kuajak untuk
menunjukkan jalan ke Yatsrib.” Jadi, Abu Bakar tidak menerangkan siapa
sebenarnya Baginda Muhammad yang seorang pesuruh Allah. Dan Nabi Saw. sangat
mengerti maksud sahabatnya.
***
Sesudah kaum kafir Quraisy kehilangan Baginda Saw., mereka
sibuk mengumumkannya ke sekeliling kota Makkah dan kepada suku-suku dan
kabilah-kabilah yang berdekatan.
Setiap suku dan kabilah, para pemimpinnya diminta turut
mencari Muhammad dan Abu Bakar, dan apabila berhasil menemukan, segera
ditangkap serta dikirim ke Makkah. Diumumkan pula, barangsiapa dapat menangkap
Muhammad sampai membawanya ke Makkah, ia akan mendapat hadiah seratus ekor
unta.
***
Selanjutnya, tatkala perjalanan Baginda Nabi dan Abu Bakar
tiba di Dusun Qudaidin, dekat Rabigh, perjalanan mereka ini diketahui salah
seorang warga dusun yang pernah mengenal rupa sang Baginda.
Segera, orang tersebut melaporkan kepada kepala kabilahnya,
kabilah Bani Mudlij, yakni Suraqah bin Malik Al-Mudlij. Suraqah pun tertarik.
Ia ingin sekali memperoleh hadiah seratus ekor unta.
Suraqah langsung bersiap. Berkuda dengan bersenjatakan
lengkap mengejar perjalanan Nabi dan sahabatnya. Tak butuh waktu lama, ia telah
di belakang Nabi.
Waktu itu, Abu Bakar selalu memalingkan muka ke belakang. Ia
merasa ada orang yang mengejar, dan benar adanya, terlihat langkah kuda cepat
yang ditunggangi Suraqah.
“Ya Rasulullah, ada yang mengejar kita! Bagaimana ini, pasti
kita akan tertangkap.” Cemas Abu Bakar.
“Sahabatku, jangan bersusah hati! Allah beserta kita,
bukan?”
Namun, hati Abu Bakar makin gundah. Suraqah benar-benar
semakin dekat. Tak sadar ia berkata sambil sesenggukan, “Orang itu dapat
menangkap kita sekarang.”
“Mengapa engkau menangis, Sahabatku?”
“Demi Allah, saya tidak menangisi kalau-kalau saya
tertangkap atau terbunuh, tetapi bagaimana dengan engkau, Tuanku?”
“Oh Sahabatku, Allah beserta kita!” kemudian beliau berdoa,
“Ya Allah! Cukupilah kami akan dia (Suraqah) sekehendak Engkau.”
Seketika itu juga, tergelincirlah kuda Suraqah dan ia
terpelanting ke tanah. Nabi dan rombongan pun terus melanjutkan perjalanan
dengan tenang. Tidak berapa lama kemudian, Suraqah dapat bangkit dan kudanya
pun dapat dibangunkan. Sebetulnya Suraqah merasa ada yang janggal, tetapi ia
memaksa diri menaiki kuda dan mengejar Baginda Nabi. Begitu dekat dengan Nabi,
ia mendengar doa yang dilantunkan Nabi, dan tiba-tiba lagi ia tergelincir,
bahkan lebih keras ketimbang yang pertama.
Tidak berselang lama, Suraqah bangun dan memaksa kudanya
yang hampir tidak dapat berdiri. Lagi-lagi ia memaksa diri. Ia menaiki kuda dan
kembali mengejar Nabi beserta rombongan. Setiba di belakang Nabi, kembali ia
tergelincir dan semakin lebih keras dari sebelumnya. Kaki kudanya terpeosok
hingga lutut ke dalam pasir.
Terasa oleh Suraqah, apa yang diperbuatnya itu amat
membahayakan jiwanya jika tetap nekat diteruskan. Oleh sebab itu, ia berdiri
dan mengejar sembari memanggil-manggil nama Nabi. Akan tetapi Nabi dan Abu
Bakar serta para pengiring terus berjalan dengan tenang.
Karena terus mengejar, terus berteriak-teriak meminta
perlindungan, Baginda Nabi dan Abu Bakar menghentikan perjalanan. Lalu Suraqah
mendekati Nabi Saw.
Berhadapan muka dengan sang Baginda, Suraqah meminta
beribu-ribu maaf atas kesalahan yang baru diperbuatnya. Suraqah juga menuturkan
keadaan kaum Quraisy sepeninggal beliau, “Kepala-kepala Quraisy telah membuat
pengumuman: barangsiapa dapat menangkap engkau dan mengirimkan kembali ke
Makkah, akan diberi hadiah seratus ekor unta.”
Mendengar penuturan Suraqah, Baginda Nabi tersenyum. Beliau
berpesan agar Suraqah tak menyiarkan pertemuannya ini.
Demikian. []

0 Komentar