Malapetaka yang Tiba-tiba

Surah Al-Qari’ah [101] ini termasuk dalam surah periode Makkah awal dan kemungkinan besar diwahyukan setelah surah Al-Tin [95].

Oh, malapetka yang tiba-tiba itu! Betapa mengerikan malapetaka yang tiba-tiba itu! (Al-Qari’ah [101]: 1-2)

Yakni, tibanya Saat Terakhir, yang akan menimbulkan suatu perubahan dunia secara mendasar dan mengerikan.

Dalam surah Ibrahim [14]: 48, juga menyebut perubahan total seluruh fenomena alam dan seluruh jagat raya yang terjadi pada Hari Akhir. Karena perubahan tersebut akan melampaui pengalaman apa pun yang pernah dialami manusia atau apa pun yang dapat dipahami pikiran manusia, sehingga seluruh gambaran Al-Quran dalam banyak tempat mengenai apa yang akan terjadi pada Hari Akhir, diungkapkan melalui istilah-istilah alegoris.

Juga dalam surah Thaha [20]: 105-107, mengacu pada perubahan total pada Hari Akhir. Namun, yang perlu dipahami, dalam eskatologi Al-Quran, “akhir dunia” tidak berarti suatu pembinasaan—yakni penghancuran sampai nihil—alam semesta secara fisik, alih-alih suatu perubahan bentuk secara fundamental dan besar-besaran menjadi sesuatu yang tidak bisa dibayangkan dalam berbagai alusi alegoris tentang Hari Kiamat, misalnya, dalam surah Ibrahim ayat 48, yang berbunyi, “Hari ketika bumi akan diubah menjadi bumi yang lain, demikian pula lelangit”.

Dan, apa yang dapat membuatmu bisa membayangkan, akan seperti apakah malapetaka yang tiba-tiba itu? (Al-Qari’ah [101]: 3)

[Malapetaka itu akan terjadi] pada Hari ketika manusia akan menjadi seperti rayap-rayap yang bertebaran dalam kekacauan, dan gunung-gunung akan menjadi seperti gumpalan-gumpalan halus bulu wol …. (Al-Qari’ah [101]: 4-5)

Dan kemudian, orang yang bobot timbangan [perbuatan baik]-nya berat akan mendapati dirinya dalam kehidupan yang bahagia; sedangkan orang yang bobot timbangannya ringan akan tertelan ke dalam jurang nan teramat dalam. (Al-Qari’ah [101]: 6-9)

Lit., pada ayat 9, “ibunya [yakni, tempat kembalinya] Adalah jurang nan teramat dalam”, yakni, secara tersirat, [jurang] penderitaan dan kesengsaraan. Istilah “ibu” (umm) digunakan secara idiomatik untuk menunjukkan sesuatu yang memeluk atau mendekap.

Dan, apa yang dapat membuatmu bisa membayangkan, akan seperti apakah [jurang nan teramat dalam] itu? (Al-Qari’ah [101]: 10)

Api yang membakar dengan panas! (Al-Qari’ah [101]: 11)

Lit., “api yang panas”; kata sifat “panas” dimaksudkan untuk menekankan kualitas dasar dari api. Perlu diingat bahwa seluruh penggambaran Al-Quran tentang penderitaan orang-orang yang berdosa di akhirat merupakan metafora atau alegori yang merujuk kepada situasi dan kondisi yang hanya dapat dipahami melalui perbandingan dengan fenomena fisik yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.

Demikian penjelasan Muhammad Asad, seperti yang termaktub dalam The Message of the Quran.

Baca juga: Ara

Posting Komentar

0 Komentar