Suku Quraisy

Menurut sebagian sahabat Nabi dan sejumlah ulama dari generasi berikutnya, surah Quraisy [106] ini dan surah sebelumnya (Al-Fil [105]) sebenarnya merupakan satu kesatuan.

Itulah sebabnya mengapa di dalam Salinan Al-Quran yang dimiliki oleh Ubayy ibn Ka’b, surah Al-Fil dan surah Quraisy ditulis sebagai satu surah, yakni di antara kedua surah tersebut tidak terdapat kalimat “bismillah al-rahman al-rahim” yang lazimnya mengawali setiap surah.

Kita harus mengingat bahwa berdampingan dengan Zaid ibn Tsabit dan Ali ibn Abi Thalib, Ubayy ibn Ka’b merupakan salah seorang ahli terkemuka yang menjadi sumber rujukan bagi Abu Bakr maupun Utsman ketika melakukan penghimpunan akhir teks Al-Quran; dan mungkin karena alasan itulah Ibn Hajar Al-‘Asqalani menganggap salinan Al-Quran yang dimiliki oleh Ubayy ibn Ka’b sebagai bukti yang cukup meyakinkan. Lebih dari itu, diriwayatkan bahwa, ketika memimpin shalat berjamaah, Umar ibn Al-Khattab biasa membaca kedua surah itu sebagai satu surah. 

Akan tetapi, terlepas apalah Al-Fil dan Quraisy merupakan satu surah atau dua surah yang terpisah, sulit diragukan bahwa surah Quraisy merupakan kelanjutan dari surah Al-Fil, yang menyiratkan bahwa Allah menghancurkan Pasukan Bergajah “agar suku Quraisy dapat tetap aman”.

Agar suku Quraisy dapat tetap aman, aman dalam perjalanan mereka pada musim dingin dan musim panas. (Quraisy [106]: 1-2)

Lit., “demi perlindungan terhadap suku Quraisy”, yakni sebagai penjaga Ka’bah dan sebagai suku yang dari Tengah-tengah merekalah Nabi Terakhir, yaitu Muhammad Saw., akan muncul. Dengan demikian, “keamanan suku Quraisy” adalah suatu metonimia atau kiasan untuk keamanan Ka’bah, titik pusat Agama yang berdasarkan pada konsep keesaan Allah, yang demi itulah tantara Abrahah dihancurkan.

Kemudian “aman dalam perjalanan mereka pada musim dingin dan musim panas”, yakni dua kafilah dagang tahunan—kafilah ke Yaman pada musim dingin dan ke Suriah pada musim panas—yang mana kemakmuran Makkah bergantung padanya.

Karena itu, hendaklah mereka menyembah Pemelihara rumah ibadah ini, yang telah memberi mereka makanan untuk mengatasi lapar, dan menjadikan mereka aman dari bahaya. (Quraisy [106]: 3-4)

“Rumah ibadah ini” yakni, Ka’bah. Kemudian pada ayat empat bisa kita lihat doa Nabi Ibrahim, “Wahai, Pemeliharaku! Jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan anugerahkanlah rezeki yang melimpah kepada penduduknya” (surah Al-Baqarah [2]: 126).

Demikian, penjelasan dari Muhammad Asad, sebagaimana termaktub dalam The Message of the Quran.

Baca juga: Ara

Posting Komentar

0 Komentar