Surah al-Najm [53] diturunkan tidak lama setelah surah al-Ikhlash [112], kecuali ayat 13-18, yang merupakan kisah pengalaman mistik Nabi melakukan perjalanan ke langit (mikraj), yaitu sekitar satu tahun sebelum hijrah ke Madinah.
Dan nama surah ini diambil dari kata al-najm yang
terdapat pada ayat pertama.
وَٱلنَّجۡمِ إِذَا هَوَىٰ, Perhatikanlah pengungkapan
[pesan Allah] ini, ketika ia turun! (al-Najm [53]: 1)
Atau: “Perhatikanlah bintang kala ia terbenam”—sebuah
tafsiran yang, karena beberapa alasan, dipilih oleh kebanyakan mufasir.
Namun, hampir semua mufasir itu mengakui bahwa istilah najm—yang
diderivasi dari verba najama, “ia telah muncul”, “mulai”, “terjadi”,
atau “timbul”—juga berarti “terungkapnya” sesuatu yang datang atau muncul
secara bertahap, seolah-olah muncul sebagian demi sebagian.
Oleh karena itu, istilah ini sejak awalnya telah dipakai
untuk menunjuk setiap bagian al-Qur’an yang diwahyukan secara bertahap (nujum),
dan, karenanya pula, dipakai untuk menunjuk proses pewahyuannya yang bertahap
itu, atau “pengungkapan” al-Qur’an itu sendiri.
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمۡ وَمَا غَوَىٰ --- وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ
--- إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ --- عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ --- ذُو مِرَّةٖ
فَٱسۡتَوَىٰ --- وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ --- وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ
--- ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ --- فَكَانَ قَابَ قَوۡسَيۡنِ أَوۡ أَدۡنَىٰ
(2) Kawan kalian ini tidaklah sesat, dan tidak pula
teperdaya, (3) dan tidak pula dia berbicara menurut hawa nafsunya:
(4) [yang dia sampaikan kepada kalian] itu tiada lain adalah wahyu
[Ilahi] yang diwahyukan kepadanya—(5) sesuatu yang diajarkan
kepadanya oleh yang sangat kuat: (6) [yaitu, malaikat] yang
dikaruniai kebiasaan yang mengungguli, yang pada waktunya menampakkan diri
dalam rupa dan wujudnya yang asli, (7) yang muncul di lapisan ufuk
tertinggi, (8) dan kemudian mendekat dan bertambah dekat lagi, (9) hingga
dia hanya berjarak sepanjang dua busur panah, atau bahkan lebih dekat lagi.
Ungkapan, “Kawan kalian ini tidaklah sesat, dan tidak
pula teperdaya” bisa dilihat pula pada surah al-A’raf [7]: 184. Bahwa
karena Nabi menyampaikan pesan yang berbeda secara mendasar dari segala
kebiasaan orang-orang Makkah, banyak orang tak beriman menganggap beliau gila.
Kemudian penekanan pada “sejawat mereka” atau “kawan kalian”
(dalam surah al-Najm ini) dimaksudkan untuk menekankan fakta bahwa beliau
adalah manusia biasa, sehingga akan mencegah kemungkinan anggapan beliau
memiliki sifat-sifat adi-manusiawi.
Pada ayat 5, “sesuatu yang diajarkan kepadanya oleh yang
sangat kuat”, yakni malaikat pembawa wahyu, Jibril a.s.
Dalam sejumlah hadits (guna menjelaskan ayat 6), semasa
hidup Baginda Nabi tidak lebih dari dua kali saja melihat kekuatan malaikati
semacam ini “menampakkan diri dalam rupa dan wujudnya yang asli”, yaitu pertama, pada
periode setelah fatrat al wahy (lama ayat-ayat Qur’an tidak turun—bisa
ditengok pada penjelasan Yang Berselimut [1] dan Yang Berselubung [1]), dan kedua, saat mikraj, pengalaman mistik yang diterangkan pada ayat berikut nanti,
ayat 13-18.
Kemudian, gambaran grafis mengenai malaikat yang semakin
mendekat ini, “hingga dia hanya berjarak sepanjang dua busur panah, atau
bahkan lebih dekat lagi”, berdasarkan ungkapan-ungkapan yang digunakan
bangsa Arab kuno, dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan bahwa kehadiran
Malaikat Pembawa Wahyu dapat dilihat dengan amat jelas serta hampir nyata.
فَأَوۡحَىٰٓ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ مَآ أَوۡحَىٰ, Dan
demikianlah [Allah] mewahyukan kepada hamba-Nya apa pun yang Dia
anggap tepat untuk diwahyukan. (al-Najm [53]: 10)
Lit., “apa pun yang Dia wahyukan”, mengacu kepada perwujudan
yang tidak biasanya dari malaikat “dalam rupa dan wujudnya yang asli” serta
kepada kandungan wahyu itu sendiri.
Dalam makna yang lebih dalam, frasa di atas menunjukkan
bahwa bahkan kepada rasul pilihan-Nya pun, Allah tidak sepenuhnya mengungkapkan
misteri sesungguhnya dari eksistensi, kehidupan dan kematian, tujuan Dia
menciptakan alam semesta, atau hakikat alam semesta itu sendiri.
مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ --- أَفَتُمَٰرُونَهُۥ عَلَىٰ
مَا يَرَىٰ, Hati [hamba] itu tidaklah mendustakan apa yang
telah dia lihat: --- maka, apakah kalian hendak berbantahan dengannya
mengenai apa yang telah dia lihat? (al-Najm [53]: 11-12)
Karena Baginda Nabi sangat menyadari sifat spiritual dari
pengalamannya itu, tidak ada pertentangan antara alam bawah sadarnya dan
persepsi intuitifnya (penglihatan hati) dari apa yang umumnya tidak dapat
dipersepsi.
Dengan demikian, al-Qur’an menyatakan dengan jelas bahwa
pengalaman Nabi melihat malaikat bukanlah merupakan delusi, melainkan
pengalaman spiritual yang benar. Namun, justru karena pengalaman itu bersifat
spiritual murni, penyampaiannya kepada orang lain hanya bisa dilakukan melalui
simbol dan alegori, yang oleh orang-orang skeptis serta-merta saja dianggap
sebagai cerita khayalan, “berbantahan dengannya mengenai apa yang telah dia
lihat”.
Demikian terjemahan dan penjelas oleh Muhammad Asad. []
Baca juga: Pernyataan Kesempurnaan Allah

0 Komentar