Pengungkapan (2)

Mengenai pohon bidara yang berduri dan dapat dibudidayakan, berbuah dan rimbun, dan lambang kenikmatan surga, merupakan simbol bahwa pohon bidara yang terjauh itu menandakan perbatasan pengetahuan samawi yang dapat diperlihatkan kepada manusia. Bahwa di balik itu, baik malaikat atau manusia tak dapat melampauinya.

ÙˆَÙ„َÙ‚َدۡ رَØ¡َاهُ Ù†َزۡÙ„َØ©ً Ø£ُØ®ۡرَÙ‰ٰ --- عِندَ سِدۡرَØ©ِ ٱلۡÙ…ُنتَÙ‡َÙ‰ٰ --- عِندَÙ‡َا جَÙ†َّØ©ُ ٱلۡÙ…َØ£ۡÙˆَÙ‰ٰٓ --- Ø¥ِذۡ ÙŠَغۡØ´َÙ‰ ٱلسِّدۡرَØ©َ Ù…َا ÙŠَغۡØ´َÙ‰ٰ, Dan sesungguhnya, dia telah melihatnya untuk kedua kalinya --- pada pohon bidara pada batas terjauh --- yang dekat dengan taman yang dijanjikan, --- tatkala pohon bidara itu terselubung di dalam selubung yang tidak terkatakan indahnya …. (al-Najm [53]: 13-16) 

Ungkapan “dia telah melihatnya untuk kedua kalinya”, yakni, dia melihat malaikat itu “menampakkan diri dalam rupa dan wujudnya yang asli”.

Dan, “pada pohon bidara pada batas terjauh” yakni, pada peristiwa pengalaman mistik Nabi pada saat mi’raj (kenaikan).

Ketika menjelaskan ungkapan sidrat al-muntaha, mengingat pohon sidr atau sidrah (pohon bidara Arab) memiliki daun-daun yang rimbun, di dalam al-Qur’an dan hadits yang mengisahkan peristiwa mikraj istilah sidr atau sidrah ini muncul sebagai simbol “naungan”—yakni, kedamaian dan kepuasan spiritual—surga.

Dapat diasumsikan keterangan al-muntaha (batas tertinggi atau terjauh) mengisyaratkan kenyataan bahwa Allah telah menetapkan batas tertentu terhadap segala pengetahuan yang bisa diperoleh makhluk. Ini menunjukkan, khususnya, bahwa walaupun pengetahuan manusia secara potensial amat luas dan dalam, ia tidak akan pernah bisa—bahkan tidak pula di surga (taman yang dijanjikan yang disebutkan pada ayat selanjutnya)—memperoleh pemahaman tentang realitas tertinggi, yang dibatasi Sang Pencipta untuk-Nya sendiri.

Kemudian, “tatkala pohon bidara itu terselubung dengan apa pun yang menyelubungi[-nya]”, frasa yang sengaja dibuat samar ini mengisyaratkan keindahan dan kemuliaan yang tak terkira yang melekat pada simbol surga ini “yang tiada gambaran apa pun dapat melukiskannya dan tiada definisi mana pun dapat mencakupnya”.

Ù…َا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ÙˆَÙ…َا Ø·َغَÙ‰ٰ --- Ù„َÙ‚َدۡ رَØ£َÙ‰ٰ Ù…ِÙ†ۡ Ø¡َايَٰتِ رَبِّÙ‡ِ ٱلۡÙƒُبۡرَÙ‰ٰٓ, [Dan selanjutnya] penglihatannya tidaklah berpaling, tidak pula menyimpang: --- dia sungguh telah melihat perlambang-perlambang yang paling dalam dari Pemeliharanya. (al-Najm [53]: 17-18)

Kemudian istilah “ayah” (perlambang) juga senada dengan ayat satu surah al-Isra’ [17], menunjuk “suatu isyarat [atau tanda] yang dengannya suatu hal dikenali”. Ini berarti fenomena apa pun yang dapat dipersepsi (baik oleh indra maupun hanya oleh akal) yang terkait dengan sesuatu yang tidak dapat, pada dirinya sendiri, dipersepsi dengan cara yang sama.

Karena itu, ungkapan min ayatina (dalam al-Isra’) lebih tepat diterjemahkan menjadi “beberapa perlambang Kami”, yakni pengetahuan mendalam, yang diperoleh melalui lambang-lambang, mengenai sejumlah kebenaran sejati.

Demikian penjelasan dari Muhammad Asad. []

Baca juga: Pengungkapan (1)

Posting Komentar

0 Komentar