Mengenai pohon bidara yang berduri dan dapat dibudidayakan, berbuah dan rimbun, dan lambang kenikmatan surga, merupakan simbol bahwa pohon bidara yang terjauh itu menandakan perbatasan pengetahuan samawi yang dapat diperlihatkan kepada manusia. Bahwa di balik itu, baik malaikat atau manusia tak dapat melampauinya.
ÙˆَÙ„َÙ‚َدۡ رَØ¡َاهُ Ù†َزۡÙ„َØ©ً Ø£ُØ®ۡرَÙ‰ٰ --- عِندَ سِدۡرَØ©ِ ٱلۡÙ…ُنتَÙ‡َÙ‰ٰ
--- عِندَÙ‡َا جَÙ†َّØ©ُ ٱلۡÙ…َØ£ۡÙˆَÙ‰ٰٓ --- Ø¥ِذۡ ÙŠَغۡØ´َÙ‰ ٱلسِّدۡرَØ©َ Ù…َا ÙŠَغۡØ´َÙ‰ٰ, Dan
sesungguhnya, dia telah melihatnya untuk kedua kalinya --- pada pohon bidara
pada batas terjauh --- yang dekat dengan taman yang dijanjikan, --- tatkala
pohon bidara itu terselubung di dalam selubung yang tidak terkatakan indahnya
…. (al-Najm [53]: 13-16)
Ungkapan “dia telah melihatnya untuk kedua kalinya”, yakni,
dia melihat malaikat itu “menampakkan diri dalam rupa dan wujudnya yang asli”.
Dan, “pada pohon bidara pada batas terjauh” yakni,
pada peristiwa pengalaman mistik Nabi pada saat mi’raj (kenaikan).
Ketika menjelaskan ungkapan sidrat al-muntaha,
mengingat pohon sidr atau sidrah (pohon bidara Arab) memiliki
daun-daun yang rimbun, di dalam al-Qur’an dan hadits yang mengisahkan peristiwa
mikraj istilah sidr atau sidrah ini muncul sebagai simbol
“naungan”—yakni, kedamaian dan kepuasan spiritual—surga.
Dapat diasumsikan keterangan al-muntaha (batas
tertinggi atau terjauh) mengisyaratkan kenyataan bahwa Allah telah menetapkan batas
tertentu terhadap segala pengetahuan yang bisa diperoleh makhluk. Ini
menunjukkan, khususnya, bahwa walaupun pengetahuan manusia secara potensial
amat luas dan dalam, ia tidak akan pernah bisa—bahkan tidak pula di surga
(taman yang dijanjikan yang disebutkan pada ayat selanjutnya)—memperoleh
pemahaman tentang realitas tertinggi, yang dibatasi Sang Pencipta untuk-Nya
sendiri.
Kemudian, “tatkala pohon bidara itu terselubung dengan apa
pun yang menyelubungi[-nya]”, frasa yang sengaja dibuat samar ini
mengisyaratkan keindahan dan kemuliaan yang tak terkira yang melekat pada
simbol surga ini “yang tiada gambaran apa pun dapat melukiskannya dan tiada
definisi mana pun dapat mencakupnya”.
Ù…َا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ÙˆَÙ…َا Ø·َغَÙ‰ٰ --- Ù„َÙ‚َدۡ رَØ£َÙ‰ٰ Ù…ِÙ†ۡ Ø¡َايَٰتِ
رَبِّÙ‡ِ ٱلۡÙƒُبۡرَÙ‰ٰٓ, [Dan selanjutnya] penglihatannya tidaklah
berpaling, tidak pula menyimpang: --- dia sungguh telah melihat
perlambang-perlambang yang paling dalam dari Pemeliharanya. (al-Najm [53]:
17-18)
Kemudian istilah “ayah” (perlambang) juga senada
dengan ayat satu surah al-Isra’ [17], menunjuk “suatu isyarat [atau tanda] yang
dengannya suatu hal dikenali”. Ini berarti fenomena apa pun yang dapat
dipersepsi (baik oleh indra maupun hanya oleh akal) yang terkait dengan sesuatu
yang tidak dapat, pada dirinya sendiri, dipersepsi dengan cara yang sama.
Karena itu, ungkapan min ayatina (dalam al-Isra’)
lebih tepat diterjemahkan menjadi “beberapa perlambang Kami”, yakni pengetahuan
mendalam, yang diperoleh melalui lambang-lambang, mengenai sejumlah kebenaran
sejati.
Demikian penjelasan dari Muhammad Asad. []
Baca juga: Pengungkapan (1)

0 Komentar