Yang Berselimut (1)

Surah 73 (Muzzammil) ini termasuk salah satu Surah yang paling mula-mula diwahyukan. Yang pertama ialah Surah 96 (Iqra’) ketika Baginda Nabi berumur 40, sekitar 12 tahun sebelum Hijrah.

Kemudian terjadi jeda, yang bilangan waktunya tak dapat dipastikan, tapi diperkirakan sekitar enam bulan.

Surah kedua, Surah 68 (Qalam), yang turun setelah habis masa jeda atau kesenjangan (fatrah). Dan pada kira-kira waktu yang sama turunlah Surah ini, Surah 73 (Muzzammil) dan Surah 74 (Muddatstsir).

Nah, sebelum ke Muddatstsir, terlebih dahulu kita masuk terjemahan dan tafsir Abdullah Yusuf Ali Muzzammil (yang berselimut). Kali ini bagian pertama: ayat 1-4.  

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ – Hai orang yang berselimut! (al-Muzzammil [73]: 1)

Kata muzzammil, beberapa mufasir mengartikan “berpakaian sebagaimana mestinya untuk salat” atau “berselimutkan sehelai kain, karena orang mau menjauhi dunia fana ini”. Muzzammil juga merupakan salah satu gelar Baginda Rasulullah Saw.

Tetapi di sini, ada pengertian rohani yang lebih dalam, juga seruan surah berikutnya, Muddatstsir, “Hai orang yang berselubung!”.

Betapa kodrat manusia memerlukan pakaian dan kain terselubung yang hangat untuk melindungi badan dari udara dingin, panas dan hujan. Tetapi dalam dunia rohani kain-kain selubung itu tak ada gunanya. Justru orang harus telanjang dan terbuka di hadapan Allah, dalam kesunyian malam, seperti diperlihatkan dalam ayat-ayat berikut.

Tak syak lagi, terlepas dari bagaimana seruan “Hai orang yang berselimut” ini dipahami secara literal, kami memilih makna metaforanya bahwa ungkapan itu menunjukkan suatu seruan rohani untuk meningkatkan kesadaran dan memperdalam keawasan spiritual pada diri Baginda Nabi dan segenap para pengikutnya.

قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا --- نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا --- أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا

(2) Bangunlah (untuk melakukan salat) malam ini, yang hanya sebagian kecil, (3) separuhnya atau kurang dari itu sedikit, (4) atau lebihkanlah dan bacalah Qur’an dengan perlahan, dengan nada berirama.

Kita baca sirah-sirah beliau, Nabi cenderung sekali untuk hidup zuhud dalam gua Hira, baik sebelum ataupun sesudah menerima risalah. Beliau menggunakan waktu siang dan malam dalam ibadah dan tafakur. Nah, salat tengah malam dan sesudah tengah malam secara teknik disebut Tahajjud, seolah mengganti kebiasaan beliau ke gua Hira.

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا

Dan waktu malam, salat tahajudlah sebagai (ibadah) tambahan bagimu; semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji dan terhormat. (al-Isra’ [17]: 79)

Kemudian ungkapan وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا “dan bacalah Qur’an dengan perlahan, dengan nada berirama”, pada waktu itu yang ada baru Surah 96 [Iqra’], Surah 68 [Qalam], dan Surah 74 [Muddatstsir, yang turun beriringan dengan Surah 73 ini], serta Surah Pembukaan [al-Fatihah]. Tetapi hati Baginda Rasul Saw. sudah menerima cahaya penyadaran, dan cahaya itu berangsur-angsur menemukan ungkapannya dalam ayat-ayat Qur’an.

Lantas buat kita sekarang, dengan seluruh Qur’an sudah di hadapan kita, perintah itu perlu sekali. Kata-kata dalam Qur’an hendaknya tidak dibaca tergesa-gesa, hanya untuk mendapat bacaan yang sebanyak mungkin. Kata-kata itu harus ditelaah, dan maknanya yang begitu dalam supaya direnungkan baik-baik. Kata-kata itu sendiri memang sangat indah sehingga harus diucapkan dengan penuh rasa cinta dalam nada musik yang berirama.

Lagian, istilah tartil, sebagaimana dijelaskan Muhammad Asad, pada dasarnya berarti “tindakan menyusun [sesuatu] dengan jelas, teratur, dan tidak tergesa-gesa”. Sehingga, dalam konteks Qur’an diterapkan untuk menunjuk pada pengucapan yang tenang dan terukur, dengan pertimbangan yang mendalam mengenai makna yang harus dipetik.

Maka, ia menerjemahkan وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا menjadi “dan bacalah al-Qura’an dengan tenang dan jelas, dengan pikiranmu tertuju pada maknanya.”

Demikian! []

Baca juga: Pena (6) 

Posting Komentar

0 Komentar