Dalam ayat-ayat berikut, perhatian kita diarahkan ke Hari Kemudian.
Baik karena kita tak mampu menghormati hak-hak orang yang sudah tak berdaya atau karena memang benar-benar menindas hak-hak itu lantaran tergila-gila harta dunia, di akhirat kita akan dimintai tanggung jawab. Bumi yang keras ini, dalam bayangan kita, akan lumat jadi hancur luluh bagaikan debu.
كَلَّآۖ إِذَا دُكَّتِ ٱلۡأَرۡضُ دَكّٗا دَكّٗا --- وَجَآءَ رَبُّكَ
وَٱلۡمَلَكُ صَفّٗا صَفّٗا, Tidak, tetapi [bagaimana keadaan kalian
nanti pada Hari Pengadilan] ketika bumi dihancurkan dengan
sehancur-hancurnya, --- dan [keagungan] Pemeliharamu tersingkap,
dan juga [hakikat sejati] para malaikat, baris demi baris?
(al-Fajr [89]: 21-22)
Lit., “[tatkala] Pemeliharamu datang”, yang dipahami oleh
hamper semua mufasir klasik sebagai penampakan (dalam pengertian abstrak kata
ini) keagungan transendental Allah dan perwujudan pengadilan-Nya.
وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۢ بِجَهَنَّمَۚ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ
وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ, Dan pada Hari itu, neraka akan didatangkan [ke
dalam jangkauan pandangan]; pada Hari itu manusia akan mengingat [semua
yang dia lakukan dan yang tidak dia lakukan]; tetapi, apalah gunanya
ingatan itu baginya? (al-Fajr [89]: 23)
Hari pembalasan akhirnya akan datang juga, dan kita akan
menyadarinya dalam wujud kita yang paling dalam. Segala gambaran kosong tentang
dunia fana ini akan lenyap. Kemudian kita akan ingat, dan berharap, tapi sudah
terlambat sekali untuk bertobat.
Sehingga, benar adanya, mengapa tidak bertobat sedari
sekarang? Mengapa tidak menyiapkan buah tobat itu sekarang, sebagai bekal
persediaan untuk akhirat?
يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي, Dia akan
berkata, “Ah, seandainya aku telah bersiap sebelumnya untuk kehidupanku [yang
akan datang]!” (al-Fajr [89]: 24)
فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ --- وَلَا يُوثِقُ
وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ, Karena, pada Hari itu tidak ada yang dapat menyiksa,
sebagaimana Dia akan menyiksa [orang-orang yang berbuat dosa], --- dan
tidak ada yang dapat mengikat dengan ikatan-ikatan yang seperti ikatan-Nya.
(al-Fajr [89]: 25-26)
Kata kerja “menyiksa” dalam ayat 25 berbeda dengan
“mengikat” dalam ayat 26. “Siksaan” menyangkut rasa sakit dan penderitaan, yang
tak dapat dibayangkan di mana pun, atau dari sumber apa pun, sebab menyentuh
jiwa kita yang paling dalam. Juga tak dapat dibandingkan dengan apa pun yang
pernah dirasakan oleh badan.
Secara tak langsung “ikatan” berarti pengurungan, hilangnya
kebebasan, penutupan pintu yang sekali pernah terbuka tetapi dengan sengaja
kita lewati.
Kemudian terkait ungkapan, “dan tidak ada yang dapat
mengikat dengan ikatan-ikatan yang seperti ikatan-Nya” bisa dibaca surah
al-Muzzammil [73]: 12-13 dalam Yang Berselimut (3), menjelaskan simbolisme siksaan di akhirat.
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ --- ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ
رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ --- فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي --- وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي,
[Namun, kepada orang-orang yang saleh, Allah akan berkata,] “Wahai,
engkau manusia yang telah mencapai ketenangan jiwa! --- Kembalilah engkau kepada
Pemeliharamu, dalam keadaan berkenan kepada-Nya [dan] memperoleh
perkenan-Nya: --- maka, masuklah bersama hamba-hamba-Ku [lainnya yang
sejati]—ya, masuklah engkau ke dalam surga-Ku!” (al-Fajr [89):
27-30)
Kaum beriman akan menerima warisan dan akan disambut dengan
gelar yang memberi kesan bebas dari segala rasa sakit, sedih, ragu, gelisah,
putus asa, penderitaan, bahkan harapan selanjutnya: ketenangan, ketenteraman,
dalam keadaan yang benar-benar melegakan hati.
Dan puncak keseluruhannya itu ialah, “masuklah ke dalam
surga-Ku”, yang tentu saja sangat sangat jauh dari persepsi kita atas bentuk
dan simbol surga yang dilukiskan, termasuk dalam kitab suci itu sendiri, karena
surga Allah Sendiri.
Semoga, dengan karunia Allah, kita dapat mencapainya. Demikian,
terjemahan dari Muhammad Asad, beserta penjelasnya oleh Abdullah Yusuf Ali!

0 Komentar