Diriwayatkan bahwa setelah surah al-Fajr [89] diwahyukan, Baginda Nabi Muhammad Saw. tidak menerima wahyu apa pun lagi untuk beberapa lama. Dan lawan-lawan Nabi di Makkah mengejek dengan mengatakan, “Tuhanmu telah meninggalkanmu dan menghinakanmu!”—kemudian surah ini (al-Dhuha [93] diwahyukan.
Terlepas kita menerima atau tidak riwayat tersebut, dan meskipun
pertama-tama dialamatkan kepada beliau Baginda Nabi, surah ini berkaitan
dengan—dan dimaksudkan untuk menghibur—semua orang beriman, laki-laki maupun
perempuan, yang mengalami kesengsaraan dan kesulitan yang amat berat, yang
sering kali menimpa orang baik dan tak berdosa, dan kadang kala menyebabkan
orang saleh sekalipun mempertanyakan keadilan Allah.
وَٱلضُّحَىٰ --- وَٱلَّيۡلِ إِذَا سَجَىٰ, Perhatikanlah
saat-saat pagi yang cerah, --- dan malam ketika menjadi senyap dan gelap.
(al-Dhuha [93]: 1-2)
Ungkapan “saat-saat pagi yang cerah” tampaknya merupakan
simbol bagi periode kebahagiaan dalam kehidupan manusia yang hanya berlangsung
sebentar dan baru akan muncul lagi dalam waktu yang lama. Sebagaimana dibedakan
dengan periode “malam ketika menjadi senyap dan gelap” yang berlangsung jauh
lebih lama, yakni periode panjang kesengsaraan atau penderitaan yang lazimnya membayang-bayangi
keberadaan manusia di dunia ini.
Tersebut dalam surah al-Balad [90]: 4, “Sungguh, Kami
telah menciptakan manusia dalam [kehidupan yang penuh dengan] penderitaan,
jerih payah, dan cobaan.”
Implikasi lebih lanjutnya adalah bahwa, sebagaimana pastinya
pagi mengikuti malam, berkat kemurahan-Nya, Allah pasti meringankan setiap
penderitaan, baik di dunia ini maupun di kehidupan mendatang (akhirat)—sebab,
Allah telah “menetapkan atas diri-Nya hukum rahmat dan belas kasih” (surah
al-An’am [6]: 12 dan 54).
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ --- وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ
لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ, Pemeliharamu tidak meninggalkanmu dan tidak pula
menghinakanmu: --- sebab, sesungguhnya, kehidupan mendatang akan lebih baik
bagimu daripada awal [kehidupanmu] ini! (al-Dhuha [93]: 3-4)
Secara tersirat, yakni, “sebagaimana yang mungkin dikira
oleh orang-orang yang tidak berpikir itu ketika melihat penderitaan yang telah
Dia tetapkan untuk kau pikul”.
Sehingga, bagi yang menyediakan diri untuk kepentingan dan
pertumbuhan ruhani, pertama-tama dilambangkan oleh datangnya saat-saat pagi.
Dia tak boleh berkecil hati atau dikuasai rasa kesepian saat perjuangan dan
kesulitannya itu.
Karena kemudian, orang yang benar-benar taat kepada-Nya,
tiap langkah berikutnya akan lebih baik daripada sebelumnya. Dalam pengertian,
“hari kemudian” itu tidak hanya mengacu pada hari kemudian sesudah mati, tetapi
juga pada “jiwa yang baik” saat di dunia.
Sebab, sekalipun dalam arti perhiasan dunia fana ini mungkin
dalam kekurangan, ketika ia melangkah itu jiwanya sudah lebih dari puas.
وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ, Dan,
sesungguhnya, Pemeliharamu kelak akan menganugerahimu [apa yang diinginkan
oleh hatimu], dan engkau akan menjadi senang. (al-Dhuha [93]: 5)
أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فََٔاوَىٰ, Bukankah Dia
mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia memberimu lindungan? (al-Dhuha
[93]: 6)
Mungkin ayat ini berbicara secara tidak langsung tentang
kenyataan bahwa Nabi Muhammad Saw. dilahirkan beberapa bulan setelah kematian
bapaknya, dan bahwa ibunya meninggal ketika beliau baru berumur enam tahun.
Namun, sekali lagi, terlepas dari hal itu, setiap manusia
adalah seorang “yatim” dalam pengertian tertentu, karena setiap manusia
“diciptakan dalam ketersendirian” (surah al-An’am [6]: 94), dan “masing-masing
dari mereka akan datang ke hadapan-Nya pada Hari Kebangkitan dengan
sendiri-sendiri” (surah Maryam [19]: 95).
وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ, Dan, Dia mendapatimu dalam
keadaan tersesat di jalanmu, lalu Dia memberimu panduan? (al-Dhuha [93]: 7)
وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ, Dan, Dia mendapatimu
dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberimu kecukupan? (al-Dhuha [93]: 8)
Ketika kita sudah menemukan jalan itu, adalah suatu tugas
berat buat kita untuk terus mendaki dalam perlengkapan ruhani yang masih
miskin; dan Tuhan akan memberikan kekayaan ruhani kepada kita dalam cinta dan
ilmu.
فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ --- وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا
تَنۡهَرۡ --- وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ, Karena itu, anak yatim
janganlah pernah engkau perlakukan kasar, --- dan orang yang meminta
pertolongan[mu], janganlah pernah engkau maki, --- dan nikmat
dari Pemeliharmu hendaklah engkau sebut-sebut [selalu]. (al-Dhuha
[93]: 9-11)
Istilah sa’il secara harfiah berarti “seorang
meminta”, yang tidak hanya mengacu pada “pengemis”, tetapi juga pada siapa pun
yang meminta pertolongan dalam situasi sulit, baik secara jasmani maupun moral,
atau bahkan orang yang meminta pencerahan.
Kemudian, “dan nikmat dari Pemeliharmu hendaklah engkau
sebut-sebut [selalu]”, secara tersirat, “bukan [selalu
menyebut-nyebut] penderitaanmu”.
Demikian, terjemahan dan penjelas dari Muhammad Asad! []
Baca juga: Fajar (4)

0 Komentar