Berbeda dengan keadilan Tuhan dan perhatian-Nya, manusia selalu mementingkan diri sendiri dan picik.
Allah menguji kita dengan kemakmuran dan penderitaan. Sedianya kita menunjukkan rasa rendah hati dan berbudi baik. Pun kita mesti sabar dan menguatkan iman.
Bukan sebaliknya, membusungkan dada saat dalam kemakmuran,
dan merasa sedih begitu dalam penderitaan.
فَأَمَّا ٱلۡإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبۡتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكۡرَمَهُۥ
وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّيٓ أَكۡرَمَنِ --- وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبۡتَلَىٰهُ فَقَدَرَ
عَلَيۡهِ رِزۡقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّيٓ أَهَٰنَنِ
Namun, adapun manusia, manakala Pemeliharanya menguji dia
dengan kemurahhatian-Nya dan membiarkan dirinya menikmati hidup yang mudah, dia
berkata, “Pemeliharaku telah bermurah hati kepadaku [sebagaimana
seharusnya]”; --- sedangkan, manakala Dia mengujinya dengan membatasi
sarana penghidupannya, dia berkata, “Pemeliharaku telah menghinakan daku!”
(al-Fajr [89]: 15-16)
Frasa di atas, yang diawali dengan partikel fa-amma
(namun, adapun …), jelas memiliki kaitan dengan “bukti kebenaran yang kuat”
yang disebut dalam ayat 5 (baca: Fajar (1))—yang menyiratkan bahwa manusia,
sebagaimana lazimnya, tidak memikirkan kehidupan akhirat, tetapi hanya peduli
dengan kehidupan dunia serta apa-apa yang menjanjikan keuntungan langsung bagi
dirinya.
Ungkapan “Pemeliharaku telah bermurah hati kepadaku [sebagaimana
seharusnya]”, yakni, dia memandang kemurahan Allah sebagai sesuatu yang sudah
menjadi haknya. Padahal semestinya berendah hati dan berbudi baik.
Dan, “Pemeliharaku telah menghinakan daku!”, dia
menganggap tiadanya atau hilangnya kekayaan bukan sebagai suatu cobaan,
melainkan sebagai bukti “ketidakadilan” Ilahi—yang pada gilirannya bermuara
pada pengingkaran akan keberadaan Allah.
كَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ --- وَلَا تَحَٰٓضُّونَ
عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ --- وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكۡلٗا لَّمّٗا --- وَتُحِبُّونَ
ٱلۡمَالَ حُبّٗا جَمّٗا
Namun tidak, tidak, [wahai manusia, renungkanlah
semua yang kalian lakukan dan yang tidak kalian lakukan:] kalian tidak
bermurah hati kepada anak yatim, --- dan kalian tidak saling mendorong untuk
memberi makan orang miskin, --- dan kalian melahap harta warisan [orang
lain] dengan sangat serakah, --- dan kalian mencintai harta kekayaan
dengan kecintaan yang tiada batas! (al-Fajr [89]: 17-20)
“Dan kalian tidak saling mendorong untuk memberi makan
orang miskin” yakni, “kalian tidak merasa terdorong untuk memberi makan
orang miskin”. Mendorong dirinya sendiri. Hal itu juga terungkap dalam surah
al-Maun.
Demikian terjemahan surah al-Fajr [89]: 15-20 oleh Muhammad
Asad. []
Baca juga: Fajar (2)

0 Komentar