Fajar (3)

Berbeda dengan keadilan Tuhan dan perhatian-Nya, manusia selalu mementingkan diri sendiri dan picik.

Allah menguji kita dengan kemakmuran dan penderitaan. Sedianya kita menunjukkan rasa rendah hati dan berbudi baik. Pun kita mesti sabar dan menguatkan iman.

Bukan sebaliknya, membusungkan dada saat dalam kemakmuran, dan merasa sedih begitu dalam penderitaan.

فَأَمَّا ٱلۡإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبۡتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكۡرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّيٓ أَكۡرَمَنِ --- وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبۡتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيۡهِ رِزۡقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّيٓ أَهَٰنَنِ

Namun, adapun manusia, manakala Pemeliharanya menguji dia dengan kemurahhatian-Nya dan membiarkan dirinya menikmati hidup yang mudah, dia berkata, “Pemeliharaku telah bermurah hati kepadaku [sebagaimana seharusnya]”; --- sedangkan, manakala Dia mengujinya dengan membatasi sarana penghidupannya, dia berkata, “Pemeliharaku telah menghinakan daku!” (al-Fajr [89]: 15-16)

Frasa di atas, yang diawali dengan partikel fa-amma (namun, adapun …), jelas memiliki kaitan dengan “bukti kebenaran yang kuat” yang disebut dalam ayat 5 (baca: Fajar (1))—yang menyiratkan bahwa manusia, sebagaimana lazimnya, tidak memikirkan kehidupan akhirat, tetapi hanya peduli dengan kehidupan dunia serta apa-apa yang menjanjikan keuntungan langsung bagi dirinya.

Ungkapan “Pemeliharaku telah bermurah hati kepadaku [sebagaimana seharusnya]”, yakni, dia memandang kemurahan Allah sebagai sesuatu yang sudah menjadi haknya. Padahal semestinya berendah hati dan berbudi baik.

Dan, “Pemeliharaku telah menghinakan daku!”, dia menganggap tiadanya atau hilangnya kekayaan bukan sebagai suatu cobaan, melainkan sebagai bukti “ketidakadilan” Ilahi—yang pada gilirannya bermuara pada pengingkaran akan keberadaan Allah.

كَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ --- وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ --- وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكۡلٗا لَّمّٗا --- وَتُحِبُّونَ ٱلۡمَالَ حُبّٗا جَمّٗا

Namun tidak, tidak, [wahai manusia, renungkanlah semua yang kalian lakukan dan yang tidak kalian lakukan:] kalian tidak bermurah hati kepada anak yatim, --- dan kalian tidak saling mendorong untuk memberi makan orang miskin, --- dan kalian melahap harta warisan [orang lain] dengan sangat serakah, --- dan kalian mencintai harta kekayaan dengan kecintaan yang tiada batas! (al-Fajr [89]: 17-20)

Dan kalian tidak saling mendorong untuk memberi makan orang miskin” yakni, “kalian tidak merasa terdorong untuk memberi makan orang miskin”. Mendorong dirinya sendiri. Hal itu juga terungkap dalam surah al-Maun.

Demikian terjemahan surah al-Fajr [89]: 15-20 oleh Muhammad Asad. []

Baca juga: Fajar (2)

Posting Komentar

0 Komentar