Yang Berselimut (3)

Manusia yang menikmati segala kesenangan hidup, harus lebih tahu bersyukur kepada Allah. Lantaran Dia telah menganugerahkan kepada mereka.

Maka, yang paling tepat menindak mereka yang gagal bersyukur, hanya Allah. Dan, surah al-Muzzammil [73]: 11-14 ini mempercakapkan hal tersebut.

وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ وَمَهِّلۡهُمۡ قَلِيلًا --- إِنَّ لَدَيۡنَآ أَنكَالٗا وَجَحِيمٗا --- وَطَعَامٗا ذَا غُصَّةٖ وَعَذَابًا أَلِيمٗا --- يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلۡأَرۡضُ وَٱلۡجِبَالُ وَكَانَتِ ٱلۡجِبَالُ كَثِيبٗا مَّهِيلًا

(11) Dan, biarkanlah Aku sendiri [yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan kebenaran—orang-orang yang menikmati kesenangan-kesenangan hidup [tanpa memikirkan Tuhan sama sekali]—dan bersabarlah engkau bersama mereka sebentar saja: (12) sebab, perhatikanlah, belenggu-belenggu yang berat [menanti mereka] di sisi Kami, dan kobaran api, (13) dan makanan yang mencekik, serta derita yang pedih, (14) pada Hari tatkala bumi dan gunung-gunung diguncang, dan gunung-gunung akan [ambruk dan] menjadi seperti bukit pasir yang sedang bergerak.

Ungkapan “… Aku sendiri [yang bertindak)”, dapat dipahami dalam kedua pengertian, bergantung pada apakah kita mengaitkan “sendiri” dengan Allah—sehingga menekankan keunikan-Nya sebagai Pencipta—ataukah dengan objek ciptaan-Nya yang khusus ini, yakni manusia, yang mengawali dan mengakhiri hidupnya dalam keadaan benar-benar sendirian.

Bisa kita tilik pada surah al-An’am [6]: 94, “Dan, kini kalian benar-benar datang kepada Kami sendiri-sendiri, sebagaimana Kami menciptakan kalian pada kali pertama; dan kalian telah meninggalkan di belakang kalian apa-apa yang telah Kami karuniakan kepada kalian [dalam kehidupan kalian]. Dan, Kami tiada melihat bersama kalian para perantara itu, yang kalian anggap bersekutu dengan Allah dalam kaitannya dengan diri kalian sendiri…”

Juga di ayat 80 dan 95 surah Maryam [19], “… sebab, [pada Hari Pengadilan] dia akan datan kepada Kami seorang diri.” dan “dan masing-masing dari mereka akan datang ke hadapan-Nya pada Hari Kebangkitan dengan sendiri-sendiri.” 

Dan, mana pun dari kedua pengertian itu yang diambil, perhatian kita digiring pada kenyataan akan kebergantungan mutlak manusia kepada Allah.

Di samping itu, ungkapan yang sedang dibicarakan ini mengandung arti yang lebih jauh, yakni, “Serahkan saja pada-Ku sendiri untuk memutuskan apa yang harus Kulakukan terhadap orang yang lupa bahwa Aku adalah Pencipta dan Pemeliharanya”—jadi, melarang hukuman apa pun untuk dijatuhkan oleh manusia kepada “mereka yang mengingkari kebenaran”.

Kemudian menilik ayat 13 pada surah ini, secara umum, azab karena dosa itu mungkin dapat disebut sebagai azab yang pedih, penderitaan yang berat sekali. Yang demikian ini dapat juga terjadi dalam hidup kita di dunia, tetapi yang sudah pasti di akhirat.

Nah, ketika menjelaskan simbolisme siksaan di akhirat, al-Razi mengatakan: “Empat kondisi ini dapat dipahami sebagai menunjukkan konsekuensi-konsekuensi spiritual [dari perbuatan seseorang dalam hidupnya]. Adapun mengenai ‘belenggu-belenggu yang berat’, itu adalah perlambang masih terbelenggunya jiwa oleh kecintaan fisik dan kesenangan jasmaniah [sebelumnya] …: dan kini, karena hasrat-hasrat tersebut sudah mustahil direalisasikan, belenggu-belenggu itu menghalangi diri manusia (an-nafs) [yang telah dibangkitkan itu] untuk mencapai alam ruh dan kesucian. Akibatnya, belenggu-belenggu spiritual tersebut menimbulkan ‘api’ spiritual, karena kecenderungan kuat seseorang terhadap hal-hal jasmani yang tidak diiringi dengan kemungkinan untuk mencapai hal-hal tersebut, secara spiritual memunculkan [perasaan] terbakar yang dahsyat …: dan inilah [makna] ‘api yang berkobar’. Kemudian, [pendosa tersebut] mencoba menelan derita kehilangan yang menyesakkan dan sakitnya keterpisahan [dari objek-objek hasratnya]: dan inilah makna kata-kata ‘dan makanan yang mencekik’. Dan, akhirnya, karena kondisi yang demikian, dia tetap kehilangan segala pencerahan yang berasal dari cahaya Allah, dan terputus dari segala kebersamaan dengan orang-orang yang mendapat berkah: inilah arti kata-kata ‘serta derita (azab) yang pedih’ …. Namun [sementara itu], ketahuilah bahwa saya tidak mengklaim telah menjelaskan seluruh makna ayat-ayat Qur’an ini denga napa yang telah saya nyatakan [di atas] …”.

Terakhir, dalam ayat 14, kiamat dilukiskan sebagai goncangan yang keras, yang akan mengubah seluruh permukaan alam seperti yang kita kenal selama ini. Sekalipun gunung-gunung yang merupakan batu yang keras akan menjadi seperti pasir yang bertaburan, meluncur lepas tanpa kendali.

Dan, mereka akan bertanya kepadamu tentang [apa yang akan terjadi terhadap] gunung-gunung [ketika dunia ini berakhir]. Maka katakanlah: “Pemeliharaku akan menjadikannya berserakan ke segala arah, dan membuat bumi menjadi datar dan tandus [sehingga] engkau tidak akan melihat tempat yang berlekuk-lekuk dan tidak rata di permukaannya.” (Thaha [20]: 105-107)

Betapa kemudian akan terjadi perubahan total seluruh fenomena alam dan seluruh jagat raya pada Hari Akhir itu. Karena perubahan tersebut akan melampaui pengalaman apa pun yang pernah dialami manusia atau apa pun yang dapat dipahami pikiran manusia.

Namun, dalam eskatologi al-Qur’an, “akhir dunia” ini tidak berarti suatu pembinasaan—yakni penghancuran sampai nihil—alam semesta secara fisik, alih-alih suatu perubahan bentuk secara fundamental dan besar-besaran menjadi sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh manusia pada saat sekarang.

Hal itu dikemukakan dalam berbagai alusi (majas perbandingan) alegoris (kiasan) tentang Hari Kiamat, misal, “[Janji-Nya akan terlaksana] pada Hari ketika bumi akan diubah menjadi bumi yang lain, demikian pula lelangit, dan ketika [semua manusia] akan berkumpul di hadapan Allah, yang memegang kekuasaan mutlak atas segala yang ada.” (Ibrahim [14]: 48)

Demikian terjemahan dan tafsirnya oleh Muhammad Asad! []

Baca juga: Yang Berselimut (2) 

Posting Komentar

0 Komentar