Manusia yang menikmati segala kesenangan hidup, harus lebih tahu bersyukur kepada Allah. Lantaran Dia telah menganugerahkan kepada mereka.
Maka, yang paling tepat menindak mereka yang gagal bersyukur,
hanya Allah. Dan, surah al-Muzzammil [73]: 11-14 ini mempercakapkan
hal tersebut.
وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ وَمَهِّلۡهُمۡ
قَلِيلًا --- إِنَّ لَدَيۡنَآ أَنكَالٗا وَجَحِيمٗا --- وَطَعَامٗا ذَا غُصَّةٖ وَعَذَابًا
أَلِيمٗا --- يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلۡأَرۡضُ وَٱلۡجِبَالُ وَكَانَتِ ٱلۡجِبَالُ كَثِيبٗا
مَّهِيلًا
(11) Dan, biarkanlah Aku sendiri [yang bertindak) terhadap
orang-orang yang mendustakan kebenaran—orang-orang yang menikmati kesenangan-kesenangan
hidup [tanpa memikirkan Tuhan sama sekali]—dan bersabarlah engkau bersama
mereka sebentar saja: (12) sebab, perhatikanlah, belenggu-belenggu yang
berat [menanti mereka] di sisi Kami, dan kobaran api, (13) dan makanan yang
mencekik, serta derita yang pedih, (14) pada Hari tatkala bumi dan
gunung-gunung diguncang, dan gunung-gunung akan [ambruk dan] menjadi seperti
bukit pasir yang sedang bergerak.
Ungkapan “… Aku sendiri [yang bertindak)”, dapat
dipahami dalam kedua pengertian, bergantung pada apakah kita mengaitkan
“sendiri” dengan Allah—sehingga menekankan keunikan-Nya sebagai
Pencipta—ataukah dengan objek ciptaan-Nya yang khusus ini, yakni manusia, yang
mengawali dan mengakhiri hidupnya dalam keadaan benar-benar sendirian.
Bisa kita tilik pada surah al-An’am [6]: 94, “Dan, kini
kalian benar-benar datang kepada Kami sendiri-sendiri, sebagaimana Kami
menciptakan kalian pada kali pertama; dan kalian telah meninggalkan di belakang
kalian apa-apa yang telah Kami karuniakan kepada kalian [dalam kehidupan
kalian]. Dan, Kami tiada melihat bersama kalian para perantara itu, yang kalian
anggap bersekutu dengan Allah dalam kaitannya dengan diri kalian sendiri…”
Juga di ayat 80 dan 95 surah Maryam [19], “… sebab, [pada
Hari Pengadilan] dia akan datan kepada Kami seorang diri.” dan “dan
masing-masing dari mereka akan datang ke hadapan-Nya pada Hari Kebangkitan
dengan sendiri-sendiri.”
Dan, mana pun dari kedua pengertian itu yang diambil,
perhatian kita digiring pada kenyataan akan kebergantungan mutlak manusia
kepada Allah.
Di samping itu, ungkapan yang sedang dibicarakan ini
mengandung arti yang lebih jauh, yakni, “Serahkan saja pada-Ku sendiri untuk
memutuskan apa yang harus Kulakukan terhadap orang yang lupa bahwa Aku adalah
Pencipta dan Pemeliharanya”—jadi, melarang hukuman apa pun untuk dijatuhkan
oleh manusia kepada “mereka yang mengingkari kebenaran”.
Kemudian menilik ayat 13 pada surah ini, secara umum, azab
karena dosa itu mungkin dapat disebut sebagai azab yang pedih, penderitaan yang
berat sekali. Yang demikian ini dapat juga terjadi dalam hidup kita di dunia,
tetapi yang sudah pasti di akhirat.
Nah, ketika menjelaskan simbolisme siksaan di akhirat,
al-Razi mengatakan: “Empat kondisi ini dapat dipahami sebagai menunjukkan
konsekuensi-konsekuensi spiritual [dari perbuatan seseorang dalam hidupnya].
Adapun mengenai ‘belenggu-belenggu yang berat’, itu adalah perlambang masih
terbelenggunya jiwa oleh kecintaan fisik dan kesenangan jasmaniah [sebelumnya]
…: dan kini, karena hasrat-hasrat tersebut sudah mustahil direalisasikan,
belenggu-belenggu itu menghalangi diri manusia (an-nafs) [yang telah
dibangkitkan itu] untuk mencapai alam ruh dan kesucian. Akibatnya,
belenggu-belenggu spiritual tersebut menimbulkan ‘api’ spiritual, karena
kecenderungan kuat seseorang terhadap hal-hal jasmani yang tidak diiringi
dengan kemungkinan untuk mencapai hal-hal tersebut, secara spiritual
memunculkan [perasaan] terbakar yang dahsyat …: dan inilah [makna] ‘api yang
berkobar’. Kemudian, [pendosa tersebut] mencoba menelan derita kehilangan yang
menyesakkan dan sakitnya keterpisahan [dari objek-objek hasratnya]: dan inilah
makna kata-kata ‘dan makanan yang mencekik’. Dan, akhirnya, karena kondisi yang
demikian, dia tetap kehilangan segala pencerahan yang berasal dari cahaya
Allah, dan terputus dari segala kebersamaan dengan orang-orang yang mendapat
berkah: inilah arti kata-kata ‘serta derita (azab) yang pedih’ …. Namun
[sementara itu], ketahuilah bahwa saya tidak mengklaim telah menjelaskan
seluruh makna ayat-ayat Qur’an ini denga napa yang telah saya nyatakan [di
atas] …”.
Terakhir, dalam ayat 14, kiamat dilukiskan sebagai goncangan
yang keras, yang akan mengubah seluruh permukaan alam seperti yang kita kenal
selama ini. Sekalipun gunung-gunung yang merupakan batu yang keras akan menjadi
seperti pasir yang bertaburan, meluncur lepas tanpa kendali.
Dan, mereka akan bertanya kepadamu tentang [apa yang akan
terjadi terhadap] gunung-gunung [ketika dunia ini berakhir]. Maka katakanlah:
“Pemeliharaku akan menjadikannya berserakan ke segala arah, dan membuat bumi
menjadi datar dan tandus [sehingga] engkau tidak akan melihat tempat yang
berlekuk-lekuk dan tidak rata di permukaannya.” (Thaha [20]: 105-107)
Betapa kemudian akan terjadi perubahan total seluruh
fenomena alam dan seluruh jagat raya pada Hari Akhir itu. Karena perubahan
tersebut akan melampaui pengalaman apa pun yang pernah dialami manusia atau apa
pun yang dapat dipahami pikiran manusia.
Namun, dalam eskatologi al-Qur’an, “akhir dunia” ini tidak
berarti suatu pembinasaan—yakni penghancuran sampai nihil—alam semesta secara
fisik, alih-alih suatu perubahan bentuk secara fundamental dan besar-besaran
menjadi sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh manusia pada saat sekarang.
Hal itu dikemukakan dalam berbagai alusi (majas
perbandingan) alegoris (kiasan) tentang Hari Kiamat, misal, “[Janji-Nya akan
terlaksana] pada Hari ketika bumi akan diubah menjadi bumi yang lain, demikian
pula lelangit, dan ketika [semua manusia] akan berkumpul di hadapan Allah, yang
memegang kekuasaan mutlak atas segala yang ada.” (Ibrahim [14]: 48)
Demikian terjemahan dan tafsirnya oleh Muhammad Asad! []
Baca juga: Yang Berselimut (2)

0 Komentar