Pada sepuluh ayat pertama surah ‘Abasa [80] ini terkait dengan peristiwa yang disaksikan oleh sejumlah sahabat Nabi mengenai beliau. Oleh karenanya kemudian, surah ini pun dinamai ‘abasa, selain juga sebagai kata yang mengawali kalimat pertamanya.
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ
--- أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ
Dia bermuka masam dan berpaling – karena pria buta telah
mendekatinya! (‘Abasa [80]: 1-2)
Sebagaimana dicatat dalam banyak hadis sahih, suatu hari
Nabi Muhammad Saw. sedang asyik bercakap-cakap dengan sejumlah tokoh pagan
Makkah yang paling berpengaruh, dan beliau berharap dapat meyakinkan
mereka—dan, melalui mereka, meyakinkan masyarakat Makkah pada umumnya—tentang
kebenaran risalahnya.
Pada saat itu, Nabi didekati oleh salah seorang pengikutnya,
‘Abd Allah ibn Syuraih yang buta, yang dikenal dengan nama Ibn Umm Maktum,
mengikuti nama neneknya. Dia meminta Nabi untuk mengulangi atau menguraikan
beberapa ayat al-Qur’an yang diwahyukan sebelumnya.
Karena merasa interupsi Ibn Umm Maktum tersebut mengganggu
apa yang sementara itu dianggap Nabi sebagai usaha yang lebih penting, Nabi
Muhammad Saw. “bermuka masam dan berpaling” dari orang buta tersebut—namun
tiba-tiba, seketika itu pula Nabi ditegur dengan diwahyukannya sepuluh ayat
pertama surah ini.
Pada tahun-tahun berikutnya, Nabi Muhammad Saw. sering
menyambut Ibn Umm Maktum dengan kata-kata yang rendah hati: “Selamat datang,
wahai orang yang menyebabkan Pemeliharaku menegurku (‘atabani)!”
Secara tidak langsung, teguran al-Qur’an (yang khususnya
ditekankan melalui penggunaan bentuk kata orang ketiga dalam ayat 1-2)
menyiratkan bahwa pertama, apa yang dianggap sebagai ketidakpatutan yang
bersifat sepele jika dilakukan oleh manusia biasa, dipandang termasuk dosa
besar jika dilakukan seorang nabi, dan kedua, teguran keras itu
menggambarkan sifat objektif wahyu al-Qur’an: sebab, jelas, dalam menyampaikan
teguran Allah atas dirinya kepada khalayak umum, Nabi “tidak berbicara menurut
hawa nafsunya” (baca Pengungkapan [1] surah al-Najm [53]: 3).
وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ --- أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ
ٱلذِّكۡرَىٰٓ
Padahal, engkau tahu, [wahai Muhammad] boleh
jadi dia telah tumbuh dalam kesucian, -- atau telah diingatkan [akan
kebenaran], dan dibantu dengan peringatan itu. (‘Abasa [80]: 3-4)
أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ --- فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ --- وَمَا
عَلَيۡكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ --- وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسۡعَىٰ --- وَهُوَ يَخۡشَىٰ
---- فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ
Kini, adapun orang yang menyangka bahwa dirinya serba
cukup—kepadanya engkau beri seluruh perhatianmu, --- meskipun engkau tidak
bertanggung jawab atas kegagalannya untuk mencapai kesucian; -- namun,
adapun orang yang datang kepadamu dengan penuh semangat – dan dalam keadaan
gentar-terpukau [pada Allah]—dia telah engkau abaikan!
(‘Abasa [80]: 5-10)
Ungkapan “serba cukup” yakni, orang yang tidak merasa
membutuhkan petunjuk Ilahi. Hal ini mengacu kepada para tokoh pagan yang
sombong, yang tengah berbincang-bincang dengan Nabi.
Demikian! []

0 Komentar