Dia Bermuka Masam (2)

Berikut, secara tersirat, peringatan tentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah.

كَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ --- فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ --- فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ --- مَّرۡفُوعَةٖ مُّطَهَّرَةِۢ --- بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ --- كِرَامِۢ بَرَرَةٖ

Tidak, sungguh, [pesan-pesan] ini tidak lain hanyalah suatu peringatan: --- maka, siapa yang berkehendak, dapat mengingat-Nya --- di dalam [terang] wahyu-wahyu[-Nya] yang diberkati dengan kemuliaan, --- yang tinggi lagi suci, --- [yang dibawa] oleh tangan para utusan --- yang mulia lagi paling berbudi luhur. (‘Abasa [80]: 11-16)

Di sini, sebagaimana di dalam banyak ayat lainnya, Al-Qur’an digambarkan sebagai “suatu peringatan” karena ia dimaksudkan untuk menuntun kesadaran naluriah manusia akan keberadaan Allah—sekalipun kesadaran itu terkadang bersifat samar-samar atau tidak disadari—menuju cahaya kesadaran yang sepenuhnya.

Menurut Al-Qur’an, kemampuan untuk menyadari adanya Yang Mahakuasa sudah tertanam dalam fitrah (kecenderungan alami) manusia; dan pengetahuan futrah inilah—yang selanjutnya bisa dikotori oleh hawa nafsu atau pengaruh lingkungan yang buruk—yang menjadikan setiap manusia yang waras sebagai “saksi atas dirinya sendiri” di hadapan Allah (baca surah al-A’raf [7]: 172). 

قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ

[Akan tetapi, sudah sangat sering] manusia membinasakan dirinya sendiri: betapa keras kepala dia mengingkari kebenaran! (‘Abasa [80]: 17)

Mengenai terjemahan Muhammad Asad atas kata qutila menjadi “dia membinasakan dirinya sendiri”, silakan baca kembali “Yang Berselubung (3)”!

مِنۡ أَيِّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥ

[Pernahkah manusia memperhatikan] dari zat apa [Allah] menciptakan dirinya? (‘Abasa [80]: 18)

مِن نُّطۡفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُۥ --- ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ --- ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ --- ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ

Dari setetes air mani, Allah menciptakan dia, dan kemudian menentukan sifat dasarnya, --- lalu Dia menjadikannya mudah untuk menjalani kehidupan; --- dan pada akhirnya, Dia menyebabkannya mati dan membawanya ke liang kubur; --- dan kemudian, jika demikian kehendak-Nya, Dia akan menghidupkannya kembali. (‘Abasa [80]: 19-22)

Yakni, sesuai dengan fungsi-fungsi organik yang akan dijalankan oleh tubuh dan pikiran manusia, serta sesuai dengan kondisi-kondisi alamiah yang dengannya manusia harus menyesuaikan diri.

Ayat 18-22, walaupun dirumuskan dalam kalimat bentuk lampau, jelas menggambarkan suatu fenomena yang terus berulang.

Lit., “Dia memudahkan jalan baginya”, ini adalah suatu alusi tentang makhluk manusia yang dianugerahi dengan kelengkapan intelektual yang membuatnya mampu membedakan atara kebaikan dan keburukan, dan mampu memanfaatkan peluang-peluang yang disediakan oleh lingkungan dunianya.

كَلَّا لَمَّا يَقۡضِ مَآ أَمَرَهُۥ

Tidak, namun [manusia] belum pernah menunaikan apa yang Dia perintahkan kepadanya! (‘Abasa [80]: 23)

Dengan kata lain, manusia telah gagal memanfaatkan secara memadai anugerah intelektual dan spiritual yang dirujuk dalam ayat 20. Sementara sebagian mufasir berpendapat bahwa ayat ini hanya berbicara tipe manusia yang dibicarakan dalam ayat 17, sebagian mufasir lain menganut pandangan, yang lebih masuk akal, bahwa ayat ini berbicara tentang manusia secara umum—dengan demikian: “Tidak ada manusia yang pernah menunaikan seluruh kewajiban [moral] yang dibebankan kepadanya”; atau “Sejak zaman Nabi Adam hingga saat ini, tidak ada manusia yang pernah terbebas dari kekurangan”.

Hal itu sejalan dengan doktrin Al-Qur’an bahwa kesempurnaan adalah sifat Allah semata.

فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ --- أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا --- ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا --- فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا حَبّٗا --- وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا --- وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا --- وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا --- وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا --- مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ

Maka, hendaklah manusia memperhatikan [sumber-sumber] makanannya: --- [bagaimana] Kami mencurahkan air, mencurahkannya dengan berlimpah; --- dan kemudian Kami belah bumi [dengan tumbuhan baru], dan membelahnya menjadi bagian-bagian, --- lalu dari bumi itu, Kami jadikan biji-bijian tumbuh, --- pohon anggur dan tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan, --- pohon zaitun dan pohon kurma, --- dan kebun-kebun dengan dedaunan yang lebat, --- dan buah-buahan serta rerumputan, --- untuk dinikmati oleh kalian dan binatang-binatang kalian. (‘Abasa [80]: 24-32)

Implikasinya adalah bahwa manusia seharusnya bersyukur atas seluruh karunia Allah tersenut, tetapi biasanya justru tidak: dan hal ini berkaitan dengan peringatan berikutnya tentang Hari Kebangkitan, yang telah diisyaratkan dalam pembicaraan tentang fenomena pembaruan-hidup (life-renewal) yang terus berulang.

Demikian, terjemahan dan penjelas dari Muhammad Asad! []

Baca juga: Dia Bermuka Masam (1)

Posting Komentar

0 Komentar