Berikut, secara tersirat, peringatan tentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah.
كَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ --- فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ --- فِي
صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ --- مَّرۡفُوعَةٖ مُّطَهَّرَةِۢ --- بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ --- كِرَامِۢ
بَرَرَةٖ
Tidak, sungguh, [pesan-pesan] ini tidak
lain hanyalah suatu peringatan: --- maka, siapa yang berkehendak, dapat
mengingat-Nya --- di dalam [terang] wahyu-wahyu[-Nya] yang
diberkati dengan kemuliaan, --- yang tinggi lagi suci, --- [yang dibawa]
oleh tangan para utusan --- yang mulia lagi paling berbudi luhur.
(‘Abasa [80]: 11-16)
Di sini, sebagaimana di dalam banyak ayat lainnya, Al-Qur’an
digambarkan sebagai “suatu peringatan” karena ia dimaksudkan untuk menuntun
kesadaran naluriah manusia akan keberadaan Allah—sekalipun kesadaran itu
terkadang bersifat samar-samar atau tidak disadari—menuju cahaya kesadaran yang
sepenuhnya.
Menurut Al-Qur’an, kemampuan untuk menyadari adanya Yang
Mahakuasa sudah tertanam dalam fitrah (kecenderungan alami) manusia; dan
pengetahuan futrah inilah—yang selanjutnya bisa dikotori oleh hawa nafsu atau
pengaruh lingkungan yang buruk—yang menjadikan setiap manusia yang waras
sebagai “saksi atas dirinya sendiri” di hadapan Allah (baca surah al-A’raf [7]:
172).
قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ
[Akan tetapi, sudah sangat sering] manusia
membinasakan dirinya sendiri: betapa keras kepala dia mengingkari kebenaran!
(‘Abasa [80]: 17)
Mengenai terjemahan Muhammad Asad atas kata qutila
menjadi “dia membinasakan dirinya sendiri”, silakan baca kembali “Yang Berselubung (3)”!
مِنۡ أَيِّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥ
[Pernahkah manusia memperhatikan] dari zat apa
[Allah] menciptakan dirinya? (‘Abasa [80]: 18)
مِن نُّطۡفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُۥ --- ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ
--- ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ --- ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ
Dari setetes air mani, Allah menciptakan dia, dan
kemudian menentukan sifat dasarnya, --- lalu Dia menjadikannya mudah
untuk menjalani kehidupan; --- dan pada akhirnya, Dia menyebabkannya mati
dan membawanya ke liang kubur; --- dan kemudian, jika demikian
kehendak-Nya, Dia akan menghidupkannya kembali. (‘Abasa [80]: 19-22)
Yakni, sesuai dengan fungsi-fungsi organik yang akan
dijalankan oleh tubuh dan pikiran manusia, serta sesuai dengan kondisi-kondisi
alamiah yang dengannya manusia harus menyesuaikan diri.
Ayat 18-22, walaupun dirumuskan dalam kalimat bentuk lampau,
jelas menggambarkan suatu fenomena yang terus berulang.
Lit., “Dia memudahkan jalan baginya”, ini adalah suatu alusi
tentang makhluk manusia yang dianugerahi dengan kelengkapan intelektual yang
membuatnya mampu membedakan atara kebaikan dan keburukan, dan mampu
memanfaatkan peluang-peluang yang disediakan oleh lingkungan dunianya.
كَلَّا لَمَّا يَقۡضِ مَآ أَمَرَهُۥ
Tidak, namun [manusia] belum pernah menunaikan apa yang
Dia perintahkan kepadanya! (‘Abasa [80]: 23)
Dengan kata lain, manusia telah gagal memanfaatkan secara
memadai anugerah intelektual dan spiritual yang dirujuk dalam ayat 20.
Sementara sebagian mufasir berpendapat bahwa ayat ini hanya berbicara tipe
manusia yang dibicarakan dalam ayat 17, sebagian mufasir lain menganut
pandangan, yang lebih masuk akal, bahwa ayat ini berbicara tentang manusia
secara umum—dengan demikian: “Tidak ada manusia yang pernah menunaikan seluruh
kewajiban [moral] yang dibebankan kepadanya”; atau “Sejak zaman Nabi Adam
hingga saat ini, tidak ada manusia yang pernah terbebas dari kekurangan”.
Hal itu sejalan dengan doktrin Al-Qur’an bahwa kesempurnaan
adalah sifat Allah semata.
فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ --- أَنَّا صَبَبۡنَا
ٱلۡمَآءَ صَبّٗا --- ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا --- فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا حَبّٗا
--- وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا --- وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا --- وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ---
وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا --- مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ
Maka, hendaklah manusia memperhatikan [sumber-sumber]
makanannya: --- [bagaimana] Kami mencurahkan air,
mencurahkannya dengan berlimpah; --- dan kemudian Kami belah bumi [dengan
tumbuhan baru], dan membelahnya menjadi bagian-bagian, --- lalu
dari bumi itu, Kami jadikan biji-bijian tumbuh, --- pohon anggur dan
tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan, --- pohon zaitun dan pohon kurma,
--- dan kebun-kebun dengan dedaunan yang lebat, --- dan buah-buahan
serta rerumputan, --- untuk dinikmati oleh kalian dan binatang-binatang
kalian. (‘Abasa [80]: 24-32)
Implikasinya adalah bahwa manusia seharusnya bersyukur atas
seluruh karunia Allah tersenut, tetapi biasanya justru tidak: dan hal ini
berkaitan dengan peringatan berikutnya tentang Hari Kebangkitan, yang telah
diisyaratkan dalam pembicaraan tentang fenomena pembaruan-hidup (life-renewal)
yang terus berulang.
Demikian, terjemahan dan penjelas dari Muhammad Asad! []

0 Komentar