Apa yang ada pada orang yang baik, itu artinya bertahan dan berkembang, sedang pada orang jahat berarti kehancuran. Dan kelak di akhirat, tak ada bagian badan kita ini yang dibiarkan tak tersentuh, baik dalam kenikmatan maupun derita yang pedih.
Nah, kembali saya ketengahkan terjemahan dan tafsir atas
surah al-Muddatstsir yang ditulis Muhammad Asad.
إِنَّهُۥ فَكَّرَ وَقَدَّرَ --- فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ --- ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ --- ثُمَّ نَظَرَ --- ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ --- ثُمَّ
أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ --- فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ
(18) Perhatikanlah, [ketika pesan-pesan Kami disampaikan
kepada orang yang berkukuh mengingkari kebenaran] dia merenung dan memikirkan
rencana [bagaimana cara membantahnya]—(19) dan demikianlah dia
membinasakan dirinya sendiri, bagaimana dia memikirkan rencana: (20) ya,
dia membinasakan dirinya sendiri, bagaimana dia memikirkan rencana!—(21) kemudian
dia mencari-cari [alasan baru], (22) lalu dia bermuka masam dan
terbelalak, (23) dan pada akhirnya dia memalingkan punggungnya [terhadap
pesan Kami], dan menyombongkan diri, (24) dan berkata, “Semua ini
hanyalah kepiawaian berbicaranya yang memikat yang diturunkan [dari
zaman dahulu]! (25) إِنۡ هَٰذَآ, Ini tidak lain إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ
hanyalah perkataan manusia biasa!”
Ungkapan qutila pada ayat 19, secara harfiah “dia
telah dibunuh” atau, sebagai kalimat kutukan, “semoga dia dibunuh”.
Karena penerjemahan ungkapan tersebut secara harfiah—baik
dipahami sebagai suatu pernyataan faktual maupun sebagai kutukan—dalam hal ini
tidak akan bermakna apa pun, banyak mufasir (di antaranya al-Thabari)
memahaminya dalam pengertian “dia tertolak dari rahmat Allah”, yakni “dibunuh”
secara spiritual oleh tindakan atau sikapnya sendiri; karenanya, Muhammad Asad
menerjemahkannya menjadi, “dia membinasakan dirinya sendiri”.
Kemudian pada ayat 22, “dia bermuka masam dan terbelalak”,
yakni, dia menjadi terlibat secara emosional karena di dalam hati dia curiga
bahwa argumen-argumennya memang lemah.
“Dan pada akhirnya dia memalingkan punggungnya [dari pesan
Kami], dan menyombongkan diri” dalam ayat 23, senada dengan surah al-‘Alaq
[96]: 6-7, “Tidak, sungguh, manusia menjadi benar-benar melampaui batas,
manakala dia menganggap dirinya sendiri serbacukup” (bisa dilihat Bacalah!(2)).
Berikutnya, istilah سِحۡرٞ (sihr), yang biasanya
berarti “ilmu sihir” atau “permainan magis”, pada dasarnya berarti “pengubahan
sesuatu dari keadaannya yang wajar [atau ‘alami’-nya] menjadi keadaan yang
lain”; karena itu, ia sering digunakan untuk menunjuk pada daya tarik atau
keterpesonaan luar biasa yang ditimbulkan oleh kepiawaian berbicara yang
“memikat”.
Dalam pengertian peyoratifnya—seperti yang digunakan oleh
para pengingkar kebenaran untuk menjuluki suatu pesan Ilahi—istilah ini juga
berarti “tipu daya yang disengaja” atau “khayalan”.
[saqar] سَأُصۡلِيهِ [Karena itu] Aku akan
menyebabkannya merasakan api-neraka [dalam kehidupan akhirat]!
(al-Muddatstsir [74]: 26)
Tidak diragukan lagi, ini adalah ayat paling awal yang
menyebutkan istilah saqar (api-neraka), salah satu di antara tujuh nama
metaforis yang disebutkan dalam Qur’an untuk menunjuk pada konsep azab (penderitaan)
di akhirat yang ditimpakan oleh manusia kepada dirinya sendiri karena berbuat
dosa dan secara sengaja tetap berada dalam keadaan buta dan tuli, di dunia ini,
terhadap kebenaran-kebenaran ruhani.
Adapun sifat alegoris tentang kondisi dan nasib manusia di
akhirat pada ayat 26 ini dan pada semua gambaran lainnya dalam al-Qur’an
jelas-jelas disinggung dalam ayat berikutnya, serta dalam ayat 28 dan
seterusnya.
Wa ma adraka ma saqar(u), dan, apa yang dapat membuat
engkau bisa membayangkan apakah api-neraka itu? (al-Muddatstsir [74]: 27)
لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ
--- لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ, Ia tidak membiarkan hidup, dan tidak pula
meninggalkan [mati], menjadikan [seluruh kebenaran]
terlihat jelas oleh manusia. (al-Muddatstsir [74]: 28-29)
Kebanyakan mufasir menafsirkan frasa eliptis dalam ayat 29
dalam pengertian “mengubah tampilan manusia” atau “menghanguskan kulit
manusia”.
Pada sisi lain, terjemahan yang Muhammad Asad gunakan
didasarkan pada makna utama verbal laha—“ia tampak”, “ia muncul”, atau
“menjadi terlihat”. Karena itu, makna utama dari nomina partisif intensif lawwah
adalah “yang membuat [sesuatu] tampak”.
Dan dalam konteks di atas, istilah itu berkaitan dengan
pemahaman si pendosa yang sudah terlambat tentang kebenaran, serta berkaitan
dengan pengetahuan yang menyakitkan mengenai sifat dirinya sendiri, terhadap
kegagalan di masa lalu dan kesalahan-kesalahannya yang disengaja, dan kesadaran
bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas penderitaan yang kini
menantinya: yakni, suatu keadaan yang “hidup bukan, mati pun tidak”.
ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ --- ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا
وَلَا يَحۡيَىٰ, dia yang [di dalam kehidupan akhirat] akan
merasakan api yang sangat besar, yang di dalamnya dia tidak akan mati dan tidak
pula hidup. (al-A’la [87]: 12-13)
Demikian! []
Baca juga: Yang Berselubung (2)

0 Komentar