Yang Berselubung (3)

Apa yang ada pada orang yang baik, itu artinya bertahan dan berkembang, sedang pada orang jahat berarti kehancuran. Dan kelak di akhirat, tak ada bagian badan kita ini yang dibiarkan tak tersentuh, baik dalam kenikmatan maupun derita yang pedih.

Nah, kembali saya ketengahkan terjemahan dan tafsir atas surah al-Muddatstsir yang ditulis Muhammad Asad.

إِنَّهُۥ فَكَّرَ وَقَدَّرَ  --- فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ  --- ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ ---  ثُمَّ نَظَرَ --- ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ --- ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ --- فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ

(18) Perhatikanlah, [ketika pesan-pesan Kami disampaikan kepada orang yang berkukuh mengingkari kebenaran] dia merenung dan memikirkan rencana [bagaimana cara membantahnya]—(19) dan demikianlah dia membinasakan dirinya sendiri, bagaimana dia memikirkan rencana: (20) ya, dia membinasakan dirinya sendiri, bagaimana dia memikirkan rencana!—(21) kemudian dia mencari-cari [alasan baru], (22) lalu dia bermuka masam dan terbelalak, (23) dan pada akhirnya dia memalingkan punggungnya [terhadap pesan Kami], dan menyombongkan diri, (24) dan berkata, “Semua ini hanyalah kepiawaian berbicaranya yang memikat yang diturunkan [dari zaman dahulu]! (25) إِنۡ هَٰذَآ, Ini tidak lain إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ hanyalah perkataan manusia biasa!”

Ungkapan qutila pada ayat 19, secara harfiah “dia telah dibunuh” atau, sebagai kalimat kutukan, “semoga dia dibunuh”.

Karena penerjemahan ungkapan tersebut secara harfiah—baik dipahami sebagai suatu pernyataan faktual maupun sebagai kutukan—dalam hal ini tidak akan bermakna apa pun, banyak mufasir (di antaranya al-Thabari) memahaminya dalam pengertian “dia tertolak dari rahmat Allah”, yakni “dibunuh” secara spiritual oleh tindakan atau sikapnya sendiri; karenanya, Muhammad Asad menerjemahkannya menjadi, “dia membinasakan dirinya sendiri”.

Kemudian pada ayat 22, “dia bermuka masam dan terbelalak”, yakni, dia menjadi terlibat secara emosional karena di dalam hati dia curiga bahwa argumen-argumennya memang lemah.

“Dan pada akhirnya dia memalingkan punggungnya [dari pesan Kami], dan menyombongkan diri” dalam ayat 23, senada dengan surah al-‘Alaq [96]: 6-7, “Tidak, sungguh, manusia menjadi benar-benar melampaui batas, manakala dia menganggap dirinya sendiri serbacukup” (bisa dilihat Bacalah!(2)).

Berikutnya, istilah سِحۡرٞ (sihr), yang biasanya berarti “ilmu sihir” atau “permainan magis”, pada dasarnya berarti “pengubahan sesuatu dari keadaannya yang wajar [atau ‘alami’-nya] menjadi keadaan yang lain”; karena itu, ia sering digunakan untuk menunjuk pada daya tarik atau keterpesonaan luar biasa yang ditimbulkan oleh kepiawaian berbicara yang “memikat”.

Dalam pengertian peyoratifnya—seperti yang digunakan oleh para pengingkar kebenaran untuk menjuluki suatu pesan Ilahi—istilah ini juga berarti “tipu daya yang disengaja” atau “khayalan”.

[saqar] سَأُصۡلِيهِ [Karena itu] Aku akan menyebabkannya merasakan api-neraka [dalam kehidupan akhirat]! (al-Muddatstsir [74]: 26)

Tidak diragukan lagi, ini adalah ayat paling awal yang menyebutkan istilah saqar (api-neraka), salah satu di antara tujuh nama metaforis yang disebutkan dalam Qur’an untuk menunjuk pada konsep azab (penderitaan) di akhirat yang ditimpakan oleh manusia kepada dirinya sendiri karena berbuat dosa dan secara sengaja tetap berada dalam keadaan buta dan tuli, di dunia ini, terhadap kebenaran-kebenaran ruhani.

Adapun sifat alegoris tentang kondisi dan nasib manusia di akhirat pada ayat 26 ini dan pada semua gambaran lainnya dalam al-Qur’an jelas-jelas disinggung dalam ayat berikutnya, serta dalam ayat 28 dan seterusnya.

Wa ma adraka ma saqar(u), dan, apa yang dapat membuat engkau bisa membayangkan apakah api-neraka itu? (al-Muddatstsir [74]: 27)

 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ --- لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ, Ia tidak membiarkan hidup, dan tidak pula meninggalkan [mati], menjadikan [seluruh kebenaran] terlihat jelas oleh manusia. (al-Muddatstsir [74]: 28-29)

Kebanyakan mufasir menafsirkan frasa eliptis dalam ayat 29 dalam pengertian “mengubah tampilan manusia” atau “menghanguskan kulit manusia”.

Pada sisi lain, terjemahan yang Muhammad Asad gunakan didasarkan pada makna utama verbal laha—“ia tampak”, “ia muncul”, atau “menjadi terlihat”. Karena itu, makna utama dari nomina partisif intensif lawwah adalah “yang membuat [sesuatu] tampak”.

Dan dalam konteks di atas, istilah itu berkaitan dengan pemahaman si pendosa yang sudah terlambat tentang kebenaran, serta berkaitan dengan pengetahuan yang menyakitkan mengenai sifat dirinya sendiri, terhadap kegagalan di masa lalu dan kesalahan-kesalahannya yang disengaja, dan kesadaran bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas penderitaan yang kini menantinya: yakni, suatu keadaan yang “hidup bukan, mati pun tidak”.

ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ --- ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحۡيَىٰ, dia yang [di dalam kehidupan akhirat] akan merasakan api yang sangat besar, yang di dalamnya dia tidak akan mati dan tidak pula hidup. (al-A’la [87]: 12-13)

Demikian! []

Baca juga: Yang Berselubung (2)

Posting Komentar

0 Komentar