Bacalah! (2)

KITA lanjutkan terjemahan dan tafsir pada ayat 6 - 19 surah ke-96, al-‘Alaq, dari Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Text, Translation, and Commentary.

 كَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ --  أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ, Tidak, tetapi sungguh manusia melampaui batas, Karena melihat dirinya sudah serba cukup. (al-‘Alaq [96]: 6-7)

Semua ilmu dan kecakapan kita sebagai anugerah dari Allah. Tetapi manusia dalam kesombongan dan keangkuhannya menyalahartikan pemberian Tuhan itu sebagai hasil prestasinya sendiri.

Pemberian itu mungkin berupa kekuatan atau keindahan, kekayaan, kedudukan atau kekuasaan, atau pemberian yang lebih halus berupa ilmu dan bakat pada pribadi-pribadi,—atau sains, seni, pemerintahan atau organisasi bagi umat manusia umumnya.

إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجۡعَىٰٓ, Sungguh, kepada Tuhanmu akan kembali (semuanya). (al-‘Alaq [96]: 8)

Manusia tidak serba cukup, baik dalam kapasitasnya sebagai pribadi atau bersama-sama. Kalau dia mengaku pemberian Tuhan itu sebagai hasilnya sendiri, ia diingatkan—ke belakang, pada asal fisiknya yang hina (dari setetes bahan hewani), dan ke depan, pada tanggung jawabnya dan kembalinya yang terakhir kepada Allah.

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يَنۡهَىٰ -- عَبۡدًا إِذَا صَلَّىٰٓ, Kaulihatkah orang yang melarang—seorang hamba ketika ia salat?  (al-‘Alaq [96]: 9-10)

Kata-kata itu mungkin dipakai secara umum untuk manusia yang suka menentang, yang tidak saja menentang hukum Allah, tetapi juga merintangi orang yang akan mengikuti hukum itu.

Tetapi yang dimaksud di sini mungkin Abu Jahl, musuh Islam yang sudah berurat berakar, yang pada hari-hari permulaan Islam sudah biasa ia menghina dan mengejar-ngejar Nabi dan orang-orang yang mengikuti ajarannya.

Dia khususnya, sudah biasa memakai cara-cara yang hina dalam merintangi Nabi pergi ke Ka’bah untuk beribadah. Juga semua orang yang berada di menjadi pengikutnya dilarang datang ke tempat itu untuk melaksanakan salat atau ibadah-ibadah lainnya.

Sungguh, dia sangat sombong dan membanggakan kekayaannya; dan dia menemui ajalnya dalam perang Badr.

أَرَءَيۡتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ -- أَوۡ أَمَرَ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ, Kauperhatikankah jika ia (berada di jalan) yang dasarnya petunjuk? Atau menyuruh orang bertakwa? (al-‘Alaq [96]: 11-12)

Ada dua kesudahan sebagai akibat keangkuhan manusia: (1) kehancuran diri sendiri, dengan jalan menyesatkan dirinya; (2) memberikan contoh jahat atau bimbingan jahat kepada orang lain.

Karenanya, orang beriman harus menguji contoh atau bimbingan manusia itu dengan pertanyaan, “Adakah bimbingan Allah di balik itu?”

Dan cahaya yang jelas akan disorotkan kepadanya dengan pertanyaan, “Adakah bimbingan itu mengantarkannya kepada iman?”

Nah, ejekan kepada Tuhan dan kebenaran Tuhan akan menjawab pertanyaan pertama itu dengan mengiakan, dan sikap yang dasarnya kembali kepada dasar-dasar kebenaran abadi akan menjawab yang kedua.

أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ -- أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ, Kauperhatikankah bila ia mendustakan dan membuang muka? Tidakkah kau tahu bahwa Allah melihat? (al-‘Alaq [96]: 13-14)

Orang-orang yang tak beriman itu dengan muslihatnya yang sudah biasa tak mau menghadapi kebenaran. Kalau mereka disudutkan, apa yang buat orang yang berpikir sehat sudah jelas, mereka sangkal dan mereka pun mengelak.

 كَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ -- نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ, Tidak sekali-kali! Kalau dia tak mau berhenti akan Kami renggut dia di jambulnya,—Jambul orang yang berdusta, yang berdosa!  (al-‘Alaq [96]:15-16)

Untuk istilah “jambul” bisa dilihat: إِنِّي تَوَكَّلۡتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذُۢ بِنَاصِيَتِهَآۚ, Aku hanya bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu; tiada makhluk apa pun pasti Dia-lah Yang menggenggam gombaknya. (Hud [11]: 56).

Menggenggam gombak” ungkapan bahasa Arab mengenai gombak atau jambul kuda. Betapa orang yang menggenggamnya mempunyai kekuasaan penuh atas kuda itu, dan bagi kuda sendiri jambul merupakan mahkota keindahannya, inti kekuasaannya yang sangat ditonjolkan.

Maka, dalam konteks manusia, sekali lagi letak jambul itu di dahi, dan yang demikian melambangkan puncak dan mahkota kekuasaan atau martabat manusia. Dengan jambul direnggut itu berarti ia telah mengalami penghinaan yang sehina-hinanya.

فَلۡيَدۡعُ نَادِيَهُۥ, Maka biarlah dia memanggil kawan-kawan segolongannya: (al-‘Alaq [96]: 17)

Kaum musyrik Quraisy yang telah membentuk sebuah junta atau dewan yang kejam untuk mengurus Ka’bah itu bersimpati kepada Abu Jahl, meskipun mereka tidak seperti Abu Jahl yang begitu tegar hati sehingga tak terkendalikan lagi itu.

Tetapi mereka semua, bersama-sama, tak akan dapat menghambat gerak maju misi ilahi itu, kendati mereka sudah melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan hendak menghentikannya.

سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ, Kami akan memanggil malaikat-malaikat algojo (untuk menghadapinya)! (al-‘Alaq [96]: 18)

Sekalipun semua kekuatan jahat itu digabung, sekalipun kegemerlapan duniawi ada pada mereka, dan sekalipun untuk sementara mereka nampak berhasil, mereka tak akan dapat melawan Allah. Dia hanya tinggal memerintahkan pasukan-Nya untuk menghukum mereka, dan akan membungkam kejahatan itu, melindungi hamba-hamba Allah yang taat serta membela iman, yang untuk itu pula hamba-hamba itu bersedia menderita.

كَلَّا لَا تُطِعۡهُ وَٱسۡجُدۡۤ وَٱقۡتَرِب, Tidak sekali-kali, jangan pedulikan dia: Sujudlah dan dekatkan dirimu (kepada Allah)! (al-‘Alaq [96]: 19)

Orang beriman tak pernah punya rasa takut. Ia dapat menganggap sepi semua kekuatan jahat yang dihadapkan kepadanya. Tetapi dia harus belajar rendah hati. Itulah pertahanannya.

Ia akan sujud kepada Allah, harus punya kemauan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebab Allah selalu dekat kepadanya,—lebih dekat daripada urat merihnya sendiri.

 وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ, Kami telah menciptakan manusia, dan Kami tahu apa yang dibisikkan ke dalam batinnya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat merihnya sendiri. (Qaf [50]: 16)

Syahdan, betapa sikap rendah hati dan sujud itu di satu segi akan menghilangkan sifat kedegilan yang angkuh, di segi lain mempersiapkan kehendaknya untuk mencapai pendekatannya kepada Allah.

Demikian! []

Baca juga: Bacalah! (1)

Posting Komentar

0 Komentar