Hanya Allah yang tahu segala. Hanya Dia sendiri yang dapat menilai batas-batas keadilan dan kasih sayang.

Sementara kita, paling banyak hanya dapat melihat dari satu sisi kebenaran. Maka, soal peradilan dan hukuman bagi manusia, sedianya kita berela untuk menyerahkannya di tangan Allah semata.

ذَرۡÙ†ِÙŠ ÙˆَÙ…َÙ†ۡ Ø®َÙ„َÙ‚ۡتُ ÙˆَØ­ِيدٗا --- ÙˆَجَعَÙ„ۡتُ Ù„َÙ‡ُÛ¥ Ù…َالٗا Ù…َّÙ…ۡدُودٗا --- ÙˆَبَÙ†ِينَ Ø´ُÙ‡ُودٗا --- ÙˆَÙ…َÙ‡َّدتُّ Ù„َÙ‡ُÛ¥ تَÙ…ۡÙ‡ِيدٗا --- Ø«ُÙ…َّ ÙŠَØ·ۡÙ…َعُ Ø£َÙ†ۡ Ø£َزِيدَ

(11) Biarkan Aku sendiri [yang menangani] orang yang telah Kuciptakan dalam keadaan sendiri, (12) dan yang kepadanya telah Kuberikan sumber-sumber kekayaan yang luas, (13) dan anak-anak sebagai saksi [cinta], (14) dan yang kesempatan dalam hidupnya telah Kuluaskan sedemikian rupa, (15) sungguhpun begitu, dengan tamak dia menginginkan agar Aku memberinya bahkan lebih banyak lagi!

Atau: “ … yang Aku sendiri telah ciptakan”, kalimat yang sebelumnya telah dijelaskan di Yang Berselimut (3). Bahwa ungkapan “sendiri” (wahid) merujuk pada Allah. Bahwa ada kebergantungan mutlak manusia kepada-Nya.

Juga menandakan seolah Allah berfirman, “Serahkan saja pada-Ku untuk memutuskan apa yang harus Kulakukan terhadap siapa saja yang melupakan Aku sebagai Pencipta dan Pemeliharanya”.

Dengan demikian kita tak berhak memvonis terhadap orang-orang yang “mengingkari kebenaran”. Sebab hal itu sepenuhnya prerogatif Tuhan.

Pada ayat 14, yakni, “yang telah Aku anugerahkan dengan potensi-potensi yang jauh melampaui potensi-potensi yang tersedia bagi makhluk hidup lainnya”.

ÙƒَÙ„َّآۖ Ø¥ِÙ†َّÙ‡ُÛ¥ Ùƒَانَ Ù„ِØ£ٓÙŠَٰتِÙ†َا عَÙ†ِيدٗا --- سَØ£ُرۡÙ‡ِÙ‚ُÙ‡ُÛ¥ صَعُودًا

(16) Sekali-kali tidak, sungguh, terhadap pesan-pesan Kami-lah dengan sengaja dan keras kepala dia berketetapan hari untuk melawan—(17) [maka] Aku akan memaksanya menjalani pendakian berat yang amat menyakitkan!

Nomina عَÙ†ِيدٗا (‘anid) dari verba ‘anada, berarti “orang yang menentang atau menolak sesuatu yang benar, meskipun mengetahui hal itu benar”.

Adanya unsur kekeraskepalaan dan pembangkangan manusia tersebut ditunjukkan oleh penggunaan verba bantu Ùƒَانَ, yang di sini menunjukkan fenomena yang terus-menerus berulang walau kalimatnya dirumuskan dalam bentuk lampau.

Berikutnya, jika digabungkan dengan verba  Ø£ُرۡÙ‡ِÙ‚ُÙ‡ُ (Aku akan memaksanya menjalani), kata صَعُودً (lit., “mendaki” atau “menanjak”) memiliki makna kiasan sesuatu yang sangat sulit, menyakitkan, atau menyedihkan.

Maka, dalam konteks tersebut, istilah ini secara tidak langsung mengacu pada hilangnya kemurnian naluriah—dan, karenanya, juga pada penderitaan individu dan sosial—yang pasti akan terjadi sebagai akibat tindakan manusia yang sengaja melalaikan kebenaran moral dan spiritual (pesan-pesan Tuhan) di dunia ini, dan menghalangi perkembangan spiritualnya dalam kehidupan yang akan datang.

Demikian terjemahan dan tafsir ayat 11-17 surah 74, al-Muddatstsir, oleh Muhammad Asad. []

Baca juga: Yang Berselubung (1)