Ada apa dengan angka 19? Kenapa bukan 18 atau 20?
عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ, di atasnya ada sembilan belas [kekuatan]. (al-Muddatstsir [74]: 30)
Selagi kita mendapati terjemahan angka “sembilas belas” itu
mengacu pada para malaikat yang bertindak sebagai penjaga atau pengawal neraka,
Muhammad Asad, merujuk pendapat Al-Razi, mengemukakan pandangan bahwa ia
merupakan acuan terhadap kekuatan-kekuatan fisik, intelektual, dan emosional
dalam diri manusia sendiri.
Kekuatan-kekuatan yang secara potensial mengangkat manusia
jauh melampaui makhluk lain, tetapi yang—jika digunakan secara salah—akan
menimbulkan keruntuhan seluruh kepribadiannya dan, karenanya, mengakibatkan
penderitaan mendalam di akhirat.
Menurut Al-Razi, para filosof mengidentifikasi
kekuatan-kekuatan atau daya-daya ini dengan, pertama, tujuh fungsi
organik tubuh hewan—dan juga manusia—(yakni: gravitasi, kohesi, penolakan
terhadap materi asing yang berbahaya, penyerapan materi eksternal yang berguna,
asimilasi zat gizi, pertumbuhan , dan reproduksi).
Kedua, lima indra “eksternal” atau fisik (yakni: penglihatan,
pendengaran, rabaan, penciuman, dan pengecapan).
Ketiga, lima indra “internal” atau intelektual, yang
oleh Ibn Sina—yang kepadanya Al-Razi tampaknya menyandarkan pendapatnya—didefinisikan
sebagai berikut: (1) persepsi tentang citra-citra indriawi yang terpisah, (2)
apersepsi sadar terhadap sejumlah gagasan, (3) ingatan terhadap citra-citra
indriawi, (4) ingatan terhadap apersepsi sadar, (5) kemampuan untuk
menghubungkan citra-citra indriawi dengan apersepsi yang lebih tinggi.
Dan terakhir, keempat, emosi-emosi keinginan atau
keengganan (yakni: ketakutan atau kemarahan), yang berakar pada
kategori-kategori-indriawi eksternal maupun internal.
Dengan demikian, keseluruhan daya dan kemampuan yang
mengendalikan nasib spiritual manusia itu berjumlah sembilas belas. Dan secara
keseluruhan, kekuatan-kekuatan itulah yang memberi manusia kemampuan berpikir
secara konseptual, serta menempatkan dirinya, dalam hal ini, bahkan di atas
para malaikat.
وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ وَمَا
جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ
أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ
ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم
مَّرَضٞ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ
ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا
هُوَۚ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ
Karena Kami tidak menjadikan siapa pun kecuali
kekuatan-kekuatan malaikati untuk berkuasa atas api [neraka itu];
dan Kami menjadikan bilangan mereka itu tidak lain hanyalah sebagai ujian bagi
mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran—agar orang-orang yang telah
dikaruniai wahyu sebelumnya dapat diyakinkan [mengenai kebenaran kitab
Ilahi ini]; dan agar orang-orang yang telah meraih iman [kepadanya]
semakin bertambah teguh imannya; dan agar [baik] mereka yang telah
dikaruniai wahyu sebelumnya maupun mereka yang beriman [kepada wahyu
al-Qur’an ini] dapat dibebaskan dari segala keraguan; dan agar mereka
yang di dalam hatinya ada penyakit dan mereka yang sama sekali mengingkari
kebenaran dapat bertanya, “Apakah maksud Allah[-mu] dengan
perumpamaan ini?”
Demikianlah Allah membiarkan tersesat orang yang ingin
[tersesat], dan memberi petunjuk ke jalan yang benar orang yang ingin
[diberi petunjuk].
Dan, tidak ada yang mampu memahami pasukan-pasukan Pemeliharamu,
kecuali Dia sendiri: dan semua ini tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.
(al-Muddatstsir [74]: 31)
Literal “Dan Kami hanya menetapkan para malaikat yang
menjaga api neraka” (oleh Muhammad Asad: “Karena Kami tidak menjadikan siapa
pun kecuali kekuatan-kekuatan malaikati untuk berkuasa atas api [neraka
itu]”), karena—berkat daya persepsi-sadar serta kemampuan berpikir
konseptualnya—manusia dapat sampai pada pengetahuan untuk membedakan antara
kebaikan dan keburukan.
Dan, dengan begitu, naik menuju puncak-puncak spiritual yang
agung, sehingga kekuatan-kekuatan ini digambarkan di sini sebagai “bersifat
kemalaikatan” (secara harfiah “para malaikat” ini merupakan penyebutan istilah malak
yang paling awal dalam sejarah pewahyuan al-Qur’an).
Di sisi lain, karena kelalaian atau penyalahgunaan yang
disengaja terhadap kekuatan-kekuatan malaikati ini merupakan akar segala
perbuatan dosa manusia dan, karenanya, juga akar penderitaannya di akhirat,
kekuatan-kekuatan ini disebut sebagai “para penguasa (ashhab) api
[neraka]”.
Kemudian Muhammad Asad menafsirkan “dan Kami menjadikan
bilangan mereka itu tidak lain hanyalah sebagai ujian bagi mereka yang berkukuh
mengingkari kebenaran”, adalah bahwa hal ini secara tidak langsung
berbicara tentang sifat alegoris pasase ini, yang isinya sendiri ditolak oleh
“mereka yang mengingkari kebenaran” sehingga maknanya gagal ditangkap oleh
mereka.
Karena mereka berspekulasi mengenai alasan-alasan yang,
menurut dugaan mereka, mendorong Nabi Muhammad Saw. memberikan penekanan pada
suatu jumlah tertentu (lantaran mereka memandang Nabi sebagai “pengarang”
al-Qur’an), mereka cenderung memahami alegori ini secara harfiah sehingga
akhirnya sama sekali tidak dapat menangkap maksud ayat ini.
Literal “untuk meyakinkan Ahli Kitab” (oleh Muhammad Asad
diterjemahkan, “agar orang-orang yang telah dikaruniai wahyu sebelumnya
dapat diyakinkan [mengenai kebenaran kitab Ilahi ini]”), yakni,
dengan dijadikan mampu—melalui pemahaman terhadap alegori di atas—mengapresiasi
pendekatan rasional Al-Quran berkenaan dengan semua persoalan agama.
Dan sebutan Ahli Kitab (orang-orang yang telah dikaruniai
wahyu sebelumnya) merupakan pernyataan paling awal yang menggambarkan prinsip
kesinambungan pengalaman keagamaan umat manusia.
Berikutnya ungkapan “dan agar mereka yang di dalam hatinya
ada penyakit”, yakni, orang-orang setengah hati yang, meskipun mampu
membedakan antara yang benar dan yang salah, cenderung pada kekafiran.
Lantas, diperlukan penyisipan kata “mu” di antara dua kurung siku pada "Apakah maksud Allah[-mu] dengan perumpamaan ini?”, tidak lain karena fakta bahwa orang-orang yang tidak berimanlah yang menanyakan masalah ini.
Maka, penekanan “perumpamaan” (matsal) di sini
memiliki tujuan yang sama dengan yang ada dalam surah al-Baqarah [2]: 26, Perhatikanlah,
Allah tidak segan-segan mengemukakan sebuah perumpamaan seekor nyamuk atau
perumpamaan sesuatu yang [bahkan] lebih rendah daripada itu. Adapun orang-orang
yang telah meraih iman, mereka tahu bahwa (perumpamaan) itu adalah kebenaran
dari Pemelihara mereka—sementara orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran
berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?”, yaitu mencegah agar
para pengikut al-Qur’an tidak melekatkan makna harfiah pada gambaran-gambaran
eskatologisnya—suatu tujuan yang diungkapkan dengan tepat pada kalimat penutup
ayat ini: “Semua ini tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia”.
Demikianlah penjelasan Muhammad Asad atas ayat 30-31 surah
al-Muddatstsir [74]! []
Baca juga: Yang Berselubung (3)

0 Komentar