Tali-Temali yang Dipilin

[Muhammad Asad: Tafsir Juz’amma] surah 111, Al-Masad (tali-temali yang dipilin).

Nama surah yang tergolong sebagai salah satu surah paling awal ini—yakni, surah keenam dalam urutan pewahyuan—diambil dari kata yang muncul pada ayat terakhirnya.

Surah ini berkenaan dengan permusuhan sengit yang selalu ditunjukkan paman Nabi, Abu Lahab, terhadap risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw.: suatu permusuhan yang berakar dari wataknya yang sombong, kebanggaan atas kekayaannya yang berlimpah, serta ketidaksukaannya terhadap gagasan yang dibawa Nabi Muhammad Saw., yakni bahwa semua manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Tuhan dan akan diadili oleh-Nya semata-mata karena baik-buruk perilakunya sendiri.

Seperti dikisahkan oleh beberapa ahli yang tak terbantahkan—di antaranya Al-Bukhari dan Muslim—pada suatu hari, Nabi Muhammad Saw. mendaki Bukit Al-Shafa di Makkah dan menyeru semua orang dari antara sukunya, Quraisy, yang bisa mendengarnya.

Ketika mereka telah berkumpul, Nabi menanyai mereka, “Wahai, Bani ‘Abdul Muthalib! Wahai, Bani Fihri! Seandainya aku beritakan kepada kalian bahwa ada pasukan musuh yang akan menyerang kalian dari balik bukit itu, akankah kalian memercayaiku?” Mereka menjawab, “Ya, kami percaya.” Kemudian beliau berkata, “Kalau begitu, perhatikanlah. Kini aku berada di sini untuk memperingatkan kalian akan kedatangan Saat Terakhir!” Serta merta Abu Lahab berseru, “Untuk tujuan inikah engkau memanggil kami? Binasalah engkau!”

Sesaat kemudian, diwahyukanlah surah ini.

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat:

تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ وَتَبَّ, Binasalah kedua tangan dia, yang wajahnya merah menyala, dan binasalah dia!

مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ, Apalah faedah harta bendanya baginya, dan segala yang telah dia usahakan?

سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ, [Di akhirat,] dia akan merasakan api yang hebat menyala,

وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ, bersama istrinya, pembawa cerita-cerita jahat,

فِي جِيدِهَا حَبۡلٞ مِّن مَّسَدِۢ, [yang memakai] di lehernya untaian tali-temali yang dipilin!

Nama asli paman Nabi ini adalah ‘Abd Al-‘Uzza. Secara populer, dia dijuluki dengan nama Abu Lahab (lit., “Bapak Api”) karena ketampanannya, yang tampak amat menonjol dari raut wajahnya yang merah menyala.

Karena julukan—atau kun-yah—ini tampaknya telah diberikan kepadanya bahkan sebelum datangnya Islam, tidak ada alasan untuk menganggap bahwa julukan tersebut memiliki makna peyoratif (merendahkan).

Sesuai dengan penggunaannya dalam bahasa Arab klasik, ungkapan “tangan” dalam kalimat di atas merupakan metonimia bagi “kekuasaan”, yang mengacu pada kuatnya pengaruh yang dimiliki Abu Lahab.

Kemudian, ungkapan نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ, merupakan permainan makna yang halus dari julukan Abu Lahab.

Dan secara literal حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ adalah “pembawa kayu bakar”—sebuah ungkapan idiomatik yang masyhur yang menunjukkan orang yang secara sembunyi-sembunyi membawa cerita-cerita jahat dan fitnah dari satu orang ke orang lainnya “sedemikian rupa sehingga mengobarkan api kebencian di antara mereka”.

Nama perempuan itu adalah Arwa umm Jamil binti Harb ibn Umayyah: dia adalah saudara perempuan Abu Sufyan dan, dengan demikian, adalah bibi Mu’awiyyah dari pihak ayah, pendiri Dinasti Umayyah.

Kebenciannya terhadap Nabi Muhammad Saw. dan pengikut-pengikutnya sedemikian kuat sehingga dia sering kali, di tengah gelapnya malam, menaburkan duri di depan rumah Nabi untuk menyakitinya; dan dia memanfaatkan kepandaiannya dalam berbicara untuk terus-menerus memfitnah Nabi dan risalahnya.

Lantas, istilah masad berarti apa saja yang terbuat dari tali yang dipilin, terlepas dari bahan pembuatnya. Dalam pengertian abstraknya—yang tampaknya dipergunakan di sini—frasa di atas tampaknya memiliki dua pengertian: pertama, secara tidak langsung mengacu pada sifat perempuan di atas yang bengkok dan menyimpang serta, kedua, mengacu pada kebenaran spiritual bahwa “nasib setiap manusia telah Kami ikatkan di lehernya” yang, bersama dengan ayat 2 (apalah faedah harta bendanya baginya, dan segala yang telah dia usahakan?), mengungkapkan makna umum dan abadi dari surah ini.

وَكُلَّ إِنسَٰنٍ أَلۡزَمۡنَٰهُ طَٰٓئِرَهُۥ فِي عُنُقِهِۦۖ وَنُخۡرِجُ لَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ كِتَٰبٗا يَلۡقَىٰهُ مَنشُورًا

Dan, nasib setiap manusia telah Kami ikatkan di lehernya; pada Hari Kebangkitan akan Kami keluarkan baginya sebuah catatan yang dijumpainya terbuka lebar. (Al-Isra’ [17]: 13)

Kata طَٰٓئِرَهُ secara harfiah berarti “burung”, atau lebih tepatnya “makhluk terbang”.

Karena bangsa Arab pra-Islam sering berupaya menentukan pertanda baik dan pertanda buruk, dan pada umumnya berusaha meramalkan masa depan dengan melihat cara dan arah terbangnya burung, istilah طَٰٓئِرَهُ akhirnya secara figuratif digunakan dalam pengertian “peruntungan” (yang baik maupun yang buruk) atau “nasib”.

Namun, kita mesti ingat bahwa konsep Al-Quran tentang “nasib” tidak banyak sangkut-pautnya dengan keadaan eksternal dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia; alih-alih, ia berkaitan dengan arah kehidupan yang terjadi sebagai akibat dari hasil pilihan moral seseorang: dengan kata lain, ia berhubungan dengan takdir spiritual manusia; dan hal ini pada gilirannya bergantung pada—sebagaimana sering dijelaskan Al-Quran—kecenderungan, sikap, dan tindakan sadar seseorang (termasuk menahan diri dari berbuat jahat ataupun dengan sengaja tidak mau berbuat baik).

Oleh karena itu, takdir spiritual manusia bergantung pada dirinya sendiri, dan berkaitan erat dengan keseluruhan karakter pribadinya, dan, karena Allah-lah yang menjadikan manusia bertanggung jawab atas tingkah lakunya di dunia. Allah Swt. menyebut diri-Nya sendiri sebagai telah “mengikatkan nasib setiap manusia pada lehernya”.

Demikian! []

Baca juga: Tanggung Jawab Individu, dan PernyataanKesempurnaan Allah

Posting Komentar

0 Komentar