Pernyataan Kesempurnaan Allah

[Muhammad Asad: Tafsir Juz’amma] surah 112, Al-Ikhlash (Pernyataan Kesempurnaan Allah).

Sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadis sahih, Nabi biasa menggambarkan surah ini sebagai “setara dengan sepertiga Al-Qur’an”. Dan surah ini diwahyukan pada periode Makkah awal.

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat:

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ, KATAKANLAH: “Dia-lah Tuhan Yang Esa:

ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ, “Tuhan Yang Abadi, Penyebab Tak Bersebab dari Segala Keberadaan.

لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ, “Dia tiada beranak dan tiada pula Dia diperanakkan;

وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ, “dan tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya.”

Pada “Tuhan Yang Abadi, Penyebab Tak Bersebab dari Segala Keberadaan”, memberikan perkiraan makna dari istilah al-shamad, yang muncul hanya sekali dalam Al-Qur’an, dan digunakan hanya untuk Allah.

Istilah itu mencakup konsep Sebab Pertama (Causa Prima) serta Zat yang abadi dan independen, yang dikombinasikan dengan ide bahwa segala sesuatu yang ada atau yang dapat dipikirkan, akan kembali kepada-Nya sebagai sumber asalnya dan, karenanya, bergantung kepada-Nya, baik pada permulaannya maupun untuk keberlangsungan eksistensinya.

Dan dari ayat 4, bisa kita lihat pula pada surah Al-Fajr [89]: 3, وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ, secara literal “yang genap dan yang ganjil” atau “yang esa”: yakni keanekargaman ciptaan sebagaimana dikontraskan dengan keesaan dan keunikan Sang Pencipta.

Bahwa konsep “angka genap” menyiratkan eksistensi hal sejenis yang lebih dari satu: dengan kata lain, hal itu berarti segala sesuatu yang memiliki pasangan atau pasangan-pasangan dan, karena itu, memiliki suatu hubungan yang pasti dengan sesuatu yang lain, yang mengacu pada polaritas yang tampak nyata dalam seluruh ciptaaan.

Sebagai lawan dari konsep “yang banyak” (al-syaf’) ini, istilah al-watr utamanya berarti “yang tunggal” atau “yang esa” dan, karena itu, merupakan salah satu penamaan yang diberikan kepada Allah—lantaran لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ, “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (Al-Syura [42]: 11), atau وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ “tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya”.

Kemudian fakta bahwa Allah itu esa dan unik secara mutlak, tanpa awal dan tanpa akhir, memiliki korelasi logis dengan pernyataan bahwa “tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya”—dengan demikian, mencegah segala kemungkinan untuk menggambarkan atau mendefinisikan-Nya.

سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ … “…Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Nya, dan Mahatinggi (Dia) melampaui segala definisi yang dapat manusia pikiran.” (Al-An’am [6]: 100). Yakni, Dia sungguh jauh dari segala ketidaksempurnaan dan kekurangan, sebagaimana yang terkandung dalam konsep memiliki anak. Konsep “definisi” sendiri menunjukkan kemungkinan untuk membandingkan atau menghubungkan suatu objek dengan objek-objek lainnya.

Artinya, segala upaya untuk mendefinisikan Dia atau “sifat-sifat”-Nya mustahil dilakukan dan, dari sudut pandang etis, merupakan suatu dosa. Fakta bahwa Dia tidak dapat didefinisikan memberikan kejelasan bahwa “sifat-sifat” (shifat) Allah yang disebutkan dalam Al-Quran tidak membatasi (mendefinisikan) realitas-Nya (Zat-Nya), alih-alih menggambarkan dampak aktivtas-Nya yang terindra terhadap dan dalam alam semesta yang diciptakan-Nya.

Karena itu, kualitas Wujud-Nya melampaui jangkauan pemahaman atau imajinasi manusia: ini juga menjelaskan, sekali lagi, mengapa usaha-usaha “melukiskan” Allah melalui representasi figuratif (yakni dengan gambar-gambar atau patung-patung) atau bahkan melalui simbol-simbol abstrak harus digolongkan sebagai pengingkaran yang nista terhadap kebenaran.

Demikian! []

Baca juga: Fajar Menyingsing

Posting Komentar

0 Komentar