Pena (6)

Merujuk ayat-ayat berikut ini, al-Qalam atau pena [68]: 48-52, ada dua alegori mengenai karunia dan pengampunan Allah, dan diperintahkan supaya bersabar dan menerima segala kehendak Allah secara utuh dan dengan hati gembira.

فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ --- لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ وَهُوَ مَذۡمُومٞ --- فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

(48) Maka, tunggulah dengan sabar perintah Tuhanmu, janganlah seperti orang (yang di perut) ikan, ketika ia berdoa dengan hati sedih. (49) [Dan ingatlah:] sekiranya karunia dari Tuhannya tidak segera menyusulnya, pastilah ia terlempar ke darat yang tandus dalam keadaan hina. (50) Maka Tuhannya memilihnya dan memasukkannya ke dalam golongan orang yang saleh.

Ungkapan وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ (dan janganlah engkau seperti orang yang berada dalam ikan) mengacu pada Nabi Yunus. Seperti disebutkan dalam Surah al-Shaffat [37]: 140, “dia melarikan diri bagaikan seorang budak yang kabur”, yakni dari tugas yang telah diamanatkan Allah kepadanya, karena kaumnya tidak langsung menerima kebenaran dakwahnya: dan, demikian pulalah Baginda Nabi Muhammad diingatkan agar beliau tidak berputus asa atau marah sehubungan dengan perlawanan yang ditunjukkan kepadanya oleh sebagian besar kaumnya di Makkah, tetapi harus tetap gigih dalam misi kenabiannya.

Kita baca dalam sejarah, Nabi Yunus diminta mengingatkan penduduk Niniveh, sebuah kota yang sudah hanyut ke dalam kejahatan. Dia dihadapi dengan permusuhan dan penganiayaan. Ia pergi meninggalkan mereka, dan naik sebuah kapal.

Tetapi kemudian ia terperangkap ke dalam angin ribut dan dilemparkan ke laut. Dia ditelan oleh ikan atau ikan paus. Dia bertobat dalam penjara hidup itu, dan diampuni.

Ya, dengan karunia dan rahmat Allah, Yunus dipilih menjadi Utusan Allah ke Niniveh. Jika dalam kelemahannya sebagai manusia ia kehilangan sedikit kesabaran, ia sudah menerima hukuman. Tetapi tobatnya yang sungguh-sungguh serta rasa syukurnya atas kemurahan dan karunia Allah, telah menyembuhkannya kembali dari ketegangan jasmani dan jiwanya, dan dari kekaburan cahaya rohani dalam dirinya.

وَإِن يَكَادُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَيُزۡلِقُونَكَ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ لَمَّا سَمِعُواْ ٱلذِّكۡرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُۥ لَمَجۡنُونٞ

Dan orang-orang kafir hampir-hampir menggelincirkan engkau dengan pandangan mata mereka setelah mendengar peringatan; dan mereka berkata: “Sungguh, dia orang adalah gila!” (al-Qalam [68]: 51)

Mata orang-orang jahat itu melihat Baginda Nabi atau orang yang baik-baik seperti mau “melahapnya”, mau menjebak atau mengusiknya dari posisinya yang sudah mantap. Mereka memakai segala cara untuk menistanya sebagai “orang gila” atau “orang yang kemasukan roh jahat” dan sebagainya.

Tetapi orang beriman tak akan beranjak, dan tetap istikamah, tetap menempuh jalan yang lurus. Ajaran Allah itu benar dan akan bertahan terus, dan itulah amanat kepada alam semesta.

وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ, Tetapi tak lain ia (Qur’an) adalah sebuah peringatan untuk semesta alam. (al-Qalam [68]: 52)  

Ini sangat berlawanan dengan apa yang disebut gila atau kesurupan setan. Samasekali sebaliknya, Baginda Nabi tak akan mengucapkan kata0kata yang hendak memecah belah atau mungkin membahayakan.

Beliau membawa ajaran hakikat yang benaranya, yang akan mengobati segala kejahatan, kejahatan dunia dalam segala bentuknya.

Dan mengenai alam atau dunia yang berbeda-beda, lihat terjemahan dan tafsir al-Fatihah ayat 2, ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ dalam Pembukaan.

Bahwa terdapat banyak dunia—dunia astronomi dan dunia fisika, dunia pikiran dan seterusnya. Pada setiap dunia itu, Allah adalah segalanya. Dalam hal ini, bila kita berkata: “Di dalam Dia kita hidup, kita bergerak dan itulah wujud kita” baru satu segi saja yang kita nyatakan. Sebab, pembagian dalam pengertian rohani: (1) Nasut, ilmu dunia manusia dengan indra (2) Malakut, dunia malaikat yang gaib, dan (3) Lahut, dunia ilahi Hakikat.

Demikian Pena (6), bagian akhir dari terjemahan dan tafsir al-Qalam [68] oleh Abdullah Yusuf Ali. Dan menurut kronologi turunnya wahyu, surah al-Qalam ini kemungkinan turun segera setelah lima ayat pertama, al-‘Alaq [96].

Baca juga: Pena (5)

Posting Komentar

0 Komentar