Pena (5)

Abdullah Yusuf Ali menandaskan bahwa yang pasti tak akan ada yang dapat mengetahui atau mengendalikan yang gaib. Maka, kata-kata wahyu yang diturunkan Allah, Yang lebih mengetahui segalanya, harus kita dengarkan.

Kita mulai dari, أَمۡ لَكُمۡ أَيۡمَٰنٌ عَلَيۡنَا بَٰلِغَةٌ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّ لَكُمۡ لَمَا تَحۡكُمُونَ

Ataukah ada ikrar kamu dengan Kami di bawah sumpah, sampai hari kiamat, bahwa kamu berhak atas apa yang kamu putuskan? (al-Qalam [68]: 39)

Melanjutkan ayat-ayat sebelumnya—pada Pena (4)—, dalam ayat 39 ini bisa dipahami: golongan musyrik tak dapat menuntut bahwa mereka punya ikrar atau janji khusus dengan Allah yang memberikan kedudukan lebih istimewa kepada mereka melebihi yang lain. Gagasan “Bangsa Pilihan” orang-orang Yahudi juga dikutuk.

Memang benar bahwa ada bangsa atau golongan tertentu, karena bakatnya yang lebih khusus, oleh Allah dipilih untuk menerima dan menyampaikan wahyu-Nya. Tetapi ini dengan syarat mengikuti hukum Allah.

Begitu mereka menjadi sombong atau hanya mementingkan diri sendiri, mereka akan kehilangan kedudukan itu. Mereka tak dapat mengontrak dan memborong terus-menerus dan tanpa syarat sampai hari kiamat.

سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ --- أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَآءُ فَلۡيَأۡتُواْ بِشُرَكَآئِهِمۡ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ --- يَوۡمَ يُكۡشَفُ عَن سَاقٖ وَيُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ --- خَٰشِعَةً أَبۡصَٰرُهُمۡ تَرۡهَقُهُمۡ ذِلَّةٞۖ وَقَدۡ كَانُواْ يُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ وَهُمۡ سَٰلِمُونَ

(40) Tanyakanlah kepada mereka, siapa di antara mereka yang memegang tanggung jawab? (41) ataukah mereka punya sekutu-sekutu [Tuhan]? Kalau begitu, bawalah sekutu-sekutu mereka, jika mereka berkata benar! (42) pada hari tatkala tulang betis disingkapkan dan mereka dipanggil supaya sujud ternyata tak mampu, (43) mata mereka menekur ke bawah dalam kehinaan; padahal dahulu mereka telah dipanggil bersujud, waktu mereka sehat, [dan mereka menolak].

Secara literal أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَآءُ, “ataukah mereka memiliki sekutu?”, yakni, orang-orang bijak yang akan mendukung pandangan dan jalan hidup mereka.

Dalam [terjemahan dan tafsir dari Abdullah Yusuf Ali] شُرَكَآءُ, “sekutu-sekutu [Tuhan]”, yakni seperti ajaran Trinitas, atau bentuk politeisme yang bagaimanapun, merupakan ajaran yang akan merusak ajaran Tauhid yang pokok.

Dan secara literal يَوۡمَ يُكۡشَفُ عَن سَاقٖ, “ketika [tulang]-kering akan disingkapkan”: yakni ketika pikiran, perasaan, dan motivasi terdalam manusia akan disingkapkan sejelas-jelasnya. [Oleh Abdullah Yusuf Ali] menjadi “pada hari tatkala tulang betis disingkapkan”, ketika manusia dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya pada hari kiamat.

Pada peristiwa itu, manusia akan dipanggil agar melaksanakan ibadahnya, yang bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan yang wajar, saat hakikat itu benar-benar sudah menampakkan diri: Keagungan Allah akan sangat memesonakan orang-orang kafir, yang dulunya ketika masih punya kebebasan memilih, mereka sengaja mengabaikan, menolak, dan merintangi.

Kenangan mereka masa silam, digabungkan dengan keadaan mereka sekarang, mereka akan diliputi oleh rasa cemas dan hina.

فَذَرۡنِي وَمَن يُكَذِّبُ بِهَٰذَا ٱلۡحَدِيثِۖ سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ --- وَأُمۡلِي لَهُمۡۚ إِنَّ كَيۡدِي مَتِينٌ

(44) Maka tinggalkanlah Daku menghadapi orang-orang yang mendustakan wahyu ini: akan Kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang tak mereka ketahui. (45) Aku memberi waktu [lama] kepada mereka; sungguh, rencana-Ku sangat kuat.

Kita perhatikan perubahan antara “Daku” dengan “Kami”, juga “Aku” dan “Ku” dalam ayat berikutnya. Bahwa nama diri (person) pertama dalam bentuk jamak yang biasa dipakai dalam Qur’an sebagai Kalamullah adalah bentuk jamak penghormatan. Juga nama diri pertama dalam bentuk jamak dipakai dalam keputusan-keputusan kerajaan.

Nah, bila yang dipakai nama diri pertama dalam bentuk tunggal, menandakan hubungan personal yang khusus, baik berupa karunia atau kenikmatan.

Dan secara keseluruhan ayat 44 ini, menuntun supaya kita tak perlu sesak napas melihat orang jahat mengalami kemajuan. Apa yang tampaknya sekarang begitu maju, mungkin itu baru akan merupakan sebagian dari azab. Mungkin akan ada azab berkepanjangan berupa bencana alam; tetapi azab yang berkembang biasanya berangsur-angsur dan pasti.

Namun demikian, secara keseluruhan kita tak akan dapat melihat rencana Tuhan; dan bukan pula tugas kita untuk mengetahuinya. Cukuplah, bahwa hanya Allah sendirilah yang berhak memutuskan apakah akan, atau bagaimana cara, menghukum mereka.

Pada ayat 45, “rencana-Ku sangat kuat”, menunjukkan rencana tak terduga Allah sehubungan dengan penciptaan. Manusia hanya dapat melihat rencana penciptaan ini sepintas saja dalam penggalan-penggalan yang terpisah, tanpa pernah dapat melihat keseluruhannya: suatu rencana yang di dalamnya segala sesuatu dan semua peristiwa memiliki fungsi yang pasti, dan tidak ada yang bersifat kebetulan.

Lebih jelas Allah menandaskan dalam Yunus [10]: 5, مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ, tiada satu pun dari ini yang telah Allah ciptakan tanpa kebenaran [hakiki]. Secara tidak langsung, ayat 45 surah al-Qalam di atas menyinggung pertanyaan mengenai mengapa Allah membiarkan begitu banyak orang jahat menikmati kehidupan mereka sepenuhnya, sedngkan begitu banyak orang saleh dibiarkan menderita: jawabannya adalah bahwa sepanjang hidupnya di dunia ini, manusia tidak dapat benar-benar memahami ke manakah hal-hal yang tampaknya merupakan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu pada akhirnya akan berujung, dan peran apakah yang mereka mainkan dalam “rencana-Ku sangat kuat”.

أَمۡ تَسۡ‍َٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ, Ataukah engkau meminta upah kepada mereka, sehingga akan membuat mereka dibebani utang? (al-Qalam [68]: 46)

Orang-orang itu tidak dibebani biaya apa pun untuk mendengarkan seruan Nabi, sebab Nabi memang tidak meminta imbalan, bahkan untuk kepentingan mereka itu ia menderita. Nabi tak perlu mencari pujian atau terima kasih atau perubahan.

Mula-mula seruan itu ditujukan kepada al-Musthafa, tetapi juga berlaku umum bahwa orang yang beriman takkan meminta upah untuk ceramah agamanya. Kalau ia melakukan itu, nilainya sangat tinggi untuk dibayar.

أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ, Ataukah mereka sudah mengetahui yang gaib, lalu menuliskannya? (al-Qalam [68]: 47)

Secara tersirat, “dan, karenanya, mereka tidak perlu mendengarkan wahyu Allah”. Hal ini untuk mengurai dan mengembangkan lebih jauh yang telah disinggung dalam surah al-‘Alaq [96]: 6-7 (sila tengok: Bacalah![2]).

Dan secara lebih khusus, ini menunjukkan salahnya kepercayaan arogan yang menganggap bahwa solusi bagi segala misteri alam semesta “sudah berada di ambang pintu” dan bahwa sains yang berpusat pada manusia—yang dalam ayat 47 diisyaratkan dengan penyebutan kata “menuliskannya”—dapat dan akan mengajarkan para ahlinya bagaimana “menaklukan alam” dan bagaimana meraih apa yang mereka anggap sebagai kehidupan yang baik.

Demikian! []

Posting Komentar

0 Komentar