Pembukaan

Terjemahan dan tafsir al-Fatihah

Atas dasar kesamaan pendapat, memang tepat sekali surah ini ditempatkan pada permulaan Qur’an, sebagai intisari dalam ungkapan yang begitu padat dan menakjubkan serta dengan kata-kata yang menyeluruh, mengenai hubungan manusia dengan Allah dalam tafakur dan dalam salat.

Dalam tafakur, secara rohani kata-kata pertama harus berupa puji-pujian. Kalau puji-pujian keluar dari hati nurani kita yang paling dalam, maka itu akan membawa kita menyatu dengan iradat Allah. Kemudian mata kita melihat segala yang baik, damai dan serasi.

Segala kejahatan, pembangkangan dan pertentangan harus disingkirkan. Semua itu tidak boleh ada buat kita, karena dalam puji-pujian itu mata kita sudah terangkat jauh di atas semua itu.

Lalu kita melihat sifat-sifat Allah yang lebih indah (ayat 2-4). Ini mengantarkan kita kepada sikap kita dalam beribadat dan berserah diri (ayat 5). Dan akhirnya tiba pada doa untuk memohonkan petunjuk, serta bertafakur mengenai petunjuk yang dimaksudkan itu (ayat 6-7).

Jelas, Allah tidak memerlukan puji-pujian, karena Dia di atas segala puji-pujian itu. Dia tidak memerlukan tawasul (permohonan), sebab Dia lebih mengetahui keperluan kita melebihi kita sendiri. Dan karunia-Nya terbuka buat kita semua tanpa diminta, baik bagi yang saleh atau bagi yang berdosa. Doa adalah untuk pelepas duka dan pendidikan rohani buat kita sendiri.

Itulah sebabnya kenapa kata-kata dalam surah ini diberikan kepada kita dalam bentuk yang harus kita ucapkan. Apabila pencerahan itu sudah kita capai dengan sendirinya kata itu memancar dari diri kita.

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم, Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih. (Al-Fatihah [1]: 1)

Kata-kata bahasa Arab “Rahman” dan “Rahim” diterjemahkan dengan “Maha Pemurah” dan “Maha Pengasih”, keduanya adalah bentuk intensif yang menunjukkan adanya segi-segi yang berbeda tentang sifat kasih Allah.

Bentuk intensif dalam bahasa Arab ini lebih sesuai untuk mengungkapkan sifat-sifat Allah daripada tingkat superlatif dalam bahasa Inggris. Yang belakangan ini mengandung arti perbandingan dengan makhluk-makhluk lain, atau dengan ruang dan waktu. Sementara tak ada makhluk yang dapat dipersamakan dengan Allah. Dia bebas dari Ruang dan Waktu.

Kasih dapat mengandung arti kasihan, tahan menderita, sabar atau tabah dan penuh maaf. Semua itu sangat diperlukan oleh orang yang berdosa dan Allah Maha Pengasih, memberi karunia yang melimpah.

Tetapi ada Kasih yang sudah mendahului segala keperluan itu, yakni sifat Pemurah yang sudah siap selalu, memancar dari Allah Yang Maha Pemurah itu kepada semua makhluk-Nya, melindungi, menjaga, memberi petunjuk kepada mereka serta membimbing mereka kepada cahaya yang lebih terang dan nilai hidup yang lebih tinggi.

Itulah sebabnya sifat Rahman (Maha Pemurah) itu tak dapat diterapkan pada apa dan pada siapa pun selain Allah. Tetapi sifat Rahim (Pengasih) merupakan istilah yang umum, dan dapat juga diterapkan pada manusia.

Agar kita merenungkan anugerah Allah yang tak terhingga itu, maka ucapan: “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih” ditempatkan pada setiap awal Surah Qur’an (kecuali Surah ke-9) dan diulang pada setiap akan memulai pekerjaan oleh seorang Muslim yang ingin mengabdikan hidupnya kepada Allah, dan harapannya hanya dalam Kasih-Nya.

Pendapat orang tidak sama, Bismillah itu harus diberi nomor tersendiri sebagai sebuah ayat atau tidak. Ada kebulatan pendapat yang sudah disetujui, bahwa itu merupakan bagian dari Qur’an. Oleh karenanya, lebih baik diberi nomor tersendiri dalam Surah pertama itu. Mengenai Surah-surah berikutnya sudah diperlakukan sebagai pendahuluan atau pemula, dan itu pula sebabnya tidak diberi nomor.

 ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ, Segala puji bagi Allah, Maha Pemelihara semesta alam; (Al-Fatihah [1]: 2)

Kata bahasa Arab Rabb biasanya diterjemahkan dengan Tuhan, yang juga punya arti mengurus, memelihara hingga mencapai kedewasaan, mencapai kematangan. Allah memelihara dunia, alam semesta yang diciptakan-Nya ini.

Terdapat banyak dunia—dunia astronomi dan dunia fisika, dunia pikiran dan seterusnya. Pada setiap dunia itu, Allah adalah segalanya. Dalam hal ini, bila kita berkata: “Di dalam Dia kita hidup, kita bergerak dan itulah wujud kita” baru satu segi saja yang kita nyatakan. Sebab, pembagian dalam pengertian rohani: (1) Nasut, ilmu dunia manusia dengan indra (2) Malakut,dunia malaikat yang gaib, dan (3) Lahut, dunia ilahi Hakikat.

ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ--مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ, Maha Pemurah, Maha Pengasih; Penguasa Hari Perhitungan. (Al-Fatihah [1]: 3-4)

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ, Engkau Yang kami sembah, dan kepada-Mu kami memohonkan pertolongan. (Al-Fatihah [1[: 5)

Guna menghidupkan cinta dan kasih Allah ke dalam jiwa kita, sifat rahman dan rahim-Nya, serta kekuasaan dan keadilan-Nya (sebagai Penguasa Hari Perhitungan), maka akibat selanjutnya ialah supaya kita khusyuk dalam melakukan ibadah, dan akan kita lihat kekurangan dan kelemahan kita, dan bahwa kekuasaan-Nya itulah yang serba sempurna.

Ucapan إِيَّاكَ نَعۡبُدُ mengandung arti kita beribadah hanya kepada-Nya, dan lantas otomatis hanya memohonkan pertolongan-Nya semata, karena memang tak ada yang lebih tepat dari Dia tempat kita mengabdi dan hanya Dia yang mampu menolong kita.

Kata jamak “kami” menunjukkan bahwa kita menggabungkan diri dengan mereka semua yang menuju Allah. Dengan demikian kita dapat memperkuat diri kita dan memperkuat mereka dalam satu persaudaraan iman.

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ, Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Al-Fatihah [1]: 6)  

Kita terjemahkan “tunjuki”, mengandaikan “Tunjukilah kami ke dan dalam jalan yang lurus”. Ya, boleh jadi kita berkelana tanpa tujuan, dan langkah pertama ialah untuk mendapatkan Jalan, dan kedua supaya tetap dalam Jalan itu: sedang dengan kebijaksanaan kita sendiri mungkin saja kita gagal mencapai kedua jalan itu.

Nah, jalan lurus itu sering merupakan Jalan yang sempit, atau Jalan yang curam, yang banyak dihindari orang (فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ, Tetapi dia tak menempuh jalan yang terjal (Balad [90]: 11—padahal semestinya kita berhasrat menempuh jalan yang terjal dan sulit itu untuk kebaikan rohani kita sendiri).

Oleh karena terpukau kemilau duniawi, Jalan yang lurus itu adakalanya dipandang tidak baik, dan Jalan tidak lurus justru dipuji.

Bagaimana kita menilai?

Kita harus memohonkan petunjuk Allah. Dengan sedikit saja adanya kesadaran rohani pada diri kita, kita akan dapat melihat mana orang yang berjalan di bawah cahaya nikmat Allah dan mana yang berjalan dalam kegelapan yang penuh murka. Maka, ini juga akan membantu penilaian kita.

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ, Jalan mereka yang telah Kauberi segala kenikmatan, bukan (jalan) mereka yang mendapat murka, dan bukan mereka yang sesat jalan. (Al-Fatihah [1]: 7)

Perhatikanlah bahwa kata-kata yang bertalian dengan nikmat dihubungkan dengan Allah dalam bentuk aktif; sedang yang mengenai kemurkaan dalam bentuk pasif. Dalam satu hal, nikmat Allah meliputi kita di luar soal pahala atau dosa. Dalam hal yang lain segala perbuatan kita adalah menjadi tanggung jawab kita bila sampai menimbulkan kemurkaan, yakni sebaliknya daripada nikmat Allah, perdamaian dan ketenteraman.

Kemudian adakah dua golongan manusia itu?

Ya, mereka yang berada dalam bencana kemurkaan dan mereka yang berada dalam kesesatan. Yang pertama mereka yang sengaja melanggar hukum Allah; yang kedua mereka yang sesat karena kurang peduli dan alpa. Keduanya bertanggung jawab atas perbuatan atau kelalaian mereka sendiri.  

Sebaliknya dari kedua golongan tersebut ialah mereka yang berada dalam nikmat Allah, sebab nikmat Allah tidak saja melindungi mereka dari kesalahan yang disengaja (jika ia hanya kepada-Nya berserah diri), tetapi juga dari kesesatan yang akan menjerumuskannya ke dalam godaan atau kelalaian.

Dan, bentuk negatif غَيۡرِ (gair) tidak harus ditafsirkan sebagai penerapan pada jalan itu, tetapi sebagai penggambaran manusia yang dilindungi dari dua macam bahaya dengan adanya nikmat Allah itu.

Demikianlah terjemahan dan tafsir Quran Surah Fatihah ini, karya terbaik Abdullah Yusuf Ali. Besar harapan, dan terutama buat para pembaca yang tak punya keahlian membaca dan memahami bahasa Arab Qur’an, bisa memperkaya pengertian tentang arti dan keindahan serta kesempurnaan Qur’an, dan ini kita awali dari surah pembuka. []  

Posting Komentar

0 Komentar