Pena (4)

Perumpamaan sosok para pemilik kebun—dalam Pena (3)—yang memendam keserakahan, egoisme, niscaya mendapat hal yang setimpal, meski sesaat sebelumnya tampak makmur. Di dunia mereka tampil penuh gemerlap.

Lantas, ada anggapan keliru bahwa kaum beriman toh akhirnya sama saja dengan yang tak beriman. Begitukah?

Padahal, كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ

Demikianlah hukuman itu [di dunia ini]; tetapi azab akhirat lebih besar, kalaupun mereka tahu. (al-Qalam [68]: 33)

Di dunia ini pun, bagi orang yang serba tak peduli atau hanya mementingkan diri sendiri dan penuh dosa, hukuman itu akan datang tiba-tiba pada saat yang tidak diduga-duga. Tetapi peluang untuk mendapat karunia Allah selalu terbuka asal kita benar-benar mau bertobat.

Kalaupun hukuman di dunia tampaknya sudah begitu terkesima, betapa pula akan lebih dahsyat di akhirat bila azab itu sudah bukan lagi hanya untuk sementara, dan waktu untuk bertobat sudah tak ada lagi!

إِنَّ لِلۡمُتَّقِينَ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ --- أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ

(34) Sungguh, bagi yang bertakwa tersedia taman-taman surga yang menyenangkan, di sisi Tuhannya: (35) akan Kami perlakukankah orang-orang beriman seperti orang-orang berdosa?

Dari sini, segala simbol kesenangan dinyatakan dalam bahasa perasaan, diberi pengertian rohani karena dihubungkan dengan kehadiran Allah. Taman surga ialah suatu kenikmatan, tetapi kenikmatan surga rohani ini dalam arti dekatnya kepada Allah.

Dan, kesombongan rohani orang yang tak mau beriman kepada Allah barangkali lebih jahat dari dosa, sebab, seperti dasar tanah liat yang kedap tak dapat menyerap air, ia pun menempatkan dirinya juga sudah kedap terhadap segala rahmat dan karunia Allah.

Nilai-nilai dan keinginannya ditentukannya sendiri, tetapi bagaimana ia dapat mengukur dan menahan kehendak Allah?

Segala pujaannya, berhala-berhala, para pendeta atau dewa-dewa ditentukannya sendiri pula. Pujaan-pujaan itu mungkin berupa bakat atau kemampuan, intelek, akal atau sains, jika sudah dinobatkan pada kedudukan berhala.

Kalau sudah mempersekutukan Allah, tanyakanlah: dapatkah semua itu mengungkapkan segala rahasia Tuhan, atau segala kehidupan dan jiwa manusia?

مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ --- أَمۡ لَكُمۡ كِتَٰبٞ فِيهِ تَدۡرُسُونَ --- إِنَّ لَكُمۡ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ

(36) Mengapa kamu begini? Bagaimana kamu mengambil keputusan? (37) ataukah kamu punya kitab yang kamu pelajari, (38) sehingga apa saja yang ada di dalamnya dapat kamu pilih?

Jelas sekali, hal itu bertentangan dengan akal dan keadilan bahwa orang beriman akhirnya akan sama dengan orang yang sudah penuh dosa. Sungguh, anggapan yang benar-benar keliru. Bahkan di dunia ini pun kita tak dapat menentukan apa yang kita pilih, sekalipun kita sudah diberi kebebasan memilih sendiri. Bagaimana pula kita dapat menduga hal-hal yang dalam kekuasaan Allah?

Demikian terjemahan dan tafsir Abdullah Yusuf Ali pada ayat 33-38 dari surah al-Qalam. []

Baca juga: Pena (3)

Posting Komentar

0 Komentar