Perumpamaan sosok para pemilik kebun—dalam Pena (3)—yang memendam keserakahan, egoisme, niscaya mendapat hal yang setimpal, meski sesaat sebelumnya tampak makmur. Di dunia mereka tampil penuh gemerlap.
Lantas, ada anggapan keliru bahwa kaum beriman toh akhirnya
sama saja dengan yang tak beriman. Begitukah?
Padahal, كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ
لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ
Demikianlah hukuman itu [di dunia ini]; tetapi azab
akhirat lebih besar, kalaupun mereka tahu. (al-Qalam [68]: 33)
Di dunia ini pun, bagi orang yang serba tak peduli atau
hanya mementingkan diri sendiri dan penuh dosa, hukuman itu akan datang
tiba-tiba pada saat yang tidak diduga-duga. Tetapi peluang untuk mendapat
karunia Allah selalu terbuka asal kita benar-benar mau bertobat.
Kalaupun hukuman di dunia tampaknya sudah begitu terkesima,
betapa pula akan lebih dahsyat di akhirat bila azab itu sudah bukan lagi hanya
untuk sementara, dan waktu untuk bertobat sudah tak ada lagi!
إِنَّ لِلۡمُتَّقِينَ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ---
أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ
(34) Sungguh, bagi yang bertakwa tersedia taman-taman
surga yang menyenangkan, di sisi Tuhannya: (35) akan Kami perlakukankah
orang-orang beriman seperti orang-orang berdosa?
Dari sini, segala simbol kesenangan dinyatakan dalam bahasa
perasaan, diberi pengertian rohani karena dihubungkan dengan kehadiran Allah.
Taman surga ialah suatu kenikmatan, tetapi kenikmatan surga rohani ini dalam
arti dekatnya kepada Allah.
Dan, kesombongan rohani orang yang tak mau beriman kepada
Allah barangkali lebih jahat dari dosa, sebab, seperti dasar tanah liat yang
kedap tak dapat menyerap air, ia pun menempatkan dirinya juga sudah kedap
terhadap segala rahmat dan karunia Allah.
Nilai-nilai dan keinginannya ditentukannya sendiri, tetapi
bagaimana ia dapat mengukur dan menahan kehendak Allah?
Segala pujaannya, berhala-berhala, para pendeta atau
dewa-dewa ditentukannya sendiri pula. Pujaan-pujaan itu mungkin berupa bakat
atau kemampuan, intelek, akal atau sains, jika sudah dinobatkan pada kedudukan
berhala.
Kalau sudah mempersekutukan Allah, tanyakanlah: dapatkah
semua itu mengungkapkan segala rahasia Tuhan, atau segala kehidupan dan jiwa
manusia?
مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ --- أَمۡ لَكُمۡ كِتَٰبٞ فِيهِ تَدۡرُسُونَ
--- إِنَّ لَكُمۡ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ
(36) Mengapa kamu begini? Bagaimana kamu mengambil
keputusan? (37) ataukah kamu punya kitab yang kamu pelajari, (38) sehingga
apa saja yang ada di dalamnya dapat kamu pilih?
Jelas sekali, hal itu bertentangan dengan akal dan keadilan
bahwa orang beriman akhirnya akan sama dengan orang yang sudah penuh dosa. Sungguh,
anggapan yang benar-benar keliru. Bahkan di dunia ini pun kita tak dapat
menentukan apa yang kita pilih, sekalipun kita sudah diberi kebebasan memilih
sendiri. Bagaimana pula kita dapat menduga hal-hal yang dalam kekuasaan Allah?
Demikian terjemahan dan tafsir Abdullah Yusuf Ali pada ayat
33-38 dari surah al-Qalam. []
Baca juga: Pena (3)

0 Komentar