Menyelami makna yang dikemukakan Muhammad Asad lewat karyanya, The Message of the Quran. Betapa ayat-ayat berikut ini merupakan kesaksian, secara simbolik benda-benda langit itu memantulkan kekuasaan, keindahan, dan kesempurnaan Allah dalam menurunkan wahyu-Nya.
فَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلۡخُنَّسِ, Tetapi, tidak! Aku bersaksi
demi bintang-bintang yang beredar, (al-Takwir [81]: 15)
ٱلۡجَوَارِ ٱلۡكُنَّسِ, planet-planet yang menempuh
jalannya dan terbenam, (al-Takwir [81]: 16)
وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ, dan malam tatkala menjadi
gelap, (al-Takwir [81]: 17)
وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ, dan subuh tatkala berembus
dengan lembut: (al-Takwir [81]: 18)
إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ --- ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ
مَكِينٖ --- مُّطَاعٖ ثَمَّ أَمِينٖ, perhatikanlah, [kitab Ilahi] ini
benar-benar merupakan perkataan [yang diwahyukan kepada] utusan
yang mulia, --- yang dianugerahi dengan kekuatan, lagi aman bersama Dia
yang bersinggasana dalam kemahakuasaan; --- [perkataan] yang hendaknya
ditaati, lagi patut dipercaya! (al-Takwir [81]: 19-21)
Paparan Muhammad Asad bahwa dengan “bersaksi” atas fenomena
alam, yang dikenal akrab oleh manusia karena fenomena itu berlangsung
terus-menerus, perhatian kita arahkan pada kenyataan apa yang kita sebut
sebagai “hukum alam” tidak lain adalah unsur-unsur yang dapat diamati dan
rencana penciptaan yang dilakukan Allah—suatu rencana yang di dalamnya
wahyu-wahyu-Nya (yang dirujuk dalam ayat ini dan dalam ayat-ayat selanjutnya)
memainkan peranan yang menentukan.
Maka, secara tersirat, kitab Ilahi yang diberikan kepada Baginda
Nabi Muhammad Saw. secara intrinsik bersifat “alamiah” sebagaimana halnya
setiap fenomena lain, baik yang konkret maupun yang abstrak, di dalam ranah
ciptaan Allah.
Berikutnya literal “bersama Dia, pemilik singgasana
kemahakuasaan”, bahwa istilah ‘arsy dalam Qur’an—yang dalam ayat di
atas merupakan kemunculan yang paling awal istilah itu dalam kronologi
pewahyuan—selalu berarti kedaulatan dan kemahakuasaan mutlak Allah.
وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ --- وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ
ٱلۡمُبِينِ --- وَمَا هُوَ عَلَى ٱلۡغَيۡبِ بِضَنِينٖ, Sebab, sahabat kalian
ini bukanlah seorang yang gila: --- dia benar-benar melihat [malaikat—melihat]
dia di ufuk yang terang; --- dan dia bukanlah orang yang enggan
menyampaikan kepada orang lain pengetahuan [tentang apa pun yang telah
diwahyukan kepadanya] mengenai apa yang berada di luar jangkauan
persepsi manusia. (al-Takwir [81]: 22-24)
Penyebutan Baginda Muhammad sebagai “sahabat kalian ini”
dimaksudkan untuk menekankan sifat kemanusiaannya, dan dengan begitu,
meniadakan sama sekali kemungkinan bagi para pengikut beliau untuk menuhankan.
Adapun tentang penyematan sebagai orang gila bisa dilihat Pena (1).
Kemudian Muhammad Asad mengetengahkan bahwa, “dia
benar-benar melihat [malaikat—melihat] dia di ufuk yang terang”,
ini mengacu pada peristiwa ketika Nabi melihat Malaikat Jibril, yang mengakhiri
jeda dalam penurunan wahyu (fatrat al-wahy). Selebihnya bisa dilihat Yang Berselimut (1).
Dan, pada ayat 24, secara tersirat, “maka demikianlah dia
menyampaikan wahyu ini kepada kalian”.
وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ, [Pesan] ini
bukan pula merupakan perkataan dari kekuatan setani apa pun yang terkutuk.
(al-Takwir [81]: 25)
Istilah syaithan (setan)—yang diderivasikan dari
verba syaithana (dia telah [atau “menjadi”] jauh)—dalam Qur’an sering
menunjukkan suatu kekuatan atau pengaruh yang jauh dari, dan berlawanan dengan,
semua yang benar dan baik.
Jadi, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan
dorongan-dorongan jahat (syayathin) dalam hati “orang-orang yang
berkukuh mengingkari kebenaran”.
Dalam pengertian yang lebih luas dan abstrak, istilah
tersebut menunjukkan setiap “kekuatan setani”, yakni setiap dorongan hati yang
diarahkan pada tujuan-tujuan yang bertentangan dengan postulat-postulat etis
yang valid.
فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ, Maka, ke manakah kalian akan pergi?
(al-Takwir [81]: 26)
إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ --- لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ
أَن يَسۡتَقِيمَ, [Pesan] ini tiada lain hanyalah peringatan untuk
seluruh umat manusia—untuk siapa pun di antara kalian yang mau menempuh jalan
yang lurus. (al-Takwir [81]: 27-28)
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ,
Namun, kalian tidaklah dapat menghendakinya, kecuali jika Allah, Pemelihara
seluruh alam, berkehendak [untuk menunjukkan kepada kalian jalan ini].
(al-Takwir [81]: 29)
Yakni, “kalian dapat menghendaki hal itu hanya karena Allah
telah menghendaki untuk menunjukkan kepada kalian jalan yang benar melalu
sarana naluri positif yang telah Dia tanamkan dalam diri kalian, serta melalui
wahyu-wahyu yang telah Dia turunkan kepada nabi-nabi-Nya”.
Hal itu menyiratkan bahwa pilihan untuk menempuh jalan yang
benar terbuka bagi siapa saja yang bersedia menerima petunjuk Allah yang
bersifat universal.
Demikian! []
Baca juga: Menggulung (1)

0 Komentar