Ada beberapa surah yang diawali oleh huruf-huruf tertentu—salah satunya surah ini, diawali huruf نٓۚ (nun)—yang disebut “huruf-huruf singkatan”. Bahwa di balik huruf ini ada makna yang mengandung pengertian yang gaib.
Pengertian gaib yang sepintas lalu tak dapat dicerna, bukan
tidak sejalan dengan jiwa Qur’an sebagai “kitab yang jelas”. Sebagaimana tanda
“kuasa Tuhan” berupa alam semesta yang juga sebuah kitab yang jelas, tetapi tak
sedikit yang kita tak mengerti sepenuhnya. Maka, kita mesti menyelami lebih
dalam guna menyibak makna-makna di baliknya.
Pun dengan kitab Qur’an, kita dapat memperoleh petunjuk yang
jelas darinya untuk kehidupan ini. Bahwa seluruh isi Qur’an merupakan suatu
rekaman untuk sepanjang zaman. Ia berisi kebenaran yang menampakkan diri
sedikit demi sedikit kepada umat manusia.
Bahwa ada tamsil-tamsil dan kisah-kisah yang mengandung
makna yang masih tersembunyi, yang menggunakan lambang atau simbolisme. Bagi
orang biasa lambang bisa saja bermanfaat, sama halnya dengan seorang prajurit
yang beroleh manfaat dari bendera nasionalnya. Tetapi berapa banyak jumlah
prajurit dan penduduk suatu negeri yang dapat sepenuhnya mengerti simbolisme
bendera nasionalnya?
Dalam abjad Arab ada 29 huruf (dengan memasukkan hamzah
dan alif sebagai dua huruf), dan ada 29 Surah yang didahului oleh “huruf-huruf
singkatan” itu. Kalau kita mengambil separuh jumlah abjad, menghilangkan yang
sebagian lagi, kita akan memperoleh 14 huruf. Nah keempat belas yang terdapat
dalam bermacam-macam kombinasi, yang kemudian disebut al-muqatta’at
(huruf-huruf singkatan) adalah: ا, صٓ. كٓ, ه ,ح ,ط, لٓ, ي, رۚ, عٓ, مٓ, سٓ, قٓۚ, نٓ
Nah, Surah 68 [Qalam], di antara tiga surah (yakni
bersama Qaf [50], dan Sad [38]), masing-masing hanya diawali
dengan satu huruf, bukan kombinasi huruf-huruf.
Adapun nun dapat juga berarti ikan, selain memang sekadar
abjad huruf Arab, N. Perhatikan juga bahwa rima bahasa Arab dalam surah ini diakhiri
dengan N.
Mengenai tinta kaitannya serasi sekali dengan pena pada ayat
1. Mengenai ikan akan cocok sekali bila dihubungkan dengan kisah Nabi Yunus
dalam ayat 48-50. Gelar Nabi Yunus adalah “Orang Ikan” (Anbiya’ [21]: 87, Dan
ingatlah Zun-Nun ketika pergi dengan marah…”), sebab dalam kisah itu ia
ditelan oleh ikan.
Lebih jelas kita simak ayat 1-7 surah al-Qalam atau Nun
ini!
نٓۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُونَ --مَآ أَنتَ بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ
بِمَجۡنُونٖ-- وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٖ-- وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ
عَظِيمٖ-- فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ-- إِنَّ رَبَّكَ هُوَ
أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
(1) Nun.
Demi pena dan demi (catatan) yang ditulis (manusia),—(2) Dengan karunia
Tuhanmu, engkau bukanlah orang gila. (3) Dan sungguh, bagimu
pahala yang tiada putusnya; (4) Dan engkau sungguh mempunyai akhlak yang
agung. (5) Maka segera akan kaulihat dan mereka pun akan melihat,
(6) Siapa di antara kamu yang gila? (7) Sungguh Tuhanmu lebih tahu
siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan Dia lebih tahu mereka yang mendapat
bimbingan (yang benar).
Kita tahu kemudian, yang juga terkonfirmasi dari wahyu
pertama (‘Alaq [96]: 1-5), pena dan catatan simbolik itu melambangkan
dasar wahyu kepada manusia. Dan, sumpah dengan pena, niscaya menghilangkan
tuduhan yang serampangan bahwa Baginda Rasul Muhammad itu orang gila atau
tengah kesurupan. Karena beliau berbicara dengan bahasa yang kuat, jelas, bukan
meracau, tapi penuh arti, dan melalui catatan pena pula, maka arti itu dengan
sendirinya terungkap tujuannya kepada generasi demi generasi.
Lagian, Baginda Muhammad sendiri sudah merupakan suatu
karunia dan rahmat Allah yang hidup, dan wataknya sendiri yang begitu mulia itu
memang jauh dari segala perbuatan tak senonoh.
Dan lazim kita saksikan, orang biasa menyebut orang lain itu
gila bila ukurannya tak sama dengan ukurannya sendiri. Orang yang percaya pada
takhayul percaya pula bahwa gila itu disebabkan oleh kemasukan setan.
Nah, pengangkatan Baginda Muhammad ke tingkat martabat
rohani yang begitu agung, bukanlah karena pikirannya sendiri. Dan pahala yang
beliau terima itu tidaklah seperti pahala duniawi yang mudah hilang. Serta pahala
itu memang sesuai sekali dengan pribadi beliau yang agung, dan bagaimanapun tak
akan mengecewakan beliau.
Beliau telah dianugerahi sifat dan akhlak yang sungguh luar
biasa, jauh dari kata-kata yang akan menimbulkan kesedihan atau penderitaan,
fitnah atau penganiayaan.
Namun, meskipun akhlak al-Musthafa telah menempatkan beliau
di atas orang-orang sezamannya yang penuh rasa dengki dan dendam, seruan فَسَتُبۡصِرُ
وَيُبۡصِرُونَ disampaikan agar mereka menggunakan akal sehat dalam melihat
berbagai peristiwa itu.
Bukankah para penuduh itu yang sebenarnya gila? Apa yang
terjadi dengan Walid bin ‘l-Mughirah, dengan Abu Jahl atau Abu Lahab, dan apa
pula dengan Rasulullah dan mereka yang mau mengikuti bimbingannya?
Sejarah dunia telah memberikan jawaban. Dan seruan ayat 5
itu pun tidak hanya berlaku untuk zamannya saja, tapi untuk sepanjang zaman.
Betapa penilaian manusia belum pasti benar. Penilaian yang
pasti benar ialah yang dari Allah, sebab pengetahuan-Nya sempurna dan
menyeluruh; Dia tahu segala niat yang tersembunyi di lubuk hati dan yang tampak
di depan mata; dan Dia tahu sejarah masa silam yang akan membawa akibat segala tindakan
masa kini, begitu juga segala akibat masa mendatang yang timbul karena tindakan
masa kini.
Demikian Abdullah Yusuf Ali menerjemahkan dan mengomentari surah
pena [68]: 1-7! []
Baca juga: Bacalah (2)

0 Komentar