Malam (1)

Disepakati secara bulat bahwa surah al-Lail (malam) ini termasuk salah satu surah yang paling awal diwahyukan—kemungkinan besar merupakan surah kesembilan dalam urutan kronologis pewahyuan.

Nama surah ini diambil dari kata “malam” yang disebutkan dalam ayat pertama.

وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ --- وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ, Perhatikanlah malam tatkala ia menyelubungi [bumi] dengan kegelapan, --- dan siang ketika ia tampak terang benderang! (al-Lail [92]: 1-2)

وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ, Perhatikanlah penciptaan laki-laki danperempuan! (al-Lail [92]: 3)

Yakni unsur-unsur yang berperan bagi pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini (bersama dengan simbolisme tentang malam dan siang, gelap dan terang) merupakan alusi—serupa dengan sepuluh ayat pertama surah al-Syams [91]—tentang polaritas yang tampak nyata dalam seluruh alam dan, karena itu, juga tentang dikotomi yang mencirikan tujuan-tujuan dan motif-motif manusia (yang dibicarakan dalam ayat berikutnya).

إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ, Sungguh, [wahai manusia,] kalian mengejar tujuan yang sangat berlainan! (al-Lail [92]: 4)

Yakni tujuan kebaikan dan keburukan, seperti tersebut dalam surah al-Syams [91]: 8, فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا, dan bagaimana diri itu diilhami dengan kelemahan-kelemahan akhlak serta dengan kesadaran akan Allah!—implikasinya, “maka konsekuensi-konsekuensi dari perbuatan kalian pasti berlainan pula”.

Sebuah kenyataan bahwa manusia mungkin saja naik hingga mencapai tingkatan ruhani yang tinggi ataupun terjatuh ke dalam tingkatan yang sangat tidak bermoral merupakan suatu karakteristik dasar dari watak manusia.

Dalam pengertian terdalamnya, kemampuan manusia untuk berlaku salah adalah sejalan dengan kemampuannya untuk berlaku benar. Dengan kata lain, polaritas kecenderungan yang inheren dalam diri manusia itulah yang membuat setiap pilihan yang “benar” itu menjadi bernilai dan, dengan demikian, menganugerahi manusia dengan kehendak bebas.

Bisa kita tengok surah al-A’raf [7]: 24-25, Allah berfirman, “Turunlah kalian, [dan selanjutnya, jadilah] musuh satu sama lain; di muka bumi, kalian mempunyai tempat tinggal dan penghidupan untuk sementara: di sanalah kalian akan hidup”—Allah menambahkan—“dan di sanalah kalian akan mati, dan dari sanalah kalian akan dibangkitkan [pada Hari Kebangkitan]!

Sebagaimana dalam cerita yang sama tentang perumpamaan Kejatuhan yang terdapat dalam surah al-Baqarah [2]: 35-36, pada tahap ini, bentuk kata ganti dua (kalian berdua) berubah menjadi bentuk jamak (kalian) sehingga memperjelas bahwa sejarah Adam dan Hawa, pada kenyataannya, adalah sebuah alegori dari takdir manusia.

Dalam keadaan tanpa dosanya yang terdahulu, manusia tidak sadar akan adanya kejahatan dan, oleh karenanya, tidak menyadari keharusan untuk senantiasa membuat pilihan di antara berbagai kemungkinan tindakan dan tingkah laku.  

Dengan kata lain, manusia hidup hanya dengan menggunakan instingnya seperti binatang lainnya. Bagaimanapun, karena keadaan tidak-berdosa ini hanya merupakan suatu kondisi dari keberadaannya, dan bukan merupakan sebuah kebajikan, hal itu menjadikan kehidupannya bersifat statis yang menghindarkannya dari perkembangan moral dan intelektual.

Pertumbuhan kesadaran ini—yang disimbolkan dengan pembangkangan yang disengaja terhadap perintah Tuhan—telah mengubah semua itu. Kesadaran yang mengubahnya dari makhluk yang hanya mengandalkan insting menjadi entitas manusia yang utuh sebagaimana yang kita kenal—manusia yang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, dan kemudian memilih jalan hidupnya.

Dalam pengertian lanjut, alegori tentang Kejatuhan bukanlah menggambarkan sebuah kejadian pada masa lalu, melainkan lebih merupakan penjelasan tentang tingkatan baru dari perkembangan manusia, yakni terbukanya gerbang menuju pertimbangan moral. Bahwa dengan melarang manusia “mendekati pohon ini”, Allah memungkinkan manusia untuk melakukan perbuatan salah—dan, karena itu, juga untuk melakukan perbuatan benar.

Singkatnya, manusia dianugerahi kebebasan untuk memilih secara moral, hal yang membedakannya dari seluruh makhluk lainnya. 

فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ --- وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ --- فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ, Demikianlah, adapun orang yang memberi [kepada orang lain] dan sadar akan Allah, --- dan memercayai kebenaran akan kebaikan tertinggiakan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan [tertinggi]. (al-Lail [92]: 5-7)

Ungkapan “dan memercayai kebenaran akan kebaikan tertinggi”, yakni percaya pada nilai-nilai moral yang tidak bergantung waktu dan kondisi sosial dan, karenanya, percaya pada kesahihan mutlak dari apa yang mungkin bisa digambarkan sebagai “keharusan moral”.

Kemudian tentang “kemudahan [tertinggi]” bisa dibaca dalam Yang Mahatinggi (2)

 وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ --- وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ --- فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ --- وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ, Dan, adapun orang-orang yang kikir dan merasa dirinya serbacukup, --- dan mendustakan kebaikan tertinggiakan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran: --- dan manfaat apakah yang akan diberikan hartanya kepadanya tatkala dia turun [ke liang kuburnya]? (al-Lail [92]: 8-11)

Terkait “merasa diri serbacukup” bisa dibaca Bacalah! (2). Kemudian “manfaat apakah yang akan diberikan hartanya kepadanya tatkala dia turun [ke liang kuburnya]” sebagai suatu pernyataan betapa harta tidak akan bermanfaat bagi kita tatkala sudah meninggalkan alam dunia ini.

Demikian terjemahan dan penfasiran surah al-Lail [92]: 1-11, oleh Muhammad Asad, dalam The Message of the Quran.

Baca juga: Yang Mahatinggi (3)

Posting Komentar

0 Komentar