Pengetahuan kita itu selamanya pasti tetap tidak sempurna. Bahwa kita tidak dapat benar-benar menemukan jalan hidupnya tanpa bantuan wahyu Ilahi.
Dalam panduan wahyu, niscaya kita akan memperoleh kemudahan
menuju ketenangan pikiran dan kedamaian jiwa. “Kami mudahkan bagimu jalan
menuju kemudahan [tertinggi].”
Nah, kita ketengahkan lagi terjemahan dan tafsi Muhammad
Asad atas ayat-ayat berikut dengan mengutip The Message of the Quran.
سَنُقۡرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ --- إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۚ إِنَّهُۥ
يَعۡلَمُ ٱلۡجَهۡرَ وَمَا يَخۡفَىٰ --- وَنُيَسِّرُكَ لِلۡيُسۡرَىٰ
(6) Kami akan mengajarimu, dan engkau tidak akan lupa
[apa pun yang telah diajarkan], (7) kecuali apa yang Allah mungkin
kehendaki [untuk kau lupakan]—sebab, sungguh, Dia
[sajalah] yang mengetahui segala yang nyata bagi persepsi [manusia]
serta segala yang tersembunyi [darinya]:— (8) dan [dengan
demikianlah] akan Kami mudahkan bagimu jalan menuju kemudahan [tertinggi].
Muhammad Asad menjelaskan bahwa para mufasir klasik
beranggapan, kata-kata di atas dialamatkan secara khusus kepada Nabi Muhammad
Saw. dan, oleh karenanya, kata-kata itu terkait dengan posisi Muhammad Saw.
sebagai orang yang diajarkan al-Qur’an dan dijanjikan bahwa dia tidak akan
melupakan sesuatu apa pun dari al-Qur’an, “kecuali apa yang Allah mungkin
kehendaki [untuk kau lupakan]”.
Anak kalimat terakhir itu menimbulkan banyak kesulitan bagi
para mufasir lantaran sangat tidak masuk akal seandainya Dia yang mewahyukan
al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw. justru menjadikan Nabi Muhammad melupakan
sesuatu apa pun dari al-Qur’an itu.
Karenanya, banyak penjelasan yang tidak meyakinkan telah
diajukan sejak masa-masa awal hingga masa sekarang, dan yang paling kurang
meyakinkan di antaranya adalah “doktrin penghapusan” (nasakh), yang
menjadi senjata andalan terakhir bagi setiap mufasir yang bingung dalam
menghadapi masalah tersebut.
Tentang penjelasan “doktrin penghapusan” yang ditolak oleh
Muhammad Asad, bisa kita baca dari paparannya ketika mengulas surah al-Baqarah
[2]: 106.
۞مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٖ مِّنۡهَآ
أَوۡ مِثۡلِهَآۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ
Risalah mana saja yang Kami hapuskan atau yang Kami
jadikan ia terlupakan, Kami ganti dengan risalah yang lebih baik atau yang
serupa dengannya. Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah berkuasa menetapkan
segala sesuatu?
Prinsip yang ditetapkan dalam ayat tersebut—berkenaan dengan
penggantian era/sistem religi Biblikal dengan era/sistem religi Qurani—telah
menimbulkan suatu penafsiran keliru oleh banyak ulama. Kata ayah (message,
pesan, risalah) yang ada dalam konteks ini juga digunakan untuk menunjukkan
sebuah ‘ayat’ al-Qur’an (sebab, setiap ayat mengandung sebuah pesan).
Dengan berpegang pada makna terbatas dari istilah ayah
ini, sejumlah ulama menyimpulkan dari ayat tersebut bahwa sebelum pewahyuan al-Qur’an
selesai, ayat-ayat tertentu dalam al-Qu’ran telah “dibatalkan” (mansukh)
sesuai dengan perintah Allah.
Terlepas dari keganjilan penafsiran itu—yang mengingatkan
kita pada gambaran tentang seorang pengarang
yang, setelah berpikir ulang, mengoreksi cetakan manuskripnya dengan menghapus
satu bagian dan menggantinya dengan bagian lain—tidak ada satu pun hadis sahih
yang menyatakan bahwa Nabi pernah menyebutkan suatu ayat al-Qur’an “dibatalkan”
(mansukh).
Intinya, “doktrin pembatalan” (nasikh-mansukh) itu
mencerminkan ketidakmampuan sejumlah mufasir awal untuk menyelaraskan kandungan
suatu ayat tertentu dalam al-Qur’an dengan ayat lain: suatu kesulitan yang
diatasi dengan menyatakan bahwa salah satu ayat yang dibahas tersebut telah “dibatalkan”.
Namun, kesulitan yang tidak perlu dalam melakukan penafsiran
itu akan segera sirna tatkala kita mengizinkan diri kita sendiri menyadari
bahwa pesan di atas (ayat 7 dalam surah al-A’la ini), kendati tampaknya
dialamatkan kepada Nabi, sesungguhnya ditujukan kepada manusia secara umum, dan
bawa ayat ini terkait erat dengan wahyu al-Qur’an yang lebih awal, bahwa Allah
telah “mengajarkan manusia apa yang tidak dia ketahui”.
Di sini kita diberi tahu bahwa Allah, yang telah membentuk
manusia sesuai dengan apa yang telah ditentukan baginya (yakni, keadaan yang
dikehendaki dari manusia itu) dan telah menjanjikan untuk memberi petunjuk
kepadanya, akan membuat manusia dapat memperoleh (dan dengan demikian, kurang
lebih “mengajarkan” kepadanya) unsur-unsur pengetahuan yang akan diakumulasi,
direkam, dan “diingat” secara kolektif oleh manusia—kecuali apa yang mungkin
Allah jadikan manusia “lupa” (dengan kata lain, abaikan) lantaran telah menjadi
terlampau berlebihan berkat pengalaman-pengalaman barunya dan perolehannya atas
unsur-unsur pengetahuan yang lebih luas dan lebih beragam, baik yang bersifat
empiris, deduktif, ataupun spekulatif, termasuk keterampilan-keterampilan lebih
maju yang diperoleh secara empiris.
Namun, sebagaimana menjadi jelas dalam kalimat selanjutnya
dalam ayat di atas, seluruh pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan
terhadap dunia ekstrenal dan melalui spekulasi—walaupun penting dan sangat
bernilai—jelas terbatas dalam hal cakupannya dan, karenanya, tidak dengan
sendirinya memadai untuk memberi kita pemahaman tentang kebenaran-kebenaran
tertinggi.
Demikian! []
Baca juga: Yang Mahatinggi (1)

0 Komentar