Yang Mahatinggi (3)

Ayat-ayat berikut, mengikuti terjemahan dari Muhammad Asad dalam The Message of the Quran, adalah gambaran orang-orang yang menghancurkan segenap masa depannya sendiri dengan cara hidup yang tidak baik di dunia ini.

Mereka membawa perselisihan, padahal hidup itu harus merupakan satu kerukunan universal yang besar.

فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ --- سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ --- وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى --- ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ --- ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحۡيَىٰ

(9) Maka, berilah peringatan [kepada orang lain tentang kebenaran itu, terlepas] apakah peringatan itu [tampaknya akan] bermanfaat [atau tidak]: (10) akan mengingatnya orang yang gentar-terpukau [pada Allah], (11) namun tetap akan jauh darinya orang yang paling celaka— (12) dia yang [di dalam kehidupan akhirat] akan merasakan api yang sangat besar (13) yang di dalamnya dia tidak akan mati dan tidak pula hidup.

Ungkapan “yang di dalamnya dia tidak akan mati dan tidak pula hidup”, adalah sebagai konsekuensi dari tindakannya untuk tetap jauh dari peringatan Ilahi.

Juga bisa kita baca dalam surah al-Muddatstsir,  لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ --- لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ, Ia tidak membiarkan hidup, dan tidak pula meninggalkan [mati], menjadikan [seluruh kebenaran] terlihat jelas oleh manusia. (al-Muddatstsir [74]: 28-29)

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ --- وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ

(14) Kebahagiaan [dalam kehidupan akhirat]-lah yang benar-benar akan diraih oleh orang yang mencapai kesucian diri [di dunia ini], (15) dan mengingat nama Pemeliharanya, dan berdoa [kepada-Nya].

Maka, langkah pertama dalam ibadah ialah membersihkan diri: badan, pikiran dan jiwa kita. Sehingga, kita akan berada dalam suasana yang layak untuk melihat dan memuji keagngan Allah, dan ini akan membawa kita ke dalam suasana khusyuk yang sebenarnya dalam zikir dan shalat kita.

بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ---  وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ

(16) Namun tidak, [wahai manusia,] kalian lebih memilih kehidupan dunia ini, (17) meskipun kehidupan yang akan datang lebih baik dan lebih kekal.

إِنَّ هَٰذَا لَفِي ٱلصُّحُفِ ٱلۡأُولَىٰ --- صُحُفِ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ

(18) Sungguh, [semua] ini benar-benar telah ada [dikatakan] di dalam wahyu-wahyu terdahulu— (19) wahyu-wahyu Ibrahim dan Musa.

Dua nama ini, Ibrahim dan Musa, diberikan di sini hanya sebagai contoh dari wahyu-wahyu para nabi terdahulu dan, dengan demikian, menekankan sekali lagi dua segi fakta mengenai kesinambungan dalam pengalaman keagamaan manusia dan kesamaan kebenaran-kebenaran dasar yang didakwahkan oleh seluruh nabi.

Kemudian, nomina shuhuf (tunggal: shahifah), yang secara harfiah berarti “helai-helai [buku]” atau “lembaran-lembaran”, bersinonim dengan kata kitab dalam semua makna istilah tersebut. Oleh sebab itu, dalam konteks di atas, kata shuhuf diterjemahkan menjadi “wahyu-wahyu”.

Demikian bagian akhir surah al-A’la (Yang Mahatinggi)! []

Baca juga: Yang Mahatinggi (2)

Posting Komentar

0 Komentar