Fajar (2)

Penjelasan Muhammad Asad untuk ayat-ayat berikut, merujuk pada fakta historis pra-Islam yang bisa kita saksikan artefak-artefaknya hingga hari ini, semakin memperjelas keagungan kitab Qur’an, benar-benar sebagai wahyu, bukan karangan Baginda Nabi yang notabene seorang ummi.

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ --- إِرَمَ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ --- ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ --- وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ --- وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ

Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Pemeliharamu berbuat terhadap [suku] ‘Ad, --- [penduduk] Iram yang mempunyai banyak pilar, --- yang belum pernah dibangun seperti itu di semua negeri?—dan terhadap [suku] Tsamud, yang melubangi batu-batu cadas di lembah?—dan terhadap Fir’aun yang memiliki [banyak] tiang-tenda? (al-Fajr [89]: 6-10)

Konon, Hud a.s. adalah nabi berkebangsaan Arab yang pertama. Mungkin dia sama dengan Eber yang disebutkan dalam Bibel, nenek moyang bangsa Ibrani yang—seperti kebanyakan suku bangsa Semit—mungkin berasal dari Arab Selatan.

Nama Arab kuno Hud ini masih tecermin dalam nama Yehuda, anak Ya’qub yang selanjutnya menjadi julukan lainnya bagi orang-orang Yahudi.

Nama Eber—baik dalam bahasa Ibrani maupun dalam bentuk Arabnya, ‘Abir—berarti “seseorang yang menyeberang” (yakni dari satu daerah ke daerah lainnya), dan mungkin juga merupakan gaung Bibel terhadap kenyataan bahwa suku ini “menyeberang” dari Semenanjung Arabia ke Mesopotamia pada masa pra-Ibrahim.

Suku ‘Ad, yakni suku Nabi Hud a.s. mendiami daerah gurun yang luas yang dikenal dengan al-Ahqaf, yang terletak di antara ‘Uman dan Hadramaut. Suku ini masyhur karena kekuatan dan pengaruhnya yang besar, “yang belum pernah dibangun seperti itu di semua negeri”.

Iram, yang disebut dalam ayat selanjutnya, agaknya merupakan nama ibu kota suku ‘Ad yang legendaris, yang kini tertimbun padang pasir al-Ahqaf.

Berikutnya, suku Nabatean dari bangsa Tsamud merupakan keturunan dari suku ‘Ad, sering disebut-sebut dalam sajak pra-Islam sebagai “Kaum ‘Ad Kedua”. Terlepas dari sumber-sumber Arab, “serangkaian referensi yang lebih tua, yang bukan berasal dari Arab, menegaskan bahwa nama dari kaum Tsamud memang ada dalam sejarah.

Prasasti Sargon pada 715 SM menyebutkan Tsamud di antara orang-orang yang menempati wilayah Arab Timur dan Tengah yang ditundukkan oleh bangsa Asiria. Kita juga menemukan kata Thamudaei, Thamudenes yang disebutkan dalam karya Aristoteles, Ptolemeus, dan Pliny.

Nah, masa yang dirujuk oleh al-Qur’an adalah masa ketika kaum Tsamud menempati daerah Hijaz yang paling utara, dekat dengan perbatasan Suriah. Batu prasasti yang dinisbatkan kepada mereka masih ada di kawasan al-Hijr.  

Kemudian ungkapan “yang melubangi batu-batu cadas di lembah”, suatu rujukan terhadap sejumlah kuburan atau tempat tinggal yang terbuat dari batu karang—yang masih dapat disaksikan hingga kini—yang telah dipahat dengan sangat apik oleh bangsa Tsamud di tebing-tebing bagian barat al-Hijr, yang terletak di sebelah utara Hijaz, dan dihiasi dengan ukiran binatang serta sejumlah prasasti yang menjadi saksi atas tingginya peradaban dan kekuasaan mereka.

Dalam percakapan sehari-hari bangsa Arab, tempat tinggal yang terbuat dari batu karang itu sekarang disebut Mada’in Shalih (Kota-Kota Nabi Shaleh).

Dan, “lembah” yang dirujuk pada ayat tersebut adalah Wadi al-Qura, yang terletak di sebelah utara Madinah pada rute kafilah masa lalu dari Arabia Selatan ke Suriah.

“Yang memiliki [banyak] tiang-tenda” juga disebutkan dalam surah Shad [38]: 12, bahwa dalam bahasa Arab klasik, istilah bahasa Badui kuno ini digunakan secara idiomatik sebagai metonomia bagi “kekuasaan yang besar” atau “kukuhnya kekuasaan”.

Bahwa jumlah tiang penyangga pada kemah kaum Arab Badui ditentukan oleh ukurannya, sedangkan ukuran ini selalu bergantung pada kedudukan dan kekuasaan pemiliknya. Sehingga, seorang pemimpin besar sering dijuluki sebagai “yang memiliki banyak tiang-tenda”.

ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ --- فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ --- فَصَبَّ عَلَيۡهِمۡ رَبُّكَ سَوۡطَ عَذَابٍ --- إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ

[Mereka itulah] yang melanggar batas-batas keadilan di seluruh negeri mereka, --- dan menimbulkan kerusakan besar di dalamnya: --- dan karena itu, Pemeliharamu menimpakan kepada mereka cemeti penderitaan: --- sebab, sungguh, Pemeliharamu senantiasa mengawasi! (al-Fajr [89]: 11-14)

Demikian! []

Baca juga: Fajar (1)

Posting Komentar

0 Komentar