Penjelasan Muhammad Asad untuk ayat-ayat berikut, merujuk pada fakta historis pra-Islam yang bisa kita saksikan artefak-artefaknya hingga hari ini, semakin memperjelas keagungan kitab Qur’an, benar-benar sebagai wahyu, bukan karangan Baginda Nabi yang notabene seorang ummi.
أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ --- إِرَمَ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ
--- ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ --- وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ
ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ --- وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ
Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Pemeliharamu berbuat
terhadap [suku] ‘Ad, --- [penduduk] Iram yang
mempunyai banyak pilar, --- yang belum pernah dibangun seperti itu di
semua negeri?—dan terhadap [suku] Tsamud, yang
melubangi batu-batu cadas di lembah?—dan terhadap Fir’aun yang
memiliki [banyak] tiang-tenda? (al-Fajr [89]: 6-10)
Konon, Hud a.s. adalah nabi berkebangsaan Arab yang pertama.
Mungkin dia sama dengan Eber yang disebutkan dalam Bibel, nenek moyang bangsa
Ibrani yang—seperti kebanyakan suku bangsa Semit—mungkin berasal dari Arab
Selatan.
Nama Arab kuno Hud ini masih tecermin dalam nama Yehuda,
anak Ya’qub yang selanjutnya menjadi julukan lainnya bagi orang-orang Yahudi.
Nama Eber—baik dalam bahasa Ibrani maupun dalam bentuk
Arabnya, ‘Abir—berarti “seseorang yang menyeberang” (yakni dari satu daerah ke
daerah lainnya), dan mungkin juga merupakan gaung Bibel terhadap kenyataan
bahwa suku ini “menyeberang” dari Semenanjung Arabia ke Mesopotamia pada masa
pra-Ibrahim.
Suku ‘Ad, yakni suku Nabi Hud a.s. mendiami daerah gurun
yang luas yang dikenal dengan al-Ahqaf, yang terletak di antara ‘Uman dan
Hadramaut. Suku ini masyhur karena kekuatan dan pengaruhnya yang besar, “yang
belum pernah dibangun seperti itu di semua negeri”.
Iram, yang disebut dalam ayat selanjutnya, agaknya merupakan
nama ibu kota suku ‘Ad yang legendaris, yang kini tertimbun padang pasir
al-Ahqaf.
Berikutnya, suku Nabatean dari bangsa Tsamud merupakan
keturunan dari suku ‘Ad, sering disebut-sebut dalam sajak pra-Islam sebagai “Kaum
‘Ad Kedua”. Terlepas dari sumber-sumber Arab, “serangkaian referensi yang lebih
tua, yang bukan berasal dari Arab, menegaskan bahwa nama dari kaum Tsamud
memang ada dalam sejarah.
Prasasti Sargon pada 715 SM menyebutkan Tsamud di antara
orang-orang yang menempati wilayah Arab Timur dan Tengah yang ditundukkan oleh
bangsa Asiria. Kita juga menemukan kata Thamudaei, Thamudenes yang disebutkan
dalam karya Aristoteles, Ptolemeus, dan Pliny.
Nah, masa yang dirujuk oleh al-Qur’an adalah masa ketika kaum
Tsamud menempati daerah Hijaz yang paling utara, dekat dengan perbatasan
Suriah. Batu prasasti yang dinisbatkan kepada mereka masih ada di kawasan
al-Hijr.
Kemudian ungkapan “yang melubangi batu-batu cadas di
lembah”, suatu rujukan terhadap sejumlah kuburan atau tempat tinggal yang
terbuat dari batu karang—yang masih dapat disaksikan hingga kini—yang telah
dipahat dengan sangat apik oleh bangsa Tsamud di tebing-tebing bagian barat
al-Hijr, yang terletak di sebelah utara Hijaz, dan dihiasi dengan ukiran binatang
serta sejumlah prasasti yang menjadi saksi atas tingginya peradaban dan
kekuasaan mereka.
Dalam percakapan sehari-hari bangsa Arab, tempat tinggal
yang terbuat dari batu karang itu sekarang disebut Mada’in Shalih
(Kota-Kota Nabi Shaleh).
Dan, “lembah” yang dirujuk pada ayat tersebut adalah Wadi
al-Qura, yang terletak di sebelah utara Madinah pada rute kafilah masa lalu
dari Arabia Selatan ke Suriah.
“Yang memiliki [banyak] tiang-tenda”
juga disebutkan dalam surah Shad [38]: 12, bahwa dalam bahasa Arab klasik,
istilah bahasa Badui kuno ini digunakan secara idiomatik sebagai metonomia bagi
“kekuasaan yang besar” atau “kukuhnya kekuasaan”.
Bahwa jumlah tiang penyangga pada kemah kaum Arab Badui
ditentukan oleh ukurannya, sedangkan ukuran ini selalu bergantung pada
kedudukan dan kekuasaan pemiliknya. Sehingga, seorang pemimpin besar sering
dijuluki sebagai “yang memiliki banyak tiang-tenda”.
ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ --- فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ
--- فَصَبَّ عَلَيۡهِمۡ رَبُّكَ سَوۡطَ عَذَابٍ --- إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ
[Mereka itulah] yang melanggar batas-batas
keadilan di seluruh negeri mereka, --- dan menimbulkan kerusakan besar
di dalamnya: --- dan karena itu, Pemeliharamu menimpakan kepada mereka
cemeti penderitaan: --- sebab, sungguh, Pemeliharamu senantiasa
mengawasi! (al-Fajr [89]: 11-14)
Demikian! []
Baca juga: Fajar (1)

0 Komentar