Penamaan surah ini, al-Fajr (fajar)—yang merupakan surah kesepuluh dalam urutan pewahyuan—didasarkan penyebutan kata “fajar” pada ayat pertama.
وَٱلۡفَجۡرِ --- وَلَيَالٍ عَشۡرٖ, Perhatikanlah fajar ---
dan malam yang sepuluh! (al-Fajr [89]: 1-2)
“Fajar” (fajr) tampaknya menjadi simbol kebangkitan
kesadaran ruhani manusia. Karena itu, ungkapan “sepuluh malam” merupakan
alusi tentang sepertiga akhir bulan Ramadhan
pada tahun 13 sebelum Hijrah, yang ketika itu Baginda Nabi Muhammad pertama
kali menerima wahyu (lihat Bacalah! (1)) dan, dengan demikian, dimungkinkan
untuk memberi kontribusi bagi kebangkitan kesadaran ruhani manusia
وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ, Perhatikanlah yang banyak dan
Yang Tunggal! (al-Fajr [89]: 3)
Terjemah literal, “yang genap dan yang ganjil” atau “yang
esa”, yakni, keanekaragaman ciptaan sebagaimana dikontraskan dengan keesaan
dan keunikan Sang Pencipta.
Konsep “angka genap” menyiratkan eksistensi hal sejenis yang
lebih dari satu, dengan kata lain, berarti segala sesuatu yang memiliki
pasangan atau pasangan-pasangan dan, karena itu, memiliki suatu hubungan yang
pasti dengan sesuatu yang lain, yang mengacu pada polaritas yang tampak nyata
dalam seluruh ciptaan.
Sebagai lawan dari konsep “yang banyak” (al-syaf) ini,
istilah al-watr berarti “yang esa” atau “yang tunggal” dan, karena itu,
merupakan salah salah satu penamaan yang diberikan kepada Allah—lantaran “tidak
ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya” (surah al-Ikhlash [112]: 4) dan
“tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (surah al-Syura [42]: 11).
وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَسۡرِ, Perhatikanlah malam ketika ia
menempuh jalannya! (al-Fajr [89]: 4)
Ayat ini berbicara secara tidak langsung tentang malam
kegelapan ruhani yang pasti “menempuh jalannya”—yakni, pasti berlalu atau
menghilang—segera ketika manusia menjadi benar-benar sadar akan Allah.
هَلۡ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٞ لِّذِي حِجۡرٍ, Memperhatikan semua
ini—apakah mungkin, bagi siapa pun yang dianguerahi nalar, ada bukti kebenaran
yang [lebih] kuat? (al-Fajr [89]: 5)
Lit., “suatu penegasan yang [lebih] kuat” (qasam),
yakni, bukti yang meyakinkan tentang keberadaan dan keesaan Allah.
Demikian terjemahan dan penjelasaan atas surah al-Fajr [89]:
1-5 oleh Muhammad Asad. []
Baca juga: Malam (2)

0 Komentar