Soal takwa (kesadaran akan Allah), sedekah atau pengorbanan diri, menjadi demikian tinggi nilai rohaninya. Betapa hal itu akan menjadi puncak kesenangan dan kepuasan tersendiri.
Nah, ayat-ayat berikut, surah al-Lail [92]: 12-21, mengetengahkan puncak kebahagiaan
itu, yakni perkenan Allah.
إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ --- وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ,
Perhatikanlah, memang Kami-lah yang akan mengaruniai [kalian] petunjuk;
--- dan, perhatikanlah, kepunyaan Kami-lah [kekuasaan atas] kehidupan
mendatang serta [atas] bagian yang lebih awal [dari
kehidupan kalian] ini: (al-Lail [92]: 12-13)
Allah dalam kasih sayang-Nya memberikan bimbingan sepenuhnya
kepada semua makhluk. Dalam semua ciptaan-Nya ada petunjuk jalan menuju ke
jalan yang benar. Kepada manusia Dia memberikan lima indera dengan segala
kemampuan mental dan rohaninya untuk menyerasikan daya pengertiannya dan
mengantarkannya kepada pemikiran dan perasaan yang lebih tinggi.
Di samping itu Allah juga mengutus orang yang sudah diberi
wahyu untuk memberi pelajaran dan bimbingan lebih lanjut.
Dan pada akhirnya manusia akan kembali kepada Allah juga,
bahkan sejak permulaan hidupnya, karunia dan cinta kasih Allah sudah
menyertainya selalu.
Bahwa manusia dalam masa percobaan hidupnya sudah dilengkapi
dengan kodrat ikhtiar, kemauan bebas, dan diharapkan ia dapat menggunakannya
sedemikian rupa supaya ia dapat menyesuaikan segenap hidupnya dengan kehendak
dan hukum Allah.
Jika manusia dengan kehendaknya sendiri punya suatu maksud
ia dapat memilih, mau menerima bimbingan Allah atau menolaknya, dan kalau ia
menolak, maka ia mesti memikul akibatnya.
Walhasil, pernyataan dalam ayat 13 tersebut dimaksudkan
untuk menekankan kenyataan bahwa kehidupan manusia di dunia ini dan di Hari
Kemudian tidak lain adalah dua tahap dari satu entitas yang berkesinambungan.
فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ --- لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا
ٱلۡأَشۡقَى --- ٱلَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ, maka, Kuperingatkan kalian
tentang api yang berkobar-kobar—[api] yang tidak seorang pun akan
merasakannya, kecuali orang yang paling celaka --- yang mendustakan kebenaran
dan berpaling [darinya]. (al-Lail [92]: 14-16)
Azab neraka itu tak akan menyentuh siapa pun selain orang
yang sengaja berbuat dosa menentang kesadaran batinnya sendiri dan mendustakan
agama Allah.
وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى --- ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ
--- وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ --- إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ
--- وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ
Sebab, tetap akan jauh dari api itu orang yang
sungguh-sungguh sadar akan Allah: --- orang yang memberikan hartanya
[kepada orang lain] agar dia dapat tumbuh dalam kesucian—bukan
sebagai balasan atas berbagai nikmat yang diterima, --- melainkan
semata-mata karena kerinduan mencari perkenan Pemeliharanya, Yang Mahatinggi:
--- dan orang yang demikian, sungguh, akan merasa sangat senang.
(al-Lail [92]: 17-21)
Harta itu dikeluarkan mungkin untuk sedekah, atau untuk
suatu amal yang baik, seperti untuk memajukan ilmu dan sains atau untuk
mendukung cita-cita yang mulia, dsb. Dan “harta” ini sendiri hendaknya tidak
selalu diartikan uang atau barang-barang materi, melainkan juga dapat berarti
segala yang menguntungkan atau kesempatan yang dapat dinikmati pihak lain, dan
yang dengan itu ia dapat mengabdi kepada-Nya demi kebaikan sesama.
Pada ayat 19, “bukan sebagai balasan atas berbagai nikmat
yang diterima” dalam pengertiannya yang lebih luas, yang diproyeksikan ke masa
depan, frasa ini juga menyiratkan harapan akan balasan atau pahala. Yakni niat
satu-satunya dalam hati hanyalah mengharapkan rida Allah.
Demikianlah terjemahan dari
Muhammad Asad, beserta komentar atau tafsir dari Abdullah Yusuf Ali.
Baca juga: Malam (1)

0 Komentar