SUDAH jadi pengetahuan umum, ayat 1-5 surah al-‘Alaq adalah wahyu pertama kepada al-Musthafa. Lima ayat pertama ini berisi perintah untuk diumumkan, sebab kita paham juga bahwa kendala utama untuk menyampaikan wahyu itu kepada manusia, ialah manusia sendiri, yang keras kepala, sombong, dan angkuh.
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ, Siarkanlah! (atau
Bacalah!) dengan nama Tuhanmu dan Penjagamu Yang menciptakan (al-‘Alaq
[96]:1)
Iqra’ dapat berarti “bacalah” atau “suarakanlah”,
atau “siarkanlah dengan nyaring” wahyu Allah itu. Mengingat keadaan ketika
wahyu pertama itu diturunkan kepada Nabi di Gua Hira, sebagai amanat suci ia
harus menyampaikan wahyu Allah itu dan mengumumkannya.
Beliau tak dapat membaca huruf-huruf duniawi, tetapi kalbu
dan pikiran beliau sudah penuh dengan pengertian rohani, dan sekarang saatnya
sudah tiba beliau harus tampil ke dunia dan mengumumkan misi itu. Dan
pengumuman itu harus dengan nama Allah Maha Pencipta.
Nah, bagi Nabi itu bukan untuk kepentingan pribadi beliau;
beliau menghadapi penyiksaan, kesedihan, dan penderitaan yang begitu getir. Itu
adalah seruan Allah untuk kepentingan umat manusia yang sesat jalan.
Allah disebut dengan nama “Tuhanmu dan Penjagamu”, untuk
mengukuhkan suatu mata rantai langsung antara sumber wahyu itu dengan orang
yang dituju. Wahyu itu bukanlah sekadar proposisi [pendapat benar atau salah]
filsafat yang abstrak, melainkan pesan nyata yang langsung dari Tuhan sebagai
pribadi kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai dan dijaga-Nya.
Mu yang ditujukan kepada Nabi memang tepat sekali,
dengan dua cara: (1) Kontaknya langsung dengan Utusan ilahi (Jibril) dan Dia
Yang mengirim Utusan itu; (2) beliau mewakili segenap umat manusia, dalam
pengertian yang lebih lengkap daripada yang ada pada Yesus Kristus “Anak
manusia” itu.
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ, Menciptakan manusia dari
segumpal darah beku (al-‘Alaq [96]: 2):
Hal itu bisa kita lihat berikut dalam Mu’minun [23]: 14, bahwa:
ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ
مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ
خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ
Kemudian mani Kami jadikan segumpal darah; kemudian
segumpal darah Kami jadikan gumpalan (janin) dan gumpalan itu Kami jadikan
tulang-belulang dan tulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami
kembangkan menjadi makhluk lain lagi. Maka Mahasuci Allah, Pencipta Terbaik.
(al-Mu’minun [23]: 14)
Betapa asal hewani yang hina dalam diri manusia itu berbeda
dengan nasibnya yang mulia berupa kodrat inteleknya, kodrat moral dan
spiritualnya yang diberikan kepadanya oleh Penciptanya “Yang Maha Pemurah”.
Tak ada ilmu yang disembunyikan dari manusia. Sebaliknya,
dengan segala kemampuan yang begitu banyak diberikan kepadanya itu, ia
memperolehnya dalam jumlah demikian rupa sehingga melebihi kemampuan
pemahamannya yang ada dan mengajaknya berusaha untuk mendapat arti yang lebih
baru selalu.
ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ -- ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ,
Siarkanlah! dan Tuhanmu Maha Pemurah, Yang mengajarkan kepada manusia
(menggunakan) pena, (al-‘Alaq [96]: 3-4)—
Sehingga, kita paham bahwa simbol suatu wahyu yang permanen
ialah pena, sebagaimana pula dalam ayat نٓۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُونَ, Nun.
Demi pena dan demi (catatan) yang ditulis. (al-Qalam [68]: 1).
Pena dan catatan pada ayat 1 surah al-Qalam merupakan
simbolik yang melambangkan dasar wahyu kepada manusia. Sumpah dengan pena
menghilangkan tuduhan yang serampangan bahwa Rasulullah orang gila atau
kesurupan. Karena beliau berbicara dengan bahasa yang kuat, jelas, bukan
meracau, tapi penuh arti, dan melalui catatan pena dalam berbagai segi, maka
arti itu dengan sendirinya terungkap tujuannya kepada generasi demi generasi.
Kemudian, kata bahasa Arab untuk “mengajar” dan “ilmu” dari
akar kata yang sama. Tak mungkin terjemahan kita akan dapat menghasilkan
kata-kata yang harmonis dengan nada musiknya yang begitu lengkap untuk “baca”,
“ajar”, “pena”, (secara tak langsung berarti membaca, mengajar, kitab, studi,
meneliti); “ilmu” (termasuk sains, ilmu tentang sifat, ciri dan kemampuan
sendiri, pengertian rohani), dan “siarkan” serta arti alternatif untuk kata
“membaca” itu.
Penyiaran atau bacaan ini secara tak langsung bukan hanya
kewajiban untuk menyebarkan ajaran Allah, yang sejalan dengan tugas kerasulan,
tetapi juga kewajiban menyebarluaskan kebenaran agama itu oleh semua orang yang
membaca dan memahaminya.
Sehingga, arti qara’a yang luas dan menyeluruh ini
tidak hanya mengacu pada pribadi dan waktu tertentu, tetapi juga memberikan
suatu arahan yang umum sifatnya. Seperti yang sudah kita lihat, arti yang luas
semacam ini kita jumpai di sana sini dalam Qur’an [buat mereka yang mau
mengerti].
عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا
لَمۡ يَعۡلَمۡ, Mengajar manusia apa yang tak ia ketahui. (al-‘Alaq [96]: 5)
Pada waktu-waktu tertentu Allah mengajarkan ilmu baru kepada
kita. Orang makin banyak mendapat pelajaran dari hari ke hari. Bangsa-bangsa
dan umat manusia setiap saat bebas belajar ilmu baru. Dalam dunia rohani ini
bahkan lebih kentara dan lebih penting.
Demikian terjemahan dan tafsir Iqra’ (bacalah) atau ‘Alaq
(gumpalan darah) ayat 1-5 oleh Abdullah Yusuf Ali. []
Baca juga: Pembukaan

0 Komentar