Tahun Duka Cita

TAHUN itu disebut sebagai tahun duka cita. Tahun di mana Abu Thalib dan Khadijah tak berusia panjang, berpulang kepada-Nya.  

Padahal, saat itu Rasulullah dan kaum Muslim masih berusaha mengukuhkan pijakan di bumi Makkah, dan mereka belum memiliki pertahanan sedikit pun. Saat itu Rasulullah memerlukan dukungan yang sanggup melindungi, membesarkan hati dan pelipur lara. 

Bayangkan seandainya Abu Thalib berusia panjang hingga bisa terus mendampingi, membela, dan melindungi Baginda Rasul, hingga beliau berhasil mendirikan negara Islam di Madinah, tentu beliau lebih terlindungi dari intimidasi dan tekanan kaum musyrik. Tentu beliau akan tetap aman dan terlindung dari aniaya, sementara pengikut beliau yang mengalami nasib buruk, disiksa dan sebagainya.

Tetapi Allah Maha Berkehendak. Skenario tidak semulus yang dibayangkan. Paling tidak ada dua hakikat yang kita lihat. Pertama, perlindungan, pemeliharaan, dan kemenangan hanya datang dari Allah Swt. Maka, baik ada maupun tidak ada orang melindungi Rasulullah, Allah tetap menjaga beliau dari keburukan manusia dan memenangkan perjuangannya.

Kedua, penjagaan dari manusia bukan berarti beliau tidak mengalami intimidasi, siksaan, atau penindasan yang dilakukan musuh-musuhnya. Sebab, kebijaksanaan-Nya telah menetapkan bahwa para nabi harus merasakan intimidasi, siksaan, dan penindasan yang tidak ringan. 

Sungguh merupakan hikmah sekaligus pelipur lara bagi kita hari ini yang menempuh jalan dakwah. Bahwa Rasulullah pun mengalami cobaan berat di jalan dakwah. Tak pelak, siapa pun mesti selalu siap sedia menghadapi segala rintangan, cobaan, dan penderitaan dalam mengemban dakwah Islam.

Seandainya Nabi sukses menjalankan dakwah tanpa sedikit pun gangguan, kesulitan, dan penderitaan, tentu para sahabat dan kaum Muslim sepeninggalnya akan selalu mendambakan kehidupan yang “aman dan nyaman” seperti beliau. Mereka pasti akan menganggap berbagai rintangan dan kesulitan di jalan dakwah sebagai musibah yang sangat berat.

Padahal tidak demikian. Maka, kita mesti benahi mind set bahwa yang meringankan cobaan berat dan penderitaan kita adalah perasaan bahwa kita mengalami apa yang pernah dialami Rasulullah, dan kita menempuh jalan yang pernah ditempuh Rasulullah. Betapa pun menyakitkan ejekan dan penghinaan orang-orang, semangat tidak melemah karena kita pun menyaksikan bagaimana Rasulullah pernah dilempari kotoran ketika berjalan di pasar sehingga beliau pulang ke rumah dengan kepala kotor, lantas dibersihkan oleh Fathimah, sang putri. Padahal beliau adalah kekasih Allah dan manusia pilihan-Nya. Kita pun akan melihat beratnya kesulitan yang dihadapi Rasulullah saat menemui penduduk Thaif. Penderitaan yang beliau alami di sana membuat kaum Muslim menganggap enteng segala cobaan berat dan penderitaan yang dirasakan di jalan dakwah.  

Kemudian disebutnya “Tahun Duka Cita” bukan semata-mata karena kehilangan anggota keluarga yang sangat penting, sehingga beliau merasa kesepian dan hal-hal melankolis lainnya. Rasulullah menyebut “Tahun Duka Cita” karena tertutupnya banyak peluang dakwah, bimbingan, pengarahan, dan pengajaran setelah kepergian mereka berdua, padahal sebelumnya beliau melihat secercah harapan-harapan karena pertolongan dan dukungan keduanya.

Setelah kematian Abu Thalib, peluang-peluang itu tertutup tepat di depan wajah Nabi. Sekeras apa pun Rasulullah berusaha, selalu ada halangan dan kesulitan yang menghadangnya. Ke mana pun beliau pergi, jalan-jalan tertutup seolah-olah beliau berjalan di tempat. Tidak seorang pun sudi mendengar apalagi mengimaninya. Bahkan semua orang mencemooh dan memusuhi beliau. Tentu saja keadaan itu membuatnya berduka, karena seruannya tak menghasilkan apa-apa. 

Bahkan, kesedihan akibat tidak berimannya orang-orang pada kebenaran yang beliau sampaikan, memenuhi hati sehingga beliau kerap terlihat bersedih. Untuk mengurangi kesedihannya inilah Allah menurunkan sejumlah ayat pelipur lara, yang mengingatkan bahwa tugas beliau hanyalah menyampaikan. Sehingga beliau tak perlu bersedih hati.

Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, karena mereka sebenarnya bukan mendustakanmu, tetapi orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sesungguhnya telah didustakan pula rasul-rasul sebelummu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah. Dan, sungguh telah datang kepadamu sebagian berita rasul-rasul itu. Dan, jika berpalingnya mereka terasa berat bagimu, sekiranya kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka. Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Maka, janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang jahil.” (Al-An’am: 33-35).

Demikian hikmah yang dipaparkan Dr. Said Ramadhan Al-Buthy. [] 

Baca juga: Delegasi Pertama   

Posting Komentar

0 Komentar