(19)
BAGINDA Muhammad mendapatkan kenyataan bahwa para pengikutnya yang setia dan menjadi pembela Islam, sebagian besar berasal dari lapisan bawah, bekas budak, penggembala kambing di padang pasir, petani dan orang dusun di dusun sahara.
Sebut saja misal, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abu Darda, Zaid bin Haritsah, Khabab bin Ali Arat, Shuhaib ar-Rumi, Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, dan lain-lain.
Hal ini merupakan bukti akan kebenaran kenabian Nabi Saw. Tengok saja, kemenangan para nabi sebelum Baginda Muhammad, saat menghadapi musuh yang kuat plus peralatan lengkap dan canggih, adalah karena bantuan orang-orang yang lemah dan miskin. Tampak mustahil, tapi itulah kenyataannya. Allah menunjukkan kebenaran kenabian kepada yang belum atau enggan percaya, bahwa kalangan dari kelas bawahlah yang justru berperan aktif membela kekasih-Nya.
Suatu saat, Abu Sufyan bin Harb beserta rombongan yang berjumlah 30 orang berdagang ke Syam. Mereka dipanggil Raja Hiraklius, raja Romawi yang beragama Kristen. Abu Sufyan dan kawan-kawannya saat itu sangatlah memusuhi Nabi.
Raja Hiraklius ingin mengetahui lebih jauh tentang seorang Quraisy yang mendaku nabi. Ternyata berita kenabian Muhammad telah tersiar hingga Romawi. Dan Raja Hiraklius meminta Abu Sufyan bersumpah terlebih dahulu agar memberi jawaban yang jujur, tidak berlebihan.
“Apakah orag-orang yang menjadi pengikutnya adalah orang-orang yang mulia atau lemah?” tanya sang raja.
Abu Sufyan menjawab, “Bahkan orang-orang paling lemah.”
Jelas sudah, musuh bebuyutan Muhammad pun bersaksi bahwa yang menjadi pengikutnya rata-rata dari golongan lemah dan kaum lapisan bawah.
“Memang merekalah pengikut-pengikut semua Rasul Tuhan.” Kata Hiraklius selanjutnya. Sang raja mengetahui bahwa orang-orang yang menjadi pengikut semua nabi dan rasul adalah orang-orang lemah dari golongan lapisan paling bawah.
Sehingga, Baginda Nabi berkali-kali bersabda, yang salah dua dari sekian itu, “Tidaklah kamu semua diberi pertolongan dan diberi kelapangan rezeki melainkan dengan sebab kamu orang-orang lemah.” (HR Bukhari, dan An-Nasa’I dari Mushab bin Sa’ad).
“Carilah oleh kamu semua orang-orang yang mengikutiku adalah orang-orang yang lemah di antara kamu, karena sesungguhnya kamu diberi kelapangan rezeki dan diberi pertolongan dengan sebab orang-orang lemah.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim dari Abu Darda).
Kenapa demikian? Salah satu sebab, karena mereka adalah orang yang sangat taat dan patuh kepada Allah, tulus ikhlas dalam memohon kepada Tuhan. Mereka bersedia membela kebenaran, berani berkorban karena memandang ringan kematian, lantaran tak terikat kekayaan, kedudukan, dan kemegahan. Mereka hanya patuh kepada Allah dan Rasul-Nya semata.
Kemenangan yang disebabkan pengorbanan kaum bawah ini juga semestinya menjadi peringatan bagi orang-orang yang merasa gagah, mampu, dan kaya, agar menginsyafi bahwa orang yang miskin, lemah, dan tidak berdaya berperan dalam perolehan kejayaan.
Nah teguran Allah kepada Nabi tentang kedatangan Abdullah bin Ibnu Maktum saat beliau berdialog dengan para pembesar Quraisy, sedianya juga menjadi peringatan kita hari ini. Bahwa kita kudu hati-hati menyikapi kaum pinggiran, tidak sembarangan memvonis orang lain yang kita duga naif dan semacamnya.
Sejarah bersaksi, pergerakan Islam yang dipimpin Baginda Nabi justru menyisakan orang-orang dari kelas lemah, yang malahan berjibaku penuh ketulusan, sehingga akhirnya Islam bak mercusuar berdiri kokoh sebagai negara di Madinah.
Mereka ini tulus ikhlas merendahkan diri kepada Allah semata. Mereka bergerak melandaskan kepada wahyu yang diterima dan dimanifestasikan Baginda Muhammad. Termasuk kemudian empat khalifah utama, khulafaur rasyidin, telah memimpin laju Islam di bawah mahkota wahyu, bukan kepentingan duniawi dengan menganggap remeh lapisan golongan tak berdaya.
Sebaliknya, daulah-daulah sepeninggal beliau, yang dipimpin oleh lapisan yang sedemikian mencintai kehidupan dunia, maka kemajuan yang diperoleh tak begitu membawa arti bagi kemajuan Islam. Mereka memimpin semata memperhitungkan laba rugi, tidak mengikuti teladan Nabi, dan tidak ikhlas berserah diri kepada Allah. Bangunan megah pun bertebaran, tapi keropos, sebab nurani kering kerontang.
Demikian. []
Baca juga: Bermuka Masam

0 Komentar