PARA UTUSAN datang ke Makkah untuk menemui Rasulullah dan belajar Islam justru ketika kaum muslim menghadapi siksaan, intimidasi, boikot, dan penindasan. Ini menjadi bukti bahwa penderitaan dan kesulitan yang dialami para juru dakwah Islam sesungguhnya tidak berarti kegagalan.
Keadaan itu juga tak sepatutnya sebagai alasan untuk jadi lemah, rendah diri, apalagi berputus asa. Justru, penderitaan itu merupakan jalan yang harus ditempuh untuk meraih keberhasilan dan kemenangan.
Delegasi yang jumlahnya lebih dari 30 orang laki-laki Nasrani, atau dalam riwayat lain 40 orang lebih, datang dari negeri yang jauh menemui Rasulullah, dan menyatakan keberpihakan pada dakwahnya. Mereka juga dengan tegas menyatakan bahwa tindakan musuh-mush Islam tidak akan mampu menghalangi para penyeru Islam untuk terus berkarya dan menyebarkan Islam ke berbagai penjuru dunia.
Dan sebenarnya para pemuka Quraisy mengetahui hakikat ini, termasuk Abu Jahal, sehingga ia bergegas menemui para utusan dari Habasyah itu dan mengecam mereka karena jadi pengikut Muhammad. Ungkapan Abu Jahal itu mengggambarkan kebencian, kedengkian, dan permusuhannya terhadap Islam. Ia menyadari hakikat Islam dan potensi besarnya untuk terus berkembang dan tersebar luas. Namun, apa yang dapat ia lakukan? Ia hanya bisa menambah intensitas dan kuantitas tekanan serta intimidasi terhadap kaum Muslim. Ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menghalangi apalagi menghentikan dakwah.
Lantas, keimanan seperti apakah yang bersemayam dalam dada para utusan itu? Apakah keimanan mereka seperti keimanan orang yang keluar dari kegelapan menuju cahaya?
Dr. Ramadhan Al-Buthy mengetengahkan bahwa sebenarnya keimanan para utusan itu adalah kelanjutan dari keimanan mereka sebelumnya. Mereka beriman untuk memenuhi tuntutan akidah dan agama yang senantiasa mereka pegang teguh. Mereka adalah para Ahli Injil yang beriman pada Kitab Suci itu dan mengikuti rasul yang datang sesudah Isa a.s.—dan Injil menjelaskan segala ciri, sifat, dan keistimewaannya—maka kelanjutan iman mereka adalah beriman kepada Muhammad Saw.
Jadi, keimanan mereka kepada Rasul Muhammad Saw. bukanlah peralihan dari suatu agama ke agama lain yang lebih baik, melainkan kelanjutan dari hakikat iman kepada Isa a.s. dan kitab suci yang diturunkan kepadanya. Inilah arti ungkapan, “Dan apabila dibacakan (Al-Qur’an ini), mereka berkata, ‘Kami beriman kepadanya; sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kebenaran dari Tuhan kami. Sungguh, sebeleum ini kami adalah orang yang membenarkan(nya).’” (Al-Qashash: 53).
Seakan-akan mereka mengatakan, sebelum ini kami adalah orang berserah diri (muslim) dan beriman (mukmin) pada ajaran yang didakwahkan Muhammad Saw. sebelum ia diangkat sebagai nabi, karena Injil mengajarkan kepada kami untuk mengimaninya.
Seperti itulah keadaan orang yang benar-benar berpegang teguh pada ajaran Isa a.s. atau ajaran Musa a.s. Pasalnya, iman pada Injil dan Taurat akan memandu seseorang menuju keimanan kepada Al-Qur’an dan Muhammad Saw. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar mengajak Ahlul Kitab kepada Islam cukup dengan mengimbau mereka agar menerapkan ajaran Taurat dan Injil yang mereka imani.
Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Hai Ahlul Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil …’” (Al-Maidah: 68).
Hal itu merupakan penegasan bahwa agama yang haq hanya satu sejak Adam a.s. hingga diutusnya Muhammad Saw. dan bahwa istilah “agama-agama samawi” yang digunakan sebagian orang adalah istilah yang tidak benar. Sebab, yang ada adalah syariat samawi yang beraneka ragam, bukan agama-agama samawi. Masing-masing syariat samawi menghapuskan syariat samawi sebelumnya. Sehingga, kita tidak selayaknya mencampuradukkan istilah agama yang berarti akidah dan syariat yang berarti hukum-hukum perilaku berkaitan dengan ibadah dan muamalat.
Demikian. []
Baca juga: Hijrah ke Habasyah

0 Komentar