LIMA TAHUN awal, Muhammad menghabiskan hari-harinya bersama kaum Badui.
Di sana, di perkampungan Bani Sa’d, Muhammad yang diasuh keluarga Halimah saban hari menghirup kehidupan gurun yang belum tercemari oleh desakan akan kebutuhan menaikkan neraca timbangan. Kebutuhan akan laba dan perdagangan.
Kemurnian gurun inilah yang membentuk Muhammad untuk tidak bermanja diri. Ia memakan menu sebagaimana yang dimakan suku Badui: menu sederhana untuk cara hidup yang juga sederhana. Tiada kemewahan, tapi justru merupakan kehidupan yang sehat.
Di gurun tersebut, Muhammad belajar kekuatan alam dan seni hidup. Bagaimana mengukur waktu yang tepat untuk berpindah dari musim dingin ke musim panas. Bagaimana mengatur tenda agar bisa menyesuaikan suhu, baik siang maupun malam. Atau bagaimana menemukan air di tempat yang tampaknya tidak ada air.
Muhammad, yang masih berusia lima tahun, sudah dapat dengan tangannya sendiri untuk menangani unta-unta. Hewan peliharaan berpunuk yang sebetulnya diperkenalkan dari Ethiopia pada abad ke-3, dan sangat cocok untuk musim dan daratan Arab.
Unta ini dapat menyesuaikan suhu badan dengan kondisi lingkungan, dan yang terpenting dapat berjalan berhari-hari tanpa minum. Konon karena di punuknya dapat menyimpan air dalam jumlah yang tak terkira.
Benar tidak soal air di punuk unta, Muhammad kecil akan dengan sabar menunggu di dekat sumur selagi unta-unta minum seolah tanpa henti. Ia menahan kantuk saat berjaga malam, menjaga kawanan ternak itu dari endusan singa gunung yang berkeliaran diam-diam di dekatnya.
Dari situlah, para pencatat sirah menuturkan bahwa Muhammad sedari dini telah mendapat pelajaran mengenai kerendahan hati. Bahwa kehidupan gurun dengan suku Baduinya adalah pelucutan semua kepura-puraan dan ambisi. Juga betapa kecil seorang manusia berada di tengah-tengah udara gurun yang panas ketika siang, dan dingin saat malam.
Muhammad kecil memandang atap bertatakan bintang-gemintang yang mahaluas. Dan bersama saudara-saudara sesusuan, ia bermain bebas di padang pasir. Ia bermanja di hadapan kakak angkatnya, Syayma. Tapi juga siap sebagai pekerja tekun sebagamana bocah-bocah Badui yang lain.
Ketika Muhammad dikembalikan kepada ibu kandungnya, Aminah, ia lebih berciri Badui ketimbang Quraisy. Bocah Badui tampak lebih ramping dan tahan banting. Kaki dan tangannya kukuh. Mata yang menyipit menahan sinar matahari dan embusan pasir. Dan seorang bocah yang akrab dengan kesendirian di gurun.
Dan tidaklah lama, cuma setahun bersama sang ibu kandung. Muhammad praktis menjadi yatim piatu. Aminah mengembuskan napas terakhir di Abwa, setengah jalan antara Madinah dan Makkah.
Memang kemudian Muhammad hidup dalam pengasuhan Abdul Muthalib, sang kakek yang juga merupakan pemuka suku Quraisy.
Dan konon sang kakek menyayangi cucunya itu sedemikian hingga. Namun, saya malahan membayangkan Muhammad yang terdidik sebagai bocah Badui ini teramat pintar membawa diri, tentunya tidak nyaman hidup di tengah aturan ningrat suku Quraisy.
Muhammad tidak akan gegabah berkeliaran di permadani tempat Abdul Muthalib duduk. Karena, lagi-lagi Muhammad bukanlah bocah manja ala putra aristokrat, melainkan anak yatim piatu yang pada abad ke-6 sampai hari ini tak memiliki pijakan kuat selain ketidakpastian.
Jadi, lebih logis membenakkan Muhammad kecil yang hanya dapat memandang kakeknya dari kejauhan. Kalau pun dipanggil sang kakek, Muhammad akan datang dengan hati-hati agar dirinya tidak tampak mencolok.
Karena bagaimanapun, kehidupan masa kecilnya dan hal itu sangat membekas, Muhammad adalah bocah Badui yang mengusung gagasan akan kepemilikan komunal di mana kekayaan pribadi tidak berarti. Sehingga, ia melihat berbagai kontradiksi di masyarakat Makkah.
Sungguh, dalam diri Muhammad tertanam jiwa egalitarianisme di mana ia tak bisa menutup mata kehadiran orang-orang miskin yang terpaksa mengemis di pintu gerbang para pemuka kaya. Ia sedih menyaksikan orang-orang terpaksa menjajakan diri sebagai pelayan upahan.
Ketika bermenung di pinggir pelataran Ka’bah, bocah laki-laki ini memperhatikan betapa orang yang berkuasa selalu tampak berjalan di depan dan orang yang tidak berdaya berjalan di belakang. Ia melihat kepuasan diri kalangan kaya, seolah kekayaan merupakan sebuah kebajikan dalam dan untuk dirinya sendiri.
Muhammad juga sering mendengar percakapan orang-orang Yahudi yang datang dari Madinah dan Khaybar. Serta orang-orang Kristen dari Yaman. Mereka para ahli kitab, tetapi saling berbenturan konsep.
Muhammad, yang masih seorang bocah kecil dalam pengasuhan Abdul Muthalib, yang berusia enam atau tujuh tahun, merenung: bagaimana Tuhan mengatakan hal-hal yang berbeda, dan bagaimana mungkin nabi satu kaum ditolak oleh kaum yang lain? Bagaimana setiap suku memuja sesembahan mereka sendiri, tetapi tidak memuja semua?
Singkatnya, dalam diri Muhammad tumbuh sebagai bocah Badui yang rindu akan kejernihan, akan visi kesatuan yang menyatukan orang-orang.
Demikianlah! []
Ungaran, 27 November 2025

0 Komentar