BEBERAPA waktu setelah peristiwa Badar, berlangsung pernikahan putri bungsu Nabi, Fathimah, dengan Ali bin Abi Thalib.
Dan sebelum pernikahan, kapan waktu seorang hamba sahaya bertanya kepada Ali, “Apakah Engkau mengetahui bahwa Sayyidah Fathimah telah dilamar?”
“Belum!”
“Terus apa yang menghalangimu datang kepada Rasul Saw. supaya beliau mengawinkannya denganmu?”
“Aku tak memiliki modal untuk kawin.”
“Kalau Engkau datang, beliau pasti akan mengawinkanmu dengannya.”
Hamba sahaya itu terus mendesak Ali agar melamar Fathimah, hingga akhirnya ia luluh dan menghadaplah ke Baginda Nabi. Namun, di hadapan Nabi, Ali tak sanggup mengutarakan maksud kedatangannya.
Melihat gelagat dan wajah anak pamannya itu, Baginda Nabi paham. “Apa tujuanmu ke sini? Apa ada keperluan?”
Ali terdiam. Ia mendadak kaku tak sepatah kata bisa keluar. Dan dari wajahnya mulai tampak pucat tak jelas. Baginda Nabi iba dan langsung to the poin, “Engkau datang hendak meminang Fathimah bukan?”
“Benar, wahai Rasulullah.” Jawab Ali dengan rada terbata, sungkan dan bermacam-macam perasaan campur aduk di dadanya.
“Apakah ada sesuatu yang dapat Kau berikan untuk menghalalkannya?”
“Tidak ada, wahai Rasulullah.” Mulai agak tegas, meski masih dengan wajah menunduk.
“Apakah perisai al-Huthamiyah yang kuberikan kepadamu masih?”
“Masih ada padaku, wahai Rasulullah.”
“Jika demikian, Engkau akan segera kukawinkan dengan maskawin itu.”
Setelah itu, Nabi menyampaikan lamaran Ali kepada putrinya, sebagaimana kebiasaan beliau dalam setiap menikahkan kakak-kakak Fathimah.
Dan sontak Fathimah menangis haru. Ia langsung terbayang wajah ibunya yang telah mendahului pulang keharibaan-Nya. Apalagi, kala mengingat ibu tirinya, Aisyah, yang kerap menyinggung almarhumah ibunya baik di hadapan Baginda Nabi maupun dirinya. Fathimah terharu, karena bakal meninggalkan rumah ayahnya.
Terbayang jelas, beratnya tantangan dakwah yang dihadapi sang ayah. Dan sang Baginda sendiri sebegitu dekat dengan dirinya. Bila datang dari perjalanan, Baginda Rasul seusai shalat dua rekaat di masjid, tak langsung menemui Aisyah, tetapi mengunjunginya terlebih dahulu. Fathimah merasakan betapa murni cinta kasih sang ayahanda.
Benar-benar, Fathimah seorang yang melankolis, amat perasa, serta pengiba. Lantas, di hadapan sang Ayah ini, Fathimah memohon restu untuk bekal di kemudian hari mendampingi Ali, sekaligus meminta maaf lantaran sebentar lagi terpaksa akan meninggalkan rumah.
Berikutnya, Ali menjual perisai dan beberapa barang miliknya, hingga terkumpul 400 dirham. Kemudian Nabi menikahkannya di hadapan sahabat-sahabat dari kelompok Muhajirin maupun Anshar. Beliau berkhutbah sebagai pengantar pernikahan.
“Sesungguhnya Allah memerintahkan aku mengawinkan Fathimah dengan Ali. Aku mempersaksikan kalian bahwa aku segera akan menikahkan Fathimah dengan Ali dengan maskawin empat ratus mitsqal perak jika Ali ridha dengan itu. Perkawinan yang sesuai dengan kebiasaan serta ketentuan agama yang diwajibkan. Maka semoga Allah menghimpun apa yang terserak dari keduanya, semoga Allah memberkati keduanya, memperbaiki kualitas keturunan keduanya, menjadikan keturunan mereka pembuka-pembuka pintu rahmat, sumber-sumber hikmah, dan pemberi rasa aman bagi umat. Demikian ucapanku dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan untuk hadirin sekalian.”
Ketika upacara ini berlangsung, Ali tidak di tempat karena sedang ditugaskan Rasul untuk satu urusan. Yang hadir disuguhi hidangan dari kurma. Baru sesaat kemudian, Ali tiba. Baginda Rasul tersenyum kepadanya seraya berucap, “Wahai Ali! Sesungguhnya Allah memerintahkan aku mengawinkanmu dengan Fathimah. Sungguh aku telah mengawinkanmu dengannya dengan maskawin empat ratus mitsqal perak.”
Ali segera menyahut, “Aku telah ridha, wahai Rasulullah.”
Setelah itu, Ali bersujud syukur. Sungguh bersyukur. Tak dinyana ia mendapat anugerah jadi pendamping Fathimah, gadis 18 tahun yang begitu elok, dan sangat rupawan, sekaligus berbudi luhur. Gadis dambaan setiap orang, saking jelita, baik wadag maupun batinnya.
Dan sangat wajar sekira Fathimah cantik, sebab ayahandanya, sang Baginda teramat gagah, dan banyak riwayat menyebutkan bahwa Fathimah sangat mirip dengan sang ayah. Ibunya, Khadijah, juga dikenal sebagai perempuan anggun dan cantik. Kemudian saudari-saudari Fathimah adalah perempuan-perempuan cantik pula, yang telah menikah dengan tokoh-tokoh berpunya di Makkah.
Sementara, Ali seorang yang tak berpunya. Tetapi kemiskinan atau kekayaan tidak pernah menjadi bahan pertimbangan utama Baginda Nabi. Sekali lagi, bersyukurlah Ali.
Alhasil, Ali dan Fathimah membangun bahtera keluarga dalam kesederhanaan. Mereka hidup sederhana. Keduanya pun, sebagaimana semua perkawinan sukses, sesekali menghadapi ketidaksepakatan. Misal ketika terdengar isu bahwa Ali berencana melamar putri Hisyam bin Mughirah, Fathimah mendatangi ayahnya dan menyampaikan kalimat singkat, “Orang-orang mengira bahwa Engkau tidak marah demi putri-putrimu.”
Nabi tahu persis apa yang dimaksud putrinya, karena memang sebelum itu keluarga Hisyam telah meminta izin Nabi untuk mengawinkan putri mereka dengan suami putri beliau itu. Mendengar keluhan sang putri, beliau menuju mimbar dan menampakkan kemarahan. Di hadapan orang banyak beliau bersabda, “Keluarga Hisyam meminta izin kepadaku agar mereka menikahkan putri mereka dengan Ali. Ketahuilah bahwa saya tidak mengizinkan, kemudian tidak mengizinkan dan, sekali lagi tidak mengizinkan! Fathimah adalah bagian dari diriku, menyakitkan aku apa yang menyakitkannya.”
Namun begitu, cinta Fathimah kepada Ali tidak pernah pupus, bahkan tidak sesaat pun pudar. Ia hanya syok sekiranya Ali bakal menikah lagi.
Demikian pula Ali, sesaat pun tidak melakukan sesuatu yang mengundang amarah sang istri. Bahkan sampai-sampai, Ali tidak membaiat Abu Bakar ketika menggantikan Baginda Nabi memimpin umat Islam, kecuali setelah Fathimah wafat, setelah enam bulan dari pembaiatan umum. Karena saat itu hubungan antara Fathimah dengan Abu Bakar lagi tidak harmonis.
Demikianlah! []
Ungaran, 26 November 2025
Baca juga: Mariyah

0 Komentar