Bermuka Masam

(18)

PEMUKA Quraisy melaksanakan putusan mereka untuk bertemu Nabi, seusai kegagalan Utbah bin Rabi’ah. Kebetulan Nabi Saw. tengah seorang diri di serambi Ka’bah. 

Pemuka-pemuka yang beramai mendatangi beliau: Abu Jahal bin Hisyam, Walid bin Mughirah, Ubay bin Khalaf, dan Utbah bin Rabi’ah. Dan memandang mereka yang tampak beriktikad baik, Baginda Nabi membacakan ayat-ayat Allah. Beliau sepontan menumpahkan perhatian, berharap mereka menerima seruannya.

Namun, ya, begitulah para pembesar Quraisy saat itu. Mereka sengaja menahan diri, berpura-pura menyimak dengan seksama setiap kata yang dibacakan, tiada lain tidak bukan untuk menghina Muhammad. Dan Nabi yang memang dari sononya tak pernah berpikir negatif, berasa senang dengan sikap kekeluargaan yang ditunjukkan mereka.

Beliau pun antusias membabar risalahnya. Beliau benar-benar berharap, jika para pemuka ini akhirnya mau menerima dakwahnya, niscaya jalan akan terbuka lebar untuk menyebarkan risalah Tuhan ke khalayak ramai. Cita-cita-Nya yang diembankan ke beliau bakal tersiar mudah dan cepat, karena rintangan dan gangguan dari para tetua Quraisy berkurang. 

Ketika Nabi tengah bercakap-cakap, tiba-tiba datang seorang buta berpakaian compang-camping, Abdullah bin Suraih namanya. Ia dikenal pula dengan nama Ibnu Ummi Maktum. Ummi Maktum adalah julukan Atikah, dan Atikah merupakan saudara tua Khadijah. Jadi, orang buta ini adalah anak dari kakak Khadijah atau dengan kata lain saudara sepupu Khadijah.

Ibnu Ummi Maktum hendak belajar Islam kepada Nabi, hanya sayang, ia datang di saat yang kurang tepat. Ia datang ketika Nabi tengah berkonsentrasi meyakinkan para pemuka Quraisy yang mengelilinginya.

Beliau terus membacakan ayat-ayat kepada pembesar-pembesar Quraisy, seraya menangguhkan Ibnu Ummi Maktum. Dan setiap kali selesai membacakan, beliau bertanya kepada mereka, “Bukankah yang kuserukan ini baik?”

Mereka menjawab seraya tertawa, “Ya, baik, demi Allah! Benar-benar sangat baik.”

Nabi kemudian membaca beberapa ayat lagi, dan bertanya lagi setelahnya, serta jawaban mereka pun tetap senada. Jawaban yang seolah hendak mengiyakan seruan Nabi, hendak menerima beliau. Dan itu berulang-ulang.

Saat yang sama, Ibnu Ummi Maktum yang compang-camping itu selalu menyela, “Ya Rasulullah, berilah aku pelajaran! Beri aku pelajaran!” Dan ini juga ia sampaikan berkali-kali di tengah Nabi sedang meyakinkan para pemuka Quraisy. Sehingga, beliau sedikit terganggu dengan ulah Abdullah bin Ummi Maktum. Beliau mengerutkan muka dan berpaling darinya. Beliau terpaksa menunda permintaannya dan memilih untuk lebih memperhatikan para pembesar dan pemuka Quraisy.

Nabi memandang kedatangan Abdullah bin Ummi Maktum akan mengganggu keinginan para pemuka Quraisy memeluk Islam. Kedatangan dan keinginannya yang beliau rasa bakal memutuskan pertalian yang mulai tampak kuat, paham, dan sepemikiran dari gelagat yang ditunjukkan pemuka-pemuka Makkah. Nabi berpikir, seharusnya Abdullah tidak ikut menyela dalam percakapan mereka, meski ia meminta pengajaran risalah. 

Itulah sebab, Nabi bermuka masam, tidak menghiraukan kedatangan Ibnu Ummi Maktum. Beliau khawatir pemuka-pemuka Quraisy menarik diri dan tidak jadi memeluk Islam. Sehingga jelas, Nabi yang bermuka masam dan bepaling saat itu, bukan maksud merendahkan dan menghina Ibnu Ummi Maktum, melainkan karena beliau sengaja hendak mencari hasil yang lebih besar atas kelangsungan dakwah selanjutnya. 

Namun demikian Allah menegur beliau, turun surah Abasa. Justru beliau diingatkan, seyogianya tidak sampai melengahkan permintaan seseorang yang pengin belajar. Teguran yang menandaskan sekiranya kedatangan seseorang itu diperhatikan dan dihargai, karena sepatah nasihat akan berasa manfaat bagi yang meminati ketimbang nasihat berbusa panjang lebar kepada para pembesar Quraisy yang tak berminat. 

Nabi hanya berkewajiban menyampaikan wahyu Allah, baik kepada yang kaya maupun miskin, kepada pembesar maupun kaum jelata. Tidak semestinya berlaku pembedaan, dan tak sepatutnya bertindak mengurangi derajat yang satu dan melebihkan derajat yang lain. Juga bahkan konsep pemahaman, harga keimanan lebih mahal walau terlukis di mata hati orang buta lagi miskin. Sedangkan kekafiran tetap rendah dan dimurkai Allah meski berlabuh di hati orang yang berpangkat tinggi, berharta banyak, dan berpengaruh besar. 

Oleh karena pribadi Baginda Muhammad yang berbudi, dan berpikir tajam, serta berpandangan bijak, maka teguran Allah ini sangat jelas dan tidak perlu diulang lagi. Beliau segera merendahkan diri di hadapan Allah dan mengakui kesalahan. Beliau sadar, belum tentu yang buta mata, buta pula hatinya. Dan memang kenyataannya begitu, bahkan hingga hari ini, yang tidak buta mata fisik, tetapi buta mata batin, dan semacamnya. 

Setelah turun ayat teguran, beliau tidak pernah lagi bermuka masam atau memalingkan wajah dari siapa saja yang datang, terutama dari kalangan bawah, kaum miskin, kalangan budak dan seterusnya. 

Dan semenjak itu juga, setiap kali kehadiran kalangan yang kurang perhatian, beliau akan membentangkan selendangnya, “Berbahagialah dengan kedatangan orang yang menyebabkan aku mendapat teguran langsung dari Tuhanku.”

Demikian! []

Baca juga: Utbah Tak Sanggup lagi

Posting Komentar

0 Komentar