(20)
DUKUNGAN kepada Baginda Nabi terus bertambah, terus mengalir. Namun, rintangan-rintangan yang beliau dan para pengikutnya hadapi juga makin hari makin besar.
Para pengikut beliau, baik laki-laki maupun perempuan, tua dan muda, terus-menerus mendapatkan penganiayaan. Lebih-lebih yang berlatar bawah, rendah, hina-dina, dan tidak berkekuatan sesuatu apa pun, siksaan demi siksaan terjadi secara sadis.
Baginda Muhammad tidak tahan melihat semua itu. Beliau ingin memberi pertolongan, tetapi beliau belum memiliki kekuatan sedikit pun. Sekiranya bisa memilih, beliau lebih suka dirinya sendiri yang dianiaya, daripada harus melihat penganiayaan yang diderita para pengikutnya.
Oleh sebab itu, beliau mengumpulkan para pengikut dan bersabda, “Jika kalian pindah ke negeri Habasyah, hal itu lebih baik. Karena di sana ada seorang raja yang tak membiarkan terjadi penganiayaan di wilayahnya.”
Maka, berangkatlah sebagian pengikut beliau ke Habasyah. Namun sebagian besar tetap memilih tinggal di Makkah. Mereka merasa nyaman bersama sang Baginda, baik senang maupun sengsara, yang penting bisa terus bersama beliau.
Para pengikut yang berangkat ke Habasyah, yang dalam sejarah kemudian disebut sebagai hijrah pertama, meninggalkan kota Makkah dengan sembunyi-sembunyi. Mereka berangkat seorang demi seorang atau berdua dengan istrinya, agar tak mencolok perhatian para pembesar Quraisy.
Akhirnya sampailah dan berkumpul di Laut Merah. Mereka berjumlah 15 orang, 10 laki-laki dan lima perempuan. Mereka adalah Utsman bin Affan (Bani Umayyah), Abu Huzaifah bin Utbah bin Rabi’ah (Bani Abdu Syamsin), Abu Salamah bin Abdul Asad (Bani Makhzum), Az-Zubair bin Al-Awwan (Bani Asad), Mush’ab bin Umair (Bani Abdul-Dar), Abdurrahman bin Auf (Bani Zuhran), Amir bin Rabi’ah (Bani Adi bin Ka’ab), Utsman bin Madh’un (Bani Jamuh), Abu Sabrah bin Abi Rahmin (Bani Amir), Suhail bin Baidha’ (Bani Al-Harits), Ruqayyah binti Muhammad (istri Utsman bin Affan), Sahlah binti Suhail (istri Abu Huzaifah), Ummu Salamah binti Abu Umayyah (istri Abu Salamah), Laila (istri Amir bin Rabi’ah), dan Ummi Kultsum (istri Abu Sabrah).
Mereka menyewa perahu untuk berlayar ke daratan Afrika, ke negeri Habasyah sebagaimana petunjuk Nabi. Sesampai di sana, mereka disambut raja dan rakyat Habasyah dengan baik. Mereka bebas tinggal di sana dengan aman dan sejahtera.
Sementara di Makkah, sesudah para tetua Quraisy mendengar kabar bahwa sebagian dari pengikut-pengikut Muhammad pergi ke negeri lain, mereka dengan segera menyuruh seseorang untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut, sekaligus meminta para pengikut Nabi itu kembali.
Tetapi, apa yang terjadi? Ketika orang yang disuruh para tetua Dewan Nadwah sampai di pantai Laut Merah, rombongan kaum muslimin telah menaiki perahu dan berlayar. Ia bertanya ke para penyewa perahu, ke mana tujuan kaum muslimin.
Dengan sangat kecewa, suruhan itu pun kembali ke Makkah. Dan melihat suruhan mereka pulang dengan tangan hampa, kemarahan para pembesar Quraisy terhadap kaum muslimin yang masih tinggal di Makkah semakin menjadi-jadi.
Kemarahan itu mereka lampiaskan dengan menghasut orang-orang yang belum menjadi pengikut Muhammad Saw. supaya jangan mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. “Janganlah kalian dengarkan bacaan yang biasa dibaca Muhammad dan para pengikutnya. Cemoohlah bacaan itu! Dan buatlah ragu orang-orang yang berani coba membacanya!”
Sedangkan di Habasyah, setelah kurang lebih tiga bulan menetap, para pengikut Muhammad kembali pulang ke Makkah pada pertengahan bulan Syawwal tahun kelima diutusnya Nabi. Mereka mendengar kabar bahwa kaum tetua Quraisy yang menghalangi Nabi telah takluk hingga tak seorang pun yang tidak mengikuti Nabi. Padahal, itu hanyalah hoaks yang sengaja diembuskan kaum kafir Quraisy.
Begitu mereka dekat kota Makkah, barulah paham bahwa itu kabar bohong. Senyatanya, para pembesar Quraisy yang menentang Nabi masih menguasai kota Makkah dan bahkan kekejaman mereka terhadap pengikut-pengikut beliau yang masih tinggal di Makkah makin bertambah besar.
Demikianlah! []
Baca juga: Rahasia Kemenangan

0 Komentar