Apakah manusia masih berpikir di era komunikasi digital ini? Apakah arti berpikir di era sekarang ini? Pertanyaan yang tak mudah dijawab. Tetapi tatkala mempercakapkan literasi, salah satu prasyaratnya kita mesti terbuka dengan pertanyaan tersebut, syukur bisa menemukan jawabannya.
Zaman sekarang disebut sebagai postmodernisme, dan era
komunikasi digital. Di mana titik temu kita adalah luapan informasi berkat
pemakaian teknologi komunikasi digital.
Akhir abad ke-20, Jean Baudrillard mengetengahkan konsep
simulacra. Sebuah konsep yang menggambarkan realitas telah digantikan oleh
simbol. Menurut Baudrillard, pengalaman kita mulai dari politik, ekonomi, dan
sosial yang erotis, tidak lebih daripada simulasi kenyataan. Teks, video, dan
gambar di internet membingkai atau merekayasa peristiwa seolah-olah terjadi.
Bayangkan saja, hari ini sebagian besar umat manusia
menundukkan kepala: melihat layar ponselnya, betapa isi zoom, whatsapp,
tik-tok, twitter, terasa lebih riil ketimbang orang yang duduk di depan meraka.
Dan kita gagap melihat kenyataan. Efek terhadap
demokrasi pun sempat menggelisahkan. Dengan telepon cerdas, ideal-ideal
demokrasi seolah gampang teraih. Dengan ponsel di tangan, siapa saja bisa dan
bebas mengungkapkan unek-unek politiknya. Dalam komunikasi digital tidak ada
hierarki yang membatasi orang bicara. Setiap kita bisa menjadi produser,
sutradara, dan pemain.
Namun persis pada saat ini pula, ketika akses langsung dalam
genggaman, cita-cita demokrasi justru terancam lumpuh. Alih-alih mengupayakan
saling pemahaman, kerap kali media-media sosial menjadi sarana penyebaran
hoaks, atau berita palsu dalam bentuk teks, video, gambar, poster, chatt, atau
foto, yang mendistorsi kenyataan.
Industri kebohongan telah sampai ke ruang privat. Yang
mengkhianati akal sehat. Yang memancing kebencian. Nah, apakah yang demikian
itu bisa disebut komunikasi jika tak saling mengerti? Apakah bisa disebut
demokrasi, jika kebohongan merusak komunikasi?
Sekiranya para pemikir dan segenap penggiat literasi mengemban
tugas ini: mengajak berpikir. Berpikir adalah mempersoalkan. Tugasnya mirip
kerja filsafat, yakni hidup dengan bertanya. Dahulu, para filsuf mempersoalkan
mitos sebagai realitas semu. Di zaman modern, filsafat mempersoalkan ideologi,
dan bahkan agama, sebagai bentuk lain mitos. Saat itu fiksi masih relatif mudah
dibedakan dengan realitas. Kemudian dalam revolusi digital, ketika luapan
informasi mangacaukan persepsi, distingsi antara fiksi dengan realitas mulai
kabur dan tak menarik dipersoalkan. Para pengguna gawai tidak lagi peduli bahwa
mereka telah menjadi tawanan layar dan simulacra. Mereka menikmati realitas
dalam gawai.
Nah, sekali lagi apakah literasi hari ini yang terus saja digaungkan itu
masih dapat menunaikan tugas klasiknya? Atau bahkan masih perlukah tugas itu?
Jika toh berpikir ternyata bisa sama saja dengan yang menjadi tawanan layar
gawai.
Saya termasuk yang mengandaikan bahwa literasi tetap harus
menjalankan tugas klasiknya, sebagaimana filsafat: mengajak berpikir untuk
menemukan kebenaran, memaknai keindahan, dan menilai kebaikan. Dan tugas ini betul-betul
diperlukan justru saat sekarang ini, tatkala komunikasi digital serasa tak
terelakkan. Sebuah tugas yang sungguh sangat mendesak.
Kita saksikan, dunia digital itu berciri linguistik. Tatkala
kita menyalakan ponsel, dan terlibat komunikasi, kita menjadi aktor. Padahal
isi dunia digital hanya fakta-fakta yang dibicarakan, artinya tak sepenuhnya
fakta sebagaimana di dunia riil. Namun, karena banjir informasi, karena
fakta-fakta semu itu terus dibicarakan, lama-lama isu semu di dunia digital
terasa menjadi dunia rill. Kini, orang-orang banyak yang lebih percaya pada
informasi yang tersiar di gawai, ketimbang obrolan langsung di beranda rumah.
Kenyataan yang seolah fakta, kenyataan yang sejauh dibicarakan, itu berhenti kala ponsel kita mati atau pulsa habis, atau wifi tak terbayar. Saat itulah, kita baru
merasa betapa alam riil itu pun perlu. Betapa bersenda gurau antarsesama secara
langsung, tanpa gawai, itu juga mengasyikkan. Sebuah “kenyataan di luar
pembicaraan” dalam gawai.
Sayang, yang begitu itu hanya sesaat, hanya sebuah jeda
ketika gawai mati atau pulsa habis. Selanjutnya, kembali kepada kenyataan “aku”
yang bukan substansi, melainkan gumpalan relasi-relasi, seperti bawang yang
tidak ada nucleus, hanya lapisan-lapisan yang berujung pada bukan apa-apa.
Hal itu menjadikan kebenaran tidak lagi dicari dengan
refleksi diri dalam benak, pada daya cerap, atau dalam lubuk hati sendiri.
Tetapi cukup dengan “klik”, niscaya google, youtube, dan patform-patform media
sosial siap mengarahkan jawaban. Akal tidak lagi herois sebagaimana abad
pencerahan Eropa. Akal redup oleh sentimen yang berseliweran di dunia maya.
Hari ini kita mengalami betul, penampilan online seseorang tidak
perlu mengandaikan tubuh, bodyless.
Kita bisa berkomunikasi di sana sekaligus di sini, dengan tubuh entah di mana.
Kita tidak saling merasakan langsung tindakan. Maka, wajar saja minim
sensibiltas. Minim komitmen. Dan, bisa salah rasa, bisa mati rasa. Padahal, bagaimanapun
tubuh menjangkarkan kita ke dalam dunia, tanpanya kita akan kehilangan berada
dalam situasi.
Saat ini kita juga mengalami tercerabutnya tindakan dari
teritori tertentu. Saat berselancar di gawai, perbedaan lokal dan global
langsung hilang. Karena berselancar mengandaikan hidup di tengah belantara
global. Setiap tindakan berpotensi global. Sehingga, apalah arti tempat, sekira
pesan hadir di mana-mana. Kita saling mengawasi sekaligus diawasi.
Dan yang jelas, akhirnya pelan-pelan hari ini terbit banalisasi akibat
ketidakberpikiran para pengguna gawai. Tatkala “klik” dan “ketik” di grup
whatsapp, misalnya, acap kali mendahului kesadaran. Padahal, yang demikian itu
kerap membahayakan orang atau kelompok lain.
Singkatnya, saya hanya ingin turut berandai, sekira komunikasi
digital itu, sebagai bagian berliterasi, bukan hanya fakta, melaikan mengandung imbauan untuk menyebar
kebenaran, menyingkap keindahan, dan berbagi kebaikan. Bahwa kita perlu
mengasihi orang lain dengan tiap kata yang kita ketik di layar. Bahwa berliterasi adalah menegakkan empati.
Demikian! []
Ungaran, 10 Juli 2026

0 Komentar