“Kita ini cari rida Allah,” kata seorang instruktur pelatihan yang saya ikuti. Tampak peserta manggut-manggut, entah setuju, atau sekadar paham, atau demi kesopanan di hadapan instruktur.
Rida Allah, benar-benar mentereng kedengarannya. Acap jadi doktrin
andalan untuk mengikat orang lain. Dan, saya tak mau seperti para peserta
pelatihan itu, yang begitu saja manggut-manggut, tanpa menelisik makna. Walau,
saya tak tahu pasti, sekali lagi mereka itu paham dan kemudian setuju, atau
sekadar paham tapi tidak setuju. Atau
kemungkinan lain, supaya kelihatan khusyuk tengah memperhatikan instruktur
berceramah.
Tapi jelas, buat saya, ungkapan “rida Allah” ini tidak main-main.
Ungkapan yang berkonsekuensi. Pernyataan yang menuntut bukti diri, bukan sekadar
pengharapan.
Dalam Langit-Langit Desa, Muhammad Zuhri berkisah.
Tersebutlah seorang guru tengah berhadapan dengan seorang murid yang lagi
resah.
“Guru, saya siap menerima wasiat,” ikrar sang murid.
“Kalau begitu, tiba saatnya kamu berlatih rida,” fatwa sang guru.
“Tidakkah amalan-amalan yang telah kami lakukan selama ini
bertujuan mencapai rida Allah?”
“Benar, tapi kamu belum mendapatkannya.”
“Jadi, belum diterimakah amalan kami itu, Guru?”
“Setiap amal baik akan dibalas dengan rahmat, tidak dengan rida
Allah. Karena makna rida adalah memberikan diri kepada pihak lain, maka tebusan
satu-satunya hanya dengan memberikan diri pula kepada-Nya.”
Begitulah. Saya menangkap makna, rida Allah bukan dambaan meraih
bonus, melainkan kesiapan diri untuk sepenuhnya dikendalikan Allah. Dalam kitab
suci, rida Allah disimbolkan surga. Dan surga itu sendiri tidak dapat dimasuki
selain yang menyandang sifat “ar-Rahim”,
la yadkhulu al-jannata illa rahim.
Bahwa yang berhak surga adalah yang bersifat penyantun dan penuh kasih dalam
mengembangkan semesta kehidupan. Bahwa surga adalah kemauan menegakkan fungsi
keterwakilan.
“Kita ini cari rida Allah,” kata instruktur pelatihan itu
mengulang, dan peserta manggut-manggut.
Rida Allah sama dengan menunaikan hak Tuhan. Bagaimana? Sang guru
sufi, Muhammad Zuhri, dalam Secawan Cinta,
menuturrkan: kita berdiri di antara Allah dan semesta, di antara yang ideal dan
real, atau di antara dimensi keharusan dan dimensi kenyataan.
Karena itu
Kami jadikan kamu umat yang meniti jalan tengah, agar kamu menjadi saksi bagi
orang banyak, dan rasul menjadi saksi bagimu. (Al-Baqarah [2]: 143).
Betapa berdiri di tengah, berisiko dibebani dua tanggung jawab
sekaligus, tanggung jawab ke atas dan tanggung jawab ke bawah. Saat menghadap
Allah, kita bertanggung jawab menyampaikan tuntutan dan harapan sesama. Dan
ketika berhadapan dengan sesama kita bertanggung jawab menyampaikan pesan dan
perintah Allah kepada mereka.
Benar, begitulah adanya kala meniti jalan tengah: kesanggupan menjadi
wakil Allah di depan manusia dan menjadi wakil umat manusia di depan Allah.
“Kita ini cari rida Allah,” kata instruktur itu lagi, dan
lagi-lagi peserta manggut-manggut.
Artinya, kita wajib siap meniti jalan tengah, menjadi saksi bahwa
Tuhan itu ada. Kita tunjukkan bahwa Tuhan pasti datang menolong. Kita
memanifestasikan kehendak Tuhan, merealisasikan kemauan Tuhan, atau singkatnya
menjadi “orangnya” Tuhan.
Tatkala ada yang kelaparan, bencana alam, dan semacamnya, kita
melibatkan diri mengurus mereka, meringankan beban derita mereka. Jadi, dengan melewati
hamba-Nya jugalah, Allah menolong hamba-Nya yang lain. Itulah manajerial
ketuhanan, fungsi keterwakilan.
Dengan demikian, mendapat rida Allah bermakna saat kita melaksanakan peran
ketuhanan. Saat melakukan sesuatu yang tidak lagi
bermotif kepentingan diri atau nilai-nilai
pada umumnya, tapi murni demi merealisasikan syahadat.
Dengan indah Muhammad Zuhri
melukiskan: “Mereka datang dari puncak gunung, dari tepi ngarai, pinggir
samodera dan dari padang pasir yang tandus bukan untuk berburu dan mengumpulkan
kekayaan duniawi, melainkan hendak mengajak umat manusia menunda datangnya hari
kiamat dan sekaligus mengurungkan kematian.
“Mereka menulis puisi bukan untuk
berpuisi, karena diri mereka berupa puisi konkret yang didendangkan para
Malaikat. Mereka juga meninggalkan wacana-wacana tetapi tidak untuk berwacana,
karena perilaku mereka telah berwujud wacana-wacana yang dinyanyikan
bintang-bintang di langit, embun pagi, arakan awan dan ombak di lautan.
“Mereka tidak memiliki sesuatu dan
tidak pula dimiliki oleh sesuatu, karena pada hakikatnya mereka milik semua dan
pemilik semua. Bagai kendaraan, mereka turun dari langit, ketika Sang Maha
Pengasih rindu menjenguk makhluk-Nya. Mereka juga kereta-kereta pada saat Sang
Pemelihara semesta mencemaskan keadaan hamba-hamba-Nya. Dan, bak sayap-sayap
raksasa mereka menaungi umat manusia dari murka Tuhan dan duka berada.”
“Kita ini cari rida Allah,” tandas
instruktur itu penuh semangat.
Dan itu menjadi mungkin dengan bersyahadat,
dari kesaksian kata-kata berikut bukti, “Allah-lah sesembahanku. Maka jika
seluruh potensi yang kumiliki dari pemberian-Nya ini diminta, pasti akan
kuberikan.” tutur sang guru dari Pantura Jawa, Pati.
Ungaran, 09/07/2026

0 Komentar