Selanjutnya Allah bertanya, mungkinkah kita datang ke dunia ini tanpa diurus-Nya, tak terurus, atau Dia tak bertanggung jawab atas kita?
Jawabnya, tidak. Dan memang mustahil bagi Allah membiarkan
kita tanpa petunjuk, hingga logis sekira
kita pun dimintai pertanggungjawaban, dan sebagainya dan seterusnya.
Maka, apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan
sendiri, pergi ke sana kemari sekehendaknya? (Al-Qiyamah [75]: 36)
Yakni, tanpa dimintai pertanggungjawaban moral atas
perbuatan-perbuatannya.
Bukankah dia dahulu [hanyalah] setetes air
mani yang ditumpahkan, dan kemudian menjadi sel benih—lalu Dia menciptakan dan
membentuk[-nya] sesuai dengan apa yang telah ditentukan [baginya],
dan menjadikan darinya dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan? (Al-Qiyamah [75]: 37-39)
Penekanan pada tindakan Allah yang menciptakan manusia
setelah sebelumnya ia hanya berupa sel benih merupakan suatu metonimia bagi
tindakan-Nya menganugerahi organisme yang (awalnya) rendah dengan apa yang
digambarkan sebagai “nyawa”.
Maka, bukankah Dia mampu menghidupkan kembali orang yang
sudah mati? (Al-Qiyamah [75]: 40)
Demikian terjemahan dan penjelasan Muhammad Asad atas ayat 36-40 surah Al-Qiyamah. []
Baca juga: Kebangkitan (3)

0 Komentar