Kebangkitan (4)

Selanjutnya Allah bertanya, mungkinkah kita datang ke dunia ini tanpa diurus-Nya, tak terurus, atau Dia tak bertanggung jawab atas kita?

Jawabnya, tidak. Dan memang mustahil bagi Allah membiarkan kita tanpa petunjuk, hingga logis  sekira kita pun dimintai pertanggungjawaban, dan sebagainya dan seterusnya.

Maka, apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan sendiri, pergi ke sana kemari sekehendaknya? (Al-Qiyamah [75]: 36)

Yakni, tanpa dimintai pertanggungjawaban moral atas perbuatan-perbuatannya.

Bukankah dia dahulu [hanyalah] setetes air mani yang ditumpahkan, dan kemudian menjadi sel benih—lalu Dia menciptakan dan membentuk[-nya] sesuai dengan apa yang telah ditentukan [baginya], dan menjadikan darinya dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan?  (Al-Qiyamah [75]: 37-39)

Penekanan pada tindakan Allah yang menciptakan manusia setelah sebelumnya ia hanya berupa sel benih merupakan suatu metonimia bagi tindakan-Nya menganugerahi organisme yang (awalnya) rendah dengan apa yang digambarkan sebagai “nyawa”. 

Maka, bukankah Dia mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati? (Al-Qiyamah [75]: 40)

Demikian terjemahan dan penjelasan Muhammad Asad atas ayat 36-40 surah Al-Qiyamah. []

Baca juga: Kebangkitan (3)

Posting Komentar

0 Komentar