Lesley menuturkan, serigala dan hyena tidak sempat melahap mayat-mayat di tanah padang gurun itu. Ya, setelah Shimr dan pasukannya membawa pergi tawanan, para petani dari desa-desa terdekat memberanikan diri keluar, mengubur ke tujuh puluh dua mayat tanpa kepala, dan memberi batu nisan pada tiap-tiap kuburan itu.
Hanya berselang empat tahun kemudian, para peziarah mulai
berdatangan memperingati peristiwa pembantaian itu, dan merekalah yang menamai
pemakaman tersebut Karbala, “tempat ujian hidup dan kesengsaraan”.
Dan dari tragedi Karbala itu, karena apa yang terus bertahan
hidup adalah kisahnya, dan para korban yang selamat yang mengisahkannya—para
wanita dan anak perempuan belia, dan seorang lelaki remaja, Sayyidina Ali
Zaenal Abidin.
Sayyidina Ali Zaenal Abidin, anak bujang tanggung Sayyidina
Hussein, tidak terjun dalam pertempuran itu. Dia tidak bisa bangkit dari tempat
tidur dalam tenda wanita. Karena menderita demam parah, dia tidak bisa berbuat
apa-apa seperti semua teman, kerabat, dan terakhir ayahnya yang keluar dari tenda
untuk menemui ajal mereka.
Jadi ketika Shimr dan pasukannya menyerobot masuk ke dalam
tenda wanita dan menemukannya, remaja belia yang sedang sakit itu pasti menjadi
sasaran empuk dan gampang, dan dia pasti sudah dibunuh sekiranya tidak ada
bibinya, adik perempuan Sayyidina Hussein, Sayyidah Zainab.
“Jangan sampai Setan merenggut keberanianmu,” pesan
Sayyidina Hussein kepada Sayyidah Zainab pada malam terakhir itu, dan kini
saatnya dia buktikan keberaniannya. Dia menghambur dirinya ke atas tubuh
keponakannya itu dan menantang Shimr untuk membunuh dirinya terlebih dahulu
dengan pedangnya. “Jika kau bunuh anak ini, bunuhlah aku bersamanya,” tantang
Sayyidah Zainab.
Untungnya, Shimr kelihatan tidak mampu membunuh cucu Nabi
itu dengan darah dingin. Alih-alih, dia memberi perintah menawannya beserta
semua anggota wanita lainnya. Dan senyatanya kemudian, Sayyidah Zainab
melakukan sesuatu yang lebih daripada semata menyelamatkan nyawa putra
Sayyidina Hussein satu-satunya yang masih hidup. Sayyidah Zainab berhasil menghidupkan
memori peristiwa Karbala itu sendiri. Kata-katanya yang mengungkapkan kesedihan
saat digiring dalam belenggu rantai, pakaiannya yang robek sana sini dan
kepalanya yang tanpa penutup rambut, menghantui umat Islam selama berabad-abad.
“Ya, Muhammad, ya, Muhammad! Semoga malaikat surga
memberkatimu!” ratap Sayyidah Zainab. “Lihatlah putramu Hussein di tempat
terbuka, berlumuran darah dan tubuh yang terbusai. Ya, Muhammad! Anak
perempuanmu kini jadi tahanan, anak-cucumu dibantai, dan angin timur
menyelimuti mereka dengan debu.”
Betul, tak seorang pun di Irak yang mesti diberitahu apa
yang dibawa oleh angin timur itu. Angin yang meniupkan badai pasir membutakan,
ujian dan cobaan kesengsaraan hidup terdalam: pembantaian Sayyidina Hussein
beserta keluarga yang laki-laki dan tujuh puluh dua pengawal setia.
Bahkan prajurit Shimr langsung bertobat saat mendengar
ratapan Sayyidah Zainab, atau setidaknya ada yang mengklaim begitu. “Demi
Allah, dia membuat setiap teman dan musuh ikut menangis,” kenang salah seorang
prajurit Shimr di kemudian hari. Ya, sekalipun para prajurit itu betul-betul
ikut menangis, mereka masih harus mematuhi perintah. Ubaydallah memaksa para
tawanan itu dipermalukan di depan umum dengan mengarak mereka sepanjang kota
Kufah dan, hanya setelah itu selesai, barulah dia mengirim mereka ke khalifah
Yazid di Damaskus, beserta semua penggalan kepala.
Tanpa peduli belenggu rantai yang mengikatnya, pakaian yang
telah robek sana sini, debu dan bilur luka karena telah berjalan kaki sejauh
itu dari Kufah, Sayyidah Zainab berdiri dengan tegap di depan Khalifah Umayyah
dan mempermalukannya di depan umum.
“Kau, ayahmu, dan kakekmu menerima keyakinan agama ayahku
Ali, keimanan saudaraku Hussein, dan keimanan kakekku Muhammad,” tuding
Sayyidah Zainab. “Tetapi nyatanya kau telah mencemari mereka dengan tidak
berlaku adil dan mengingkari apa yang kau betul-betul Imani.”
Menanggapi ini, Yazid seketika menitikkan air mata.
“Sekiranya saya di sana, Hussein tidak akan kubiarkan dibunuh,” sumpahnya,
seraya memberi perintah agar melepaskan semua tawanan dan diperlakukan layaknya
tamu kehormatan dalam rumahnya sendiri.
Syahdan, pada hari keempat puluh setelah peristiwa Karbala,
Yazid memberi jaminan perlindungan kepada semua wanita, gadis belia dan
satu-satunya putra Sayyidina Hussein yang masih hidup, dan memerintah
pengawalan mereka kembali ke Madinah.
Demikian akhirnya Sayyidah Zainab yang dilukiskan Lesley
Hazleton. []

0 Komentar