Tiga minggu seusai meninggalkan Makkah, persisnya setelah pagi 9 September 680, rombongan Sayyidina Hussein bin Sayyidina Ali sampai di Qadisiyah, 20 mil lagi dari Kufah. Sebuah barisan unta yang berjalan lambat karena mereka membawa serta anggota keluarga wanita dan anak-anak, yang hanya dilindungi oleh tujuh puluh dua prajurit bersenjata.
Saat itu, sebagaimana dituturkan oleh Lesley Hazleton,
Sayyidina Hussein yang sudah paruh lima puluhan, bukanlah seorang prajurit
perang ataupun negarawan. Beliau adalah cendekiawan agama terhormat yang
menjelmakan semangat Baginda Muhammad Saw.
Sayyidina Hussein meninggalkan Makkah menuju Kufah, Irak,
karena merespon para utusan dari Kufah. Mereka membawa surat-surat yang memohon
Sayyidina Hussein agar datang ke Irak. Mereka meminta sang cendekia itu supaya
menyelamatkan mereka dari kebrutalan dan kesemena-menaan Yazid dan gubernurnya,
Ubaydallah.
Mereka berharap Sayyidina Hussein bisa merebut kembali
kekhalifahan dan memulihkan jiwa Islam. Dan kemudian sampailah surat yang
paling persuasif dari semuanya, surat dari Muslim, sepupu Sayyidina Hussein,
yang meyakinkan bahwa ia memiliki dua belas ribu pasukan perang yang siap di
belakang beliau.
Namun, dalam tiga minggu itu pun pesan-pesan sebaliknya berdatangan.
Masing-masing pesan memberi peringatan agar berhati-hati menghadapi orang Irak.
Setiap kali pesan peringatan datang, setiap itu pula beliau mengabaikannya.
Dan kemudian datanglah pesan yang sepertinya tidak akan
diabaikan begitu saja. Si pembawa pesan memacu kuda dengan sangat kencang,
sehingga bahkan pada kala senja itu mereka bisa melihat gumpalan debu meski dia
masih beberapa mil jauhnya.
Orang itu muncul bukan dari arah belakang mereka,
sebagaimana semua pembawa pesan sebelumnya, melainkan dari arah depan, bukan
dari Makkah. Rombongan Sayyidina Hussein ini baru akan mendirikan tenda saat si
pembawa pesan itu menghentikan kudanya. Ia turun dan terus melangkah, dan
bahkan menolak saat ditawari minum, saking begitu mendesak pesan yang dia bawa.
Dia membawa pesan dari Muslim, sepupu Sayyidina Hussein,
yang sama sekali tidak bermaksud memperdaya beliau dalam surat sebelumnya, saat
masih di Makkah. Bahwa memang penduduk kota Kufah telah berbondong-bondong
bersetia kepada Sayyidina Hussein sebagai khalifah yang sebenarnya. Mereka
telah bersumpah akan bangkit menggulingkan gubernur pilihan Yazid, Ubaydallah.
Bahkan bersetia dengan memohon Sayyidina Husein agar memimpin mereka menuju
Damaskus, menggulingkan kekuasaan Yazid.
Penduduk Kufah tidak bisa disalahkan, lantaran berharap
Sayyidina Hussein bakal mengakhiri penindasan dan ketidakadilan. Namun, warga
Kufah punya keluarga yang harus mereka jaga, penghidupan yang mereka harus
cari, dan kehidupan yang mereka harus lindungi.
Gubernur mereka, putra Ziyad yang terkenal kebengisannya,
malah lebih bengis lagi. Seperti ayahnya dulu—yang sebenarnya sama saja dengan
semua penguasa tirani di masa kapan pun juga—Ubaydallah sadar bagaimana
berbahayanya Sayyidina Hussein. Dia tidak mungkin membiarkan beliau memasuki
Kufah begitu saja, tidak juga kesempatan Muslim untuk bisa meninggalkan kota
Kufah hidup-hidup.
“Jangan berani-beraninya kalian menantang maut,” ancamnya
kepada warga Kufah. Begitulah, tak seorang pun warga Kufah yang meragukan
ancaman Ubaydallah. Mereka masih mengingat persis bagaimana orang-orang yang
berlaku kritis, lalu disalib di pasar unta, tubuh mereka ditelantarkan di sana
sampai membusuk, rumah mereka dihancurkan, dan keluarga mereka diusir ke gurun
pasir.
Dua belas ribu orang prajurit perang yang telah dengan
lantang dan gagah berani bersumpah akan berperang bersama Muslim di bawah
komando Sayyidina Hussein, ternyata dengan cepat menciut jumlahnya. Dari
menjadi empat ribu orang, berkurang jadi tiga ribu, hingga tinggal beberapa
orang saja. Dan dalam waktu satu hari, akhirnya tinggal Muslim sendirian.
Dia menyelinap dari rumah ke rumah, mengetuk palang pintu
dan memohon perlindungan dari kejaran polisi rahasia Ubaydallah. Tidak pernah
terlintas dalam benaknya akan curiga saat salah satu pintu rumah akhirnya
terbuka, dan tidak pernah dia bayangkan bahwa keluarga itu sebenarnya menerima
Muslim hanya untuk mengkhianatinya.
Ketika mata-mata Ubaydallah menjemputnya malam itu, dia
berhasil membujuk seseorang untuk pergi mencegat Sayyidina Hussein. “Suruh dia
agar kembali!” perintah Muslim. “Beritahu Hussein ternyata orang Kufah telah
membohongi saya dan Hussein juga.”
Si pembawa pesan langsung berangkat bahkan ketika Muslim
sedang digiring dengan rantai ke kediaman gubernur. Sudah dipastikan kematian
Muslim. Ya, malam Senin, 8 September 680, padam sudah harapan segenap warga
Kufah untuk mendapati kemuliaan Islam dari cucu Sang Baginda Rasul.
Pagi hari berikutnya, bersamaan dengan Sayyidina Hussein dan
rombongan kafilah kecilnya bertolak dari Makkah menuju Irak, mayat Muslim tanpa
kepala diarak ke pasar unta dan dipertontonkan agar semua orang bisa lihat.
Itulah kejadian yang dikabarkan si pembawa pesan. Namun,
Sayyidina Hussein tetap kukuh ke Kufah yang tinggal beberapa mil lagi. Beliau
beserta rombongan kecilnya tetap melanjutkan perjalanan, padahal tahu persis
misinya sudah gagal.
Saat bersamaan, Ubaydallah telah mengirim detasemen seratus
orang pasukan berkuda dari Kufah untuk menangkap Sayyidina Hussein hidup-hidup
dan menyatakan sumpah setianya kepada Yazid. Singkatnya, sang komandan berhadapan
dengan Sayyidina Hussein, membujuk beliau sekira tidak berkenan membaiat kepada
Yazid, beliau harus kembali ke Makkah.
“Tidak, demi Allah, saya tidak akan menyerah layaknya
seorang yang terhina ataupun akan melarikan diri seperti seorang budak. Semoga
saya tidak seperti Yazid. Tidak pernah akan saya terima penghinaan atas
kehormatan diri.”
Sayyidina Hussein yang duduk tegap di atas kudanya masih
terus berkata lantang di hadapan sepasukan dari Kufah itu, yang sebagian besar
merupakan penduduk Kufah yang sebelumnya telah bersumpah setia akan bangkit
melawan Yazid di bawah kepemimpinannya.
“Kebaikan dunia ini telah luntur, dan apa yang dulunya baik
sekarang jahat. Tidak bisakah kalian lihat kebenaran tidak ditegakkan lagi?
Kejahatan tidak dilawan lagi? Jika memang demikian, bagi saya hidup dalam
penindasan adalah ujian kehidupan, dan kematian adalah kesyuhadaan.”
Mendengar ini, seratus orang pasukan berkuda itu tertunduk.
Mereka dihadapkan pada dilema yang pelik: satu sisi adalah perintah Ubaydallah,
sisi lain rasa hormat kepada Sayyidina Hussein. Bagaimanapun Sayyidina Hussein
ini adalah anggota terakhir yang tersisa dari Orang-Orang Di Bawah Jubah
Baginda Muhammad. Mereka sadar hal itu.
Dan Sayyidina Hussein pun mengerti betul dilema mereka.
Maka, beliau beserta keluarga dan tujuh puluh dua pengawalnya menempuh
perjalanan ke arah yang paling tidak diharapkan: tidak kembali ke Makkah, juga
tidak terus ke Kufah, tetapi ke utara. Dan, detasemen pasukan dari Kufah itu
pun turut mengiring, lebih seperti pengawalan.
Kala senja, Rabu, hari pertama bulan Muharram, dengan
anggota kafilah wanita dan anak-anak yang kelelahan dan menahan dahaga,
Sayyidina Hussein memberi perintah mendirikan tenda perkemahan di bawah tebing
terjal, tidak jauh dari hamparan ladang dan perkebunan yang dialiri anak sungai
Efrat.
Dua pagi berikutnya, hari ketiga Muharram, perkemahan kecil
itu telah dikepung prajurit perang. Ya, Ubaydallah, setelah menerima kabar
bahwa pasukan yang dikirim untuk menangkap Sayyidina Hussein, tidak
melaksanakan tugasnya, dia mengirim tidak kurang dari empat ribu pasukan
berkuda dan regu pemanah di bawah komando Shimr, panglima perang yang dikenal
luas akan kekejamannya.
Dengan empat ribu orang prajurit perang terlatih melawan
hanya tujuh puluh dua orang, jelas tak sebanding dan tak akan ada yang bisa
lolos. Lagi pula Sayyidina Hussein dan semua orang yang bersamanya tidak
berniat melarikan diri. Mereka merasa telah berada dalam ruang dan waktu yang diberkati
Allah, dalam keabadian dunia pahlawan dan manusia kudus.
Lantas hari-hari berikutnya, satu persatu para pria di pihak
keluarga Sayyidina Hussein, menerobos garis pertempuran. Qasim, keponakan
Sayyidina Hussein, usai melangsungkan pernikahan dengan sepupunya, putri
Sayyidina Hussein, di tenda perkemahan yang dikepung itu, gugur. Ia dengan
pedang di tangan, dikitari sepuluh orang berkuda dari pihak Shimr, dan tak butuh
waktu lama, rubuh kena tebas pedang.
Demikian pula Abbas, saudara tiri Sayyidina Hussein. Juga
Ali Akbar, putra tertua beliau, tersungkur kena sabetan pedang. Dan selanjutnya
bayi Sayyidina Hussein. Yang mana beliau tak kuasa melihat bayinya dehidrasi, membawa
sang bayi serta meminta kepada anak buah Shimr untuk mengasihani anaknya,
supaya diberi air minum. Namun, bukan air minum yang diterima, melainkan anak
panah yang tepat mengenai leher sang bayi. “Ya Allah, Engkau saksi semua ini,
dan terimalah pengorbanan ini!”
Kemudian datanglah malam dari hari terakhir—asyura, hari kesepuluh
Muharram—Sayyidina Hussein memohon kepada pengikutnya yang setia menemani agar
meninggalkan dirinya menjemput takdir. “Kalian semua, dengan ini saya bebaskan
dari ikatan sumpah setia kepada saya, dan kalian tidak ada kewajiban lagi untuk
mematuhi saya. Pulanglah sekarang juga, malam ini juga. Orang-orang Yazid hanya
menginginkan saya. Jika mereka telah menangkap saya, mereka akan berhenti
dengan yang lain. Saya mohon kepada kalian semua, pulanglah ke rumah kalian
masing-masing dan temui keluarga kalian.”
Mereka tak beranjak. Mulut mereka kering, bibir bengkak,
suara serak dan parau karena kehausan. Mereka telah bersumpah tidak akan pernah
meninggalkan Sayyidina Hussein barang sejengkal. “Demi Allah, kami akan tetap
berjuang bersamamu,” ucap salah seorang dari mereka.
Melihat keteguhan mereka, Sayyidina Hussein melepas zirah
rantai pelindung kepalanya dan mengenakan pakaian putih sederhana. Beliau
membakar kemenyan dalam sebuah mangkok dan mengurapi dirinya sendiri dan semua
pengikutnya dengan bau kemenyan itu. Dan semua sadar, mereka sedang diurapi
layaknya mayat, untuk menghadapi kematian.
Dan pagi itu, hari kesepuluh bulan Muharram, 10 Oktober 680,
satu persatu dari ke tujuh puluh dua orang gugur. Tinggal Sayyidina Hussein
yang masih hidup. Beliau berpamitan kepada anggota keluarganya yang wanita,
menaiki kuda putihnya, dan memacunya kencang.
Begitu beliau memasuki garis musuh, beliau disambut hujan
panah, beruntun tak henti-henti. Panah menancap di panggul kudanya, tapi masih
bisa berlari. Dengan terus mengendarai kudanya, Sayyidina Hussein mengayunkan
pedang ke kiri dan kanan. Ya, seorang diri melawan empat ribu prajurit perang.
“Demi Allah, belum pernah saya melihat yang seperti ini,” kenang salah satu
prajurit Shimr.
Tidak berlangsung lama, sebuah anak panah bersarang di bahu
beliau, sehingga beliau terjungkal ke tanah. Ada tiga puluh tiga belati dan
bacokan pedang di seluruh tubuh beliau. Seakan belum cukup, mereka melesak
tubuh yang sudah jadi mayat itu berkali-kali dengan kaki kuda mereka.
Menginjak-injak cucu Baginda Nabi, menyatu dengan debu Karbala.
Prajurit Shimr memenggal kepala Sayyidina Hussein, serta ke
tujuh puluh dua orang prajurit setianya. Mereka memasukkan sebagian besar
penggalan kepala itu ke dalam karung di leher kuda mereka. Terutama sekali
kepala Sayyidina Hussein, Shimr menyuruh pasukannya menusuk penggalan kepala
itu dengan ujung tombak dan mengangkatnya tinggi-tinggi layaknya sebuah piala
kemenangan di depan barisan pasukannya.
Sementara mayat-mayat tanpa kepala itu dibiarkan terlantar
di padang gurun untuk menjadi makanan serigala. Shimr juga menyuruh pasukannya
merantai semua tawanan wanita dan anak-anak, dan menggiring mereka sepanjang
perjalanan menuju Kufah. Mereka berjalan tersandung-sandung di belakang kepala
Sayyidina Hussein.
Begitu sampai di istana gubernur, Ubaydallah tertawa saat
Shimr melempar potongan piala itu ke atas lantai di depannya. Dia bahkan
menusuk kepala itu dengan tongkatnya, memukulnya sampai menggelinding di atas
ubin batu.

0 Komentar