Peristiwa itu terjadi Jumat subuh, 26 Januari 661, pertengahan bulan Ramadhan. Sayyidina Ali sedang berjalan menuju masjid di Kufah untuk shalat subuh. Beliau tidak menyadari seseorang tengah bergerak dalam bayangan pintu masuk utama masjid, sampai akhirnya sebilah pedang berkelebat di atas kepalanya.
Sambaran pedang itu membuat beliau terjatuh. “Jangan sampai
orang itu kabur,” teriak beliau saat jatuh dengan kepala terluka parah. Dan
para jamaah dari dalam masjid berhamburan keluar dan menangkap penyerang
tersebut.
Sayyidina Ali masih tetap sadar sekalipun darah mengucur di
wajahnya, dan orang-orang mulai panik begitu melihat keadaan beliau. “Selama
saya masih hidup, saya akan pertimbangkan apa yang harus saya lakukan terhadap
orang itu. Jika saya mati, maka balaslah dengan sepadan seperti yang dia
lakukan terhadap saya. Namun tidak seorang pun yang boleh dibunuh selain orang
itu!”
Walhasil, penyerang itu dihukum mati di hari berikutnya. Dan
luka Sayyidina Ali memang tidak fatal, tetapi racun yang dioleskan ke mata
pedang itu telah berhasil menuntaskan tugasnya.
Sayyidina Hasan dan Sayyidina Hussein memandikan jasad sang
ayah. Menggosok dengan campuran herbal dan kemenyan, dan mengafaninya tiga
lapis. Kemudian, seperti yang telah Sayyidina Ali pesankan, mereka menaikkan
jasad beliau ke atas unta tunggangan kesayangan dan melepasnya tanpa tali
kendali.
Persis empat puluh tahun silam, Baginda Muhammad Saw. juga
melakukan hal yang sama untuk menentukan di mana masjid akan didirikan di Madinah.
Kini hewan yang disucikan itu juga akan menentukan di mana Sayyidina Ali bakal
dikebumikan. Di mana pun unta itu berlutut, di situlah jasad sang khalifah
keempat beristirahat selamanya.
Sampai setengah hari unta itu terus bergerak, berjalan
seakan tahu beban kesedihan di punggungnya. Akhirnya unta itu berlutut sekitar
enam mil arah timur Kufah, di sebuah gundukan pasir—Najaf dalam bahasa Arab—dan di sana putranya mengubur lelaki yang
akan selamanya dihormati oleh kaum Muslimin.
Pada waktunya kelak, dibangunlah bangunan kuil suci di atas
gundukan pasir kuburan Sayyidina Ali itu, dan daerah sekitar kota Najaf menjadi
berkembang pesat. Bahkan kemudian, pada akhir abad kedua puluh, kota Najaf
telah menjadi sedemikian besar sehingga Kufah kelihatan lebih kecil.
Begitulah Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Beliau telah begitu
banyak berkorban untuk menghindari fitnah,
tapi nyatanya harus terlibat dalam tiga perang saudara. Dari ketiganya, beliau
selalu berjaya—atau nyaris menang mutlak kalau saja semua pasukannya terus
bertempur di Siffin—namun beliau juga tidak mampu melepaskan diri dari perasaan
muak.
Bayangkan, beliau telah menunggu dua puluh lima tahun untuk
memimpin Islam memasuki suatu era persatuan umat yang baru, tetapi nyatanya
malah berhadapan saling bunuh antarsesama Muslim. “Semenjak saya menjadi
khalifah,” tutur Sayyidina Ali kepada sepupunya, “sudah banyak kejadian tiada
henti yang menentang dan berusaha menghancurkan hidupku.”
“Kalau bukan karena keharusan menentang semua tindakan
korupsi dan penindasan,” lanjut beliau, “sudah kubuang tampuk kendali kekuasaan
ini. Karena dunia ini sudah sangat menjijikkan bak ingus kambing yang terus
jatuh meleleh dari hidungnya.”
Kita tengok sejarah, peristiwa terbunuhnya Sayyidina Utsman
bin Affan, juga perselisihannya dengan Bunda Aisyah, bisa dikatakan telah
selesai, tetapi tidak dengan Muawiyah. Dengan Muawiyah sebagai pihak oposisi
Sayyidina Ali, perlawanannya terus berlanjut. Sebagaimana sifatnya, gubernur
Suriah itu terus melemahkan kekuasaan Sayyidina Ali dalam berbagai kesempatan.
“Setelah Perang di Siffin,” sesumbar Muawiyah, “saya akan terus
memerangi Ali, dan kali ini tanpa melibatkan pasukan perang dan upaya apa pun.”
Demikianlah! []

0 Komentar