Nakbah

Memang, sepanjang sejarah, wilayah Kan’an atau Palestina ini telah mengalami invasi asing, tetapi tidak satu pun yang bertujuan untuk mengusir atau memusnahkan penduduk asli.

Bangsa Romawi, Tentara Salib, dan bahkan Inggris sendiri puas dengan mendirikan protektorat bagi diri mereka sendiri dan menduduki negara tersebut untuk mengendalikan dan mengeksploitasi penduduknya.

Namun, Zionis Israel menduduki Palestina dengan mendasarkan pada penggantian rakyat dengan rakyat, dan peradaban dengan peradaban.

Ya, Zionis itu hadir untuk mengusir dan merampas tanah penduduk asli. Bahkan menggenosidanya. Mereka menghancurkan peradaban Bulan Sabit Subur yang spiritual dengan peradaban Barat yang material. Mereka hendak mengganti bangsa Palestina dengan bangsa penjajah Israel yang sebelumnya berdiaspora ke seluruh penjuru dunia, dengan tujuan menghapuskan penduduk asli Arab.

Dengan dalil rasial, Zionis merebut kepemilikan tanah dari warga Palestina yang telah menggarapnya selama empat ribu tahun.

Jadi, ada dua peristiwa yang berjalan berdampingan: Nakbah dan kelahiran Israel. Bedanya, Nakbah adalah penderitaan bagi bangsa Palestina, sedangkan kelahiran Israel merupakan kegembiraan untuk kaum Yahudi Zionis.

Saban 15 Mei, rakyat Palestina memperingati Nakbah sebagai petaka, ketika milisi-milisi Zionis mengusir sekitar 750 ribu orang dari kampung halaman mereka untuk memuluskan jalan bagi pembentukan negara Israel.

Nakbah itulah akhirnya menjadikan penjajahan Israel atas Palestina langgeng sampai sekarang. Pembunuhan, penangkapan, penyiksaan, blokade, penghancuran rumah, perampasan tanah, dan perlakuan tidak manusiawi lainnya terhadap rakyat Palestina merupakan pemandangan lazim.

Bermula dari Deklarasi Balfour pada 1917, ketika pemerintah Inggris menjanjikan kepada para pemimpin Zionis untuk membantu mendirikan sebuah negara bagi bangsa Yahudi.

Sehabis mencaplok Yerusalem dari Kesultanan Usmaniyah di akhir Perang Dunia Pertama (1914-1918), Inggris memerintah Palestina selama 1923-1948. Spanjang itu pula, rakyat Palestina ditindas, gelombang imigran Yahudi dari Eropa berdatangan, serta kelompok-kelompok Zionis dilatih berperang dan dipersenjatai.

Waktu Inggris akan memutuskan untuk mengakhiri mandatnya di Palestina pada 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa gagal membentuk pemerintahan sementara di Palestina. Milisi-milisi Zionis mulai menyerang rakyat Palestina sebagai sebuah upaya sistematis untuk mengusir mereka dari tanah kelahiran sendiri.

Dari Desember 1947 hingga 14 Mei 1948, milisi-milisi Zionis menghancurkan 200 desa dan mengusir 175 ribu orang Palestina.

Sehabis mencaplok 20 persen tanah Palestina, termasuk wilayah-wilayah strategis, para pemimpin Zionis mengumumkan berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948. Negara Zionis ini melanjutkan penghancuran 300 desa lainnya dan memaksa 600 ribu orang Palestina keluar dari kampung halaman mereka.

Kemudian Perang Arab-Israel berakhir pada Juli 1949. Saat itu, Israel sudah merampas 78 persen wilayah Palestina. Pasukan Zionis membunuh sekitar 13 ribu orang Palestina, termasuk melakukan sedikitnya 30 pembantaian, menghancurkan 530 desa dan kota, serta mengusir 750 ribu rakyat Palestina.

Sekitar 150 ribu orang Palestina tetap tinggal di dalam wilayah sudah menjadi negara Israel dan banyak menjadi pengungsi di wilayah Palestina sendiri.

Rakyat Palestina terusir dari kampung halaman dan keturunan mereka saat ini berjumlah sekitar 5,8 juta dan mengungsi di negara-negara Arab tetangga.

Sebanyak 2,3 juta orang Palestina tinggal di sepuluh kamp di Yordania, 1,5 juta orang menghuni delapan kamp di Jalur Gaza, 900 ribu orang menetap di 19 kamp di Tepi Barat, 500 ribu orang bermukim di 12 kamp di Suriah, dan 200 ribu pengungsi Palestina lainnya hidup di 12 kamp di Libanon.

Kini, mata kita makin terbelalak. Betapa Zionis seolah pantang jenuh terus saja menghabisi warga yang masih bertahan di Tepi Barat. Dan, kemungkinan pula, berkat uluran tanpa batas dari Trump, sepertinya Netanyahu seperti tak sabar menunggu selesai gencatan senjata, untuk mengujicobakan senjata mutakhir Amerika Serikat guna menerakakan Jalur Gaza.

Ah, entahlah! Akan sampai kapan genosida semenjak peristiwa Nakbah itu berlangsung? Akankah Palestina bernasib sebagaimana Amerika dan Australia yang penduduk aslinya dihabisi?

Ungaran, 2 Juni 2026  

Posting Komentar

0 Komentar