Makan dan Bersyukur

Orang yang Beriman (3)

Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik segala yang Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika hanya Dia yang kamu sembah. (Al-Baqarah [2]: 172)

Inilah seruan yang ketiga dalam surah Al-Baqarah kepada kaum beriman, pertama, sedianya memakan makanan yang baik, bukan yang diharamkan. Dan, makanan yang baik adalah rezeki yang halal, segala yang dihalalkan Allah.

Sementara, segala yang diharamkan Allah sudah pasti buruk. Maka, jika kita melihat sesuatu yang diharamkan, tak usah tergesa mengatakan, “Mengapa Allah menciptakan sesuatu yang haram ini?” Tunggu masanya, pasti terkuak.

Adapun perintah kedua dalam seruan yang memerintahkan kita untuk memakan makanan yang baik dan dihalalkan adalah bersyukur kepada-Nya.

Kesadaran bahwa Dia adalah Dzat yang melimpahkan rezeki, dan mengarahkan kita untuk bersyukur, seandainya kita memang ingin menyembah Allah semata.

Oleh karenanya, wahyu tersebut menuntun kaum beriman bahwa syukur itu adalah bagian dari ibadah dan ketaatan hamba kepada Allah.

Dan beragam pendapat mengenai makna syukur. Sahl bin Abdullah berkata, “Syukur adalah bersungguh-sungguh dalam mencurahkan ketaatan disertai dengan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, baik secara diam-diam ataupun terang-terangan.”

Al-Junaid berpendapat, “Syukur adalah engkau memandang dirimu belum memiliki kapabilitas untuk mengolah nikmat.”

Asy-Syibli berkata, “Syukur adalah merendahkan diri dan senantiasa mengerjakan segala bentuk kebajikan, menantang hawa nafsu, mencurahkan ketaatan, dan merasa diawasi oleh Dzat Yang Mahaperkasa di langit dan di bumi.”

Lantas, bagaimana mensyukuri nikmat?

Sekira Allah melimpahkan nikmat kepada kita, dan kita menginginkan nikmat itu langgeng, maka perbanyak pujian dan mensyukuri nikmat tersebut. Allah berjanji, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.” (Ibrahim [14]: 7).

Rasa syukur atas kedua mata, dengan menjaga pandangan. Rasa syukur atas kedua tangan adalah dengan memberikan bantuan dan shadaqah. Rasa syukur atas kedua kaki, dengan menjenguk orang sakit, mengiring jenazah, dan seterusnya, dan sebagainya.

Kemudian, seandainya rezeki kita itu seret, maka perbanyak memohon ampun, karena Allah berfirman, “Mohon ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh [71]: 12).

Demikian! []

Baca juga: Sabar dan Shalat 

Posting Komentar

0 Komentar